Gandeng OpenAI, IBM Akselerasi Adopsi AI di Ranah Korporasi

​IBM resmi mengumumkan kerja sama strategis dengan OpenAI untuk mempercepat transformasi kecerdasan buatan (AI) di kalangan perusahaan global.

Aliansi itu tidak hanya mengintegrasikan model terdepan, tetapi juga menghadirkan para insinyur terbaik OpenAI langsung ke dalam lini layanan konsultasi IBM.

​Melalui kemitraan tersebut, IBM menyematkan produk mutakhir seperti ChatGPT dan Codex ke dalam platform layanan konsultasi AI miliknya, IBM Consulting Advantage. Langkah itu juga dibarengi dengan perluasan kolaborasi kedua perusahaan di sektor keamanan siber.

​Fokus Sektoral dan Pilar Kemitraan

​Inisiatif bersama itu mencakup pengembangan produk khusus untuk sektor jasa keuangan, pemerintahan, telekomunikasi, dan ritel.

Solusi yang dihadirkan turut menyasar fungsi-fungsi krusial korporasi, mulai dari keuangan, pengadaan barang (procurement), operasional pelanggan, hingga sumber daya manusia (HR).

​Sebagai bagian dari kesepakatan, IBM bergabung dengan Jaringan Mitra OpenAI (OpenAI Partner Network) dan mendirikan unit praktik khusus guna menargetkan sertifikasi bagi ribuan konsultan serta insinyurnya. Secara garis besar, kerja sama ini bertumpu pada tiga pilar utama:

  1. ​Membantu organisasi mentransformasi bisnis agar mampu mengintegrasikan AI ke dalam operasional harian.
  2. ​Mendukung klien memodernisasi aplikasi warisan (legacy applications) lewat kombinasi produk OpenAI dan keahlian IBM.
  3. ​Memperluas kolaborasi keamanan siber yang memadukan kapabilitas AI mutakhir OpenAI dengan sistem IBM Autonomous Security.

​Dinamika Industri dan Pandangan Analis

​Langkah strategis itu mencerminkan tren yang kian marak di ranah teknologi. Saat ini berbagai perusahaan berbondong-bondong mengerahkan insinyur terbaiknya untuk membantu korporasi membangun sistem di sekitar model AI mereka.

​OpenAI belum lama ini meluncurkan inisiatif OpenAI Deployment Company, berselang sepekan setelah langkah serupa diambil oleh Anthropic. Raksasa teknologi awan seperti Microsoft dan AWS pun turut meramaikan persaingan ketat ini.

​Kendati demikian, Analis Utama Info-Tech Research Group Mark Tauschek menilai fenomena tersebut kini telah bertransformasi menjadi standar dasar di industri.

​”Ini sudah menjadi standar industri. Kini firma-firma konsultan sedang memilih jagoannya masing-masing. Anthropic punya mitra, Microsoft punya mitra, dan tentu saja OpenAI juga punya,” ujarnya.

​Tauschek menjelaskan, korporasi nantinya akan cenderung memilih firma konsultan yang bekerja sama dengan vendor AI pilihan mereka. Ia juga mencatat bahwa Microsoft sempat memegang keunggulan awal karena mampu mengerahkan ribuan insinyur garda depan (FDE) terampil dalam waktu singkat. ​

“Persaingan ini seperti perlombaan kuda pacu, akan sangat ketat,” pungkasnya.

Baca Juga

Begini Cara CIO Membangun Literasi AI

​Berdasarkan data perusahaan riset global Gartner, hanya 21 persen eksekutif C-suite yang menilai rekan-rekan sesama pemimpin bisnis memiliki pemahaman yang mumpuni atau “cakap AI”

Tujuh Kesalahan Strategis CIO Saat Menerapkan Agen AI

Perusahaan membutuhkan model operasional yang merangkul seluruh siklus hidup berkelanjutan mulai dari tahap pengiriman, penerapan, pengujian akurasi, penyerapan umpan balik, hingga pembenahan sistem secara berkala.