Di tengah pesatnya perkembangan agentic AI yang menjanjikan transformasi fundamental, para Chief Information Officer (CIO) kini dihadapkan pada tantangan krusial yaitu bagaimana menerapkan teknologi AI ini secara bermakna dan terukur di dalam organisasi.
CEO Info-Tech Tom Zehren mengatakan kunci keberhasilan adopsi agentic AI melampaui sekadar aspek teknis. Menurutnya, kesuksesan merupakan akumulasi dari empat pilar utama yaitu strategi bisnis yang matang, keamanan data yang terjamin, anggaran yang terencana, serta dukungan penuh dari seluruh elemen karyawan.
“Ada jurang pemisah antara penciptaan nilai AI di satu sisi, dengan tata kelola (governance) dan manajemen risiko AI di sisi lain,” ujar Zehren seperti dikutip CIO Dive.
Kesenjangan ini kerap membuat banyak organisasi ragu bahkan cenderung melambat dalam mengadopsi AI karena kekhawatiran akan risiko kegagalan.
Padahal, jika dikelola dengan tepat, AI menawarkan potensi nilai tambah yang signifikan. Data survei Info-Tech menunjukkan bahwa lebih dari sepertiga organisasi telah mengintegrasikan tata kelola AI ke dalam strategi TI reguler mereka.
Fakta menarik lainnya, organisasi dengan strategi AI khusus memiliki peluang tiga kali lipat lebih besar untuk merealisasikan manfaat investasi mereka dibandingkan yang tidak memilikinya.
Empat Pilar Kerangka Kerja Strategis
Untuk membantu pemimpin teknologi menavigasi kompleksitas ini, Info-Tech merumuskan kerangka kerja empat langkah sebagai panduan praktis:
1. Membangun Fondasi AI: Perusahaan wajib menetapkan mandat internal yang komprehensif, mencakup literasi AI, model operasional, kerangka anggaran, dan struktur kepemilikan yang jelas.
2. Optimasi Proyek: Fokus pada penggunaan data yang bersih dan arsitektur yang cerdas. Integrasikan kemitraan strategis serta pendanaan yang tangkas (agile funding) untuk memastikan keberlanjutan jangka panjang setiap inisiatif.
3. Skala dan Eksperimen Aman: Ciptakan lingkungan sandbox yang ramah bagi karyawan. Fase ini berfungsi melatih “otot tata kelola” yang telah dibentuk, sekaligus menjadi ajang pengujian batas kemampuan dan nilai dari sistem yang dikembangkan.
4. Pembuktian Nilai: Tahap krusial untuk melacak manfaat nyata, melakukan penskalaan prototipe, serta mengumpulkan wawasan mendalam. Di sini, organisasi memutuskan apakah sebuah proyek perlu dihentikan atau justru mendapatkan investasi lanjutan.
CIO sebagai Orkestrator Transformasi
Zehren menekankan bahwa tim yang paling sukses adalah mereka yang mampu menjembatani teknologi dengan alur kerja bisnis, logika organisasi, dan dinamika tim. Terkait manajemen sumber daya manusia di tengah disrupsi ini, ia memberikan saran yang lugas.
”Saran kami adalah jangan pecat separuh tim Anda, jangan kurangi kapasitas TI secara besar-besaran. Alihkan fungsinya,” tegasnya.
Peran CIO kini mengalami pergeseran paradigma; dari sekadar pengelola infrastruktur menjadi manajer sekaligus orkestrator perombakan sistem berskala besar. Tanggung jawab mereka meluas, mencakup pengukuran hasil bisnis, akselerasi transformasi digital, manajemen data, hingga pengembangan produk.
Evolusi peran ini sekaligus membuka peluang karier yang lebih luas bagi para pemimpin teknologi. Merujuk pada laporan Deloitte, Zehren mencatat bahwa 67 persen CIO kini memiliki aspirasi untuk menempati posisi CEO.
”Para CIO harus melangkah maju untuk menjadi pemimpin TI eksponensial dan benar-benar mendorong nilai eksponensial bagi organisasi menggunakan teknologi ini,” tutup Zehren.
“Jika Anda melakukan itu, banyak jalur karier baru yang akan terbuka bagi Anda,” ucapnya.


