Gaji Bisa Naik 30 Persen, Skill Digital Ini Makin Diburu di Singapura

​Kemampuan digital kini menjelma menjadi salah satu faktor penentu utama dalam mendongkrak pendapatan di Singapura.

Berdasarkan riset terbaru Indeed Hiring Lab dan Asian Development Bank (ADB), pekerja yang memiliki keterampilan digital tingkat lanjut dapat menikmati selisih upah yang signifikan. Riset itu mencatat adanya wage premium mencapai 30,1 persen dibandingkan rekan kerja di posisi serupa dengan kecakapan digital yang lebih rendah.

​Penelitian yang membedah lowongan pekerjaan dari kurun waktu 2019 hingga 2024 ini menunjukkan bahwa insentif finansial dari penguasaan teknologi telah merata ke seluruh sektor. Keuntungan ini tidak lagi menjadi monopoli mereka yang berkarier di bidang teknologi murni.

Jenjang Keahlian dan Imbasnya pada Pendapatan

​Para periset menemukan pola linier antara tingkat kemahiran digital dan besaran gaji. Pekerjaan yang menuntut keterampilan digital tingkat menengah mencatatkan premi upah sebesar 12,1 persen.

Sementara itu, posisi yang hanya membutuhkan kemampuan dasar tetap memberikan gaji 4,6 persen lebih tinggi dibanding peran serupa tanpa syarat digital.

​Berbeda dari riset terdahulu yang kerap mengaitkan gaji tinggi hanya dengan profesi berbasis teknologi, analisis anyar itu membandingkan lowongan dalam jabatan dan perusahaan yang sama. Variabel pengganggu seperti lokasi, struktur gaji, dan persyaratan kerja lainnya telah dikontrol secara ketat.

​Hasilnya mengonfirmasi bahwa perusahaan memberikan apresiasi finansial langsung terhadap kompetensi digital individu bukan sekadar membayar mahal label posisi teknologinya.

​Dalam studi ini, keterampilan digital diklasifikasikan ke dalam tiga tingkatan:

  1. ​Tingkat Dasar: Penggunaan surel (email), lembar kerja elektronik (spreadsheets), dan perangkat lunak perkantoran umum.
  2. ​Tingkat Menengah: Sistem manajemen hubungan pelanggan (CRM), analisis data, pembuatan dasbor (dashboards), hingga manajemen konten digital.
  3. ​Tingkat Lanjut: Pemrograman, kecerdasan buatan (AI), machine learning, dan manajemen sistem teknologi informasi (IT).

​Jurang perbedaan gaji terbukti melebar seiring tingginya kompleksitas digital yang dibutuhkan. Keterampilan tingkat lanjut menghasilkan premi upah yang melonjak hingga lebih dari enam kali lipat dibanding kemampuan dasar.

Dari Keuangan hingga Industri Kreatif

​Laporan ini turut menyoroti dominasi AI di pasar tenaga kerja. Dari enam negara yang diteliti Singapura, Australia, India, Malaysia, Filipina, dan Korea Selatan, Singapura mencatatkan tingkat permintaan tertinggi untuk keahlian berbasis AI.

​Permintaan terhadap kemampuan pemanfaatan AI pada pekerjaan tingkat menengah dan lanjut meroket lebih dari dua kali lipat dalam rentang 2019–2024.

Menariknya, kualifikasi ini mulai menembus luar sektor teknologi. Bidang perbankan, keuangan, asuransi, layanan hukum, teknik industri, ilmu sosial, hingga industri kreatif kini kompak menyisipkan kompetensi AI dalam syarat perekrutan mereka.

​Meskipun pengembangan inti AI masih terkonsentrasi di ranah teknis, kemampuan mengoperasikan perangkat AI telah bergeser menjadi keahlian wajib di tempat kerja secara umum.

​”Keterampilan digital menjadi semakin penting di seluruh pasar tenaga kerja, tidak hanya pada pekerjaan yang intensif teknologi,” ujar Silvia Garcia Mandico (Ekonom Asian Development Bank) sekaligus salah satu penulis studi tersebut.

“Hasil riset kami menunjukkan perusahaan memberikan premi upah yang jelas untuk keterampilan ini. Bahkan saat membandingkan pekerjaan yang sejenis, dan premi tersebut meningkat seiring dengan tingkat kecakapan digital,” ujarnya.

​Senada dengan hal tersebut, Yusuke Aoki selaku Ekonom di Indeed Hiring Lab menambahkan bahwa pasar tenaga kerja saat ini semakin menghargai kontribusi nyata seseorang dalam memanfaatkan teknologi, alih-alih sekadar melihat divisi tempat mereka bekerja.

​”Seiring dengan terintegrasinya AI di lebih banyak tempat kerja, kemampuan untuk menerapkan perangkat digital dan AI secara efektif kemungkinan besar akan menjadi semakin penting dalam jalur karier baik yang bersifat teknis maupun non-teknis,” ungkap Aoki.

​Prospek Transformasi Digital Masa Depan

​Secara metodologis, laporan ini menganalisis sekitar enam juta lowongan pekerjaan dari platform Indeed di kawasan Asia-Pasifik.

Tim peneliti memanfaatkan model AI untuk mengklasifikasikan persyaratan keterampilan digital serta mengkaji dampak langsungnya terhadap penawaran gaji.

​Temuan komprehensif ini kian memperkokoh langkah strategis Singapura dalam mendorong transformasi digital nasional. Di tengah percepatan adopsi AI, upaya peningkatan keterampilan (upskilling) secara berkelanjutan dipastikan memegang kemudi utama dalam menentukan peluang karier serta tingkat pendapatan tenaga kerja di masa depan.

Baca Juga

Begini Cara CIO Membangun Literasi AI

​Berdasarkan data perusahaan riset global Gartner, hanya 21 persen eksekutif C-suite yang menilai rekan-rekan sesama pemimpin bisnis memiliki pemahaman yang mumpuni atau “cakap AI”