Bukan Membantu, AI Justru Menambah Beban Kerja Karyawan?

​Di balik narasi besar mengenai peningkatan efisiensi, realita penerapan kecerdasan buatan (AI) di tempat kerja ternyata menyimpan ironi.

Meski karyawan diklaim berhasil menghemat waktu rata-rata 11 jam per minggu berkat otomatisasi, sebagian besar waktu tersebut justru “terbakar” kembali untuk pemeliharaan serta pengelolaan alat-alat AI itu sendiri.

​Temuan ini dipaparkan dalam laporan perdana Work AI Index dari Work AI Institute milik Glean, yang melakukan survei terhadap 6.000 pekerja digital dan menggali wawasan dari berbagai pemimpin industri AI.

Produktivitas yang Semu

​Secara statistik, sebanyak 75 persen pekerja pengetahuan (knowledge workers) yakin bahwa AI mampu meningkatkan produktivitas mereka.

Namun, optimisme ini tidak berbanding lurus dengan hasil bisnis yang nyata. Tercatat hanya 13 persen responden yang menyatakan bahwa adopsi AI memberikan peningkatan performa signifikan bagi perusahaan secara keseluruhan.

​Masalah utamanya terletak pada alokasi waktu. Berdasarkan data Glean, hanya 27 persen dari total waktu interaksi dengan AI yang digunakan untuk membangun agen AI atau mempelajari inovasi baru. Selebihnya, waktu karyawan habis terkuras untuk tugas-tugas administratif teknis yang tidak produktif.

​Beban Kerja Baru yang Tersembunyi

​AI memang meringankan beban tugas manual, tetapi karyawan justru terjebak dalam pekerjaan “berisiko rendah” yang menyita waktu.

Kini para karyawan dibebani kewajiban memberikan konteks pada agen AI, memverifikasi hasil, menandai kesalahan, hingga melakukan pembersihan data agar output yang dihasilkan layak pakai.

​Rata-rata, pekerja menghabiskan hampir 6,5 jam per minggu hanya untuk tugas pemeliharaan ini. Dampaknya cukup mengkhawatirkan yaitu tugas pengawasan yang repetitif rentan memicu human error.

Jika karyawan mulai lengah dalam meninjau hasil, fenomena yang dilakukan oleh 69 persen responden itu mengungkapkan kesalahan fatal berpotensi lolos dan masuk ke alur kerja utama perusahaan. ​

Rebecca Hinds (Kepala Work AI Institute di Glean) mengkritik keras pendekatan perusahaan yang terlalu berorientasi pada angka.

​“Terlalu banyak perusahaan memperlakukan adopsi AI sebagai metrik kesombongan (vanity metric), mengejar jumlah kursi (lisensi), jumlah prompt, dan frekuensi penggunaan,” ujarnya.

​Menurut Hinds, volume penggunaan AI tidak serta-merta mencerminkan transformasi teknologi yang nyata. Faktanya, untuk setiap satu jam yang dihabiskan karyawan mendapatkan hasil dari AI, karyawan harus menghabiskan satu jam untuk melakukan perbaikan supaya hasil tersebut bisa digunakan.

Bahkan, lebih dari sepertiga sesi AI berakhir dengan kegagalan, memaksa karyawan mengulang tugas dari awal secara manual.

​Strategi Menuju Adopsi yang Efektif

​Hinds memperingatkan bahwa tanpa strategi yang bijak, perusahaan justru menciptakan beban kerja baru, bukan menghapusnya. Agar AI memberikan dampak positif, perusahaan harus beralih dari sekadar “menggunakan AI” menjadi “mengintegrasikan AI” ke dalam alur kerja yang nyata.

​Keberhasilan, menurut laporan tersebut, bergantung pada pembangunan infrastruktur manusia yang solid. Perusahaan yang sukses adalah mereka yang mampu:

  • ​Memberikan pelatihan konkret mengenai penggunaan AI beserta batasan-batasannya (guardrails).
  • ​Merespons shadow AI (penggunaan AI tanpa izin resmi) sebagai indikator bahwa alat resmi perusahaan masih belum memadai.
  • ​Menginvestasikan kembali waktu yang dihemat dari AI ke dalam pekerjaan yang lebih humanis dan berkualitas, bukan sekadar memaksakan frekuensi penggunaan.

Pada akhirnya, kunci keberhasilan AI terletak pada fondasi yang kuat di level individu, tim, hingga organisasi.

​”Saat didasarkan pada konteks yang tepat, diukur berdasarkan hasil nyata, dan dikelola dengan cara yang membantu karyawan bergerak lebih cepat tanpa menurunkan standar kualitas, itulah kunci suksesnya,” tutup Hinds.

Baca Juga

Strategi IKEA Mengubah Chatbot AI Menjadi Mesin Pendapatan Triliunan

Pada akhirnya, IKEA membuktikan bahwa AI bukanlah ancaman yang akan menggantikan peran manusia. Bagi organisasi yang tepat, AI justru menjadi alat untuk memperluas cakrawala, menantang para pemimpin untuk mengambil tanggung jawab lebih besar, dan membangun bisnis dengan cara yang jauh lebih bernilai.