

Langkah IKEA menjadi antitesis dari kekhawatiran umum bahwa adopsi AI hanya bertujuan mengeliminasi pekerjaan.
Sebaliknya, raksasa furnitur itu membuktikan bahwa otomasi mampu membentuk ulang peran karyawan tanpa harus menghilangkannya dari ekosistem perusahaan.

Laporan terbaru dari platform pengalaman karyawan, Culture Amp mengungkap adanya kesenjangan ekspektasi yang mengkhawatirkan antara manajemen puncak dan staf operasional.

Keberhasilan tersebut bergantung pada seberapa cepat perusahaan mampu membenahi “rumah” digitalnya. Tanpa landasan cloud yang matang, visi AI yang transformatif hanya akan menjadi tumpukan investasi tanpa hasil nyata.

Bagi para pemimpin teknologi (CIO), efisiensi itu bukanlah jaminan penghematan anggaran. Sebaliknya, biaya operasional justru berpotensi membengkak.

Menariknya, kelesuan laju konstruksi itu bukan disebabkan oleh surutnya minat pasar. Faktanya, tingkat kekosongan (vacancy rate) pusat data menyentuh titik terendah sepanjang sejarah yakni hanya 1,4 persen. Lantas, apa yang menjadi penghambat utama?, jawabannya terletak pada kendala struktural infrastruktur fisik.

Laporan terbaru firma analis Omdia mengungkap angka yang mencengangkan. Belanja infrastruktur cloud global menyentuh USD110,9 miliar atau setara Rp1.870 triliun pada kuartal penutup 2025.
WhatsApp us