Kehadiran kecerdasan buatan (AI) terbukti mengubah lanskap industri teknologi secara drastis, tetapi proses transisi ini tidak berjalan mulus.
Berdasarkan analisis terbaru dari perusahaan penyedia talenta teknologi Andela, hampir 50.000 lowongan kerja teknologi di pasaran terbukti salah kaprah, di mana judul posisi yang diiklankan tidak sesuai dengan keahlian yang dicari perusahaan.
Dari lebih dari 1.800 lowongan untuk posisi seperti AI engineer, machine learning engineer, dan jabatan serupa lainnya, kebanyakan lowongan mencampur aduk keahlian dari dua pekerjaan yang berbeda.
Keahlian itu meliputi orkestrasi model bahasa besar (large language models / LLM), arsitektur agen otonom, hingga perancangan basis data vektor (vector database).
Fenomena itu menunjukkan bahwa industri teknologi sedang menciptakan posisi pekerjaan baru lebih cepat daripada kemampuan pasar dalam menamai atau menyelaraskan keterampilan yang dibutuhkan.
Andela mencatat sejumlah peran dan gabungan keahlian baru, salah satunya adalah “insinyur aplikasi LLM” (LLM application engineer) yakni figur AI engineer modern yang berfokus membangun aplikasi di atas model fondasi (foundation models), bukan melatih model tersebut dari nol.
”Perusahaan-perusahaan mengatakan, ‘Saya perlu merekrut seorang AI engineer,‘ tetapi itu adalah istilah yang sangat luas,” ujar Cory Hymel (Kepala Riset di Andela) seperti dikutip dari Channel Dive.
”Mereka mencari keahlian yang tidak sesuai dengan peran back-end engineering pada umumnya. Akibatnya, mereka menempatkan orang di posisi yang keliru, karena tidak ada yang benar-benar tahu apa keahlian dasar yang dibutuhkan dan bagaimana menamakannya,” imbuh Hymel.
Ketika Keahlian Melebur, Lahirlah Jabatan-Jabatan Baru
Bahwa AI sedang mengubah pasar kerja adalah hal yang tidak terbantahkan, meski wujud perubahannya sering kali masih kabur. Selama ini, narasi seputar disrupsi AI kerap diwarnai asumsi umum dan anekdot tanpa dasar data yang kuat.
”Banyak sekali perbincangan bahwa AI menghapus pekerjaan atau mengubah pekerjaan, tetapi hal itu masih bersifat mengambang dan anecdotical,” kata Hymel.
“Jika pekerjaan-pekerjaan ini berubah, pekerjaan mana yang sebenarnya berubah?. Dan apa perubahan keterampilan mendasar yang memicu keresahan di pasar ini?” ucapnya.
Analisis Andela menemukan bahwa deskripsi pekerjaan untuk manajer produk (product managers), front-end dan back-end engineer, pengembang, serta jabatan konvensional lainnya mulai bergeser dan saling tumpang tindih. Sebagai contoh, para insinyur pembelajaran mesin (machine learning engineers) kini diminta menguasai keterampilan arsitek perangkat lunak atau back-end engineer, sedangkan para ahli DevOps diwajibkan memahami bidang cloud engineering.
Perkembangan signifikan juga terjadi pada ranah front-end engineering. Perusahaan kini menuntut fleksibilitas yang lebih tinggi dari para pengembang antarmuka pengguna.
”Perusahaan mendorong para front-end engineer untuk memiliki keterampilan lunak (soft skills) yang lebih baik serta mampu mendefinisikan dan mengembangkan fitur,” jelas Hymel.
“Mereka ingin para front-end engineer ikut merambah peran manajemen produk,” ucapnya.
Hymel mendefinisikan persyaratan yang terus berkembang dan saling beririsan ini sebagai “peleburan keahlian” (skill bleeds). Analisis deskripsi pekerjaan itu juga mendorong timnya mengidentifikasi beberapa peran baru yang mulai bermunculan, seperti DevSecOps security engineer, docs-as-code engineer, dan lakehouse analytics engineer.
Satu lagi posisi baru yang muncul adalah FinOps reliability engineer. Peran itu dirancang untuk individu yang mampu melacak biaya infrastruktur cloud secara berdampingan dengan penganggaran konsumsi token, melakukan peramalan dan pemodelan biaya untuk sistem berbasis AI.
Jebakan “Utang Talenta” di Perusahaan
Evolusi judul pekerjaan yang begitu cepat kerap menjadi tantangan tersendiri bagi para pencari kerja. Di masa lalu, perusahaan merekrut individu dengan keahlian yang relevan untuk jangka panjang sepanjang karier mereka. Namun kehadiran AI membuat sejumlah keterampilan menjadi usang dalam waktu singkat.
”Laju teknologi dan keterampilan yang dibutuhkan matang begitu cepat sehingga para pemberi kerja mulai mengumpulkan utang talenta dengan cara yang belum pernah mereka hadapi sebelumnya. Dampaknya, itu bermanifestasi ke dalam perubahan pekerjaan,” ungkap Hymel.
Kendati demikian, Hymel mengingatkan agar perusahaan menghindari respons reaktif seperti melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) secara massal.
Menurutnya, data menunjukkan adanya kebutuhan nyata dari kalangan korporasi terhadap area pekerjaan baru yang saat ini masih sulit dijabarkan atau dituangkan ke dalam bentuk lowongan pekerjaan.


