Perusahaan besar kini mengakselerasi adopsi agentic AI jauh lebih cepat dibanding perusahaan kecil. Temuan itu terungkap dalam laporan terbaru McKinsey yang dirilis pekan ini, berdasarkan survei terhadap lebih dari 1.700 karyawan lintas industri.
Temuannya cukup mengejutkan. Perusahaan yang sudah masuk fase skala agentic AI mulai memanfaatkan coding tools untuk menggantikan pembelian perangkat lunak.
Hampir sepertiga responden mengaku membatalkan pembelian setidaknya satu fitur software karena mereka sudah mampu membangunnya sendiri secara internal.
Padahal, tools berbasis agen AI butuh komputasi yang lebih besar dan harganya lebih mahal. Namun para pemimpin teknologi tetap melihat nilainya.
“Kini perusahaan mau jor-joran investasi AI sambil mencari cara biar investasinya balik modal,” kata Michael Chui, co-author laporan tersebut dan senior fellow di QuantumBlack AI by McKinsey.
Paradoks di Balik Jor-jorannya Investasi AI
Laporan McKinsey menggambarkan sebuah paradoks di dunia korporat. Di satu sisi, AI diadopsi untuk menghemat waktu dan biaya.
Di sisi lain, sebagian besar organisasi masih kesulitan merealisasikan Return on Investment (ROI). Ironisnya, ketidakjelasan itu tidak menghentikan laju investasi.
Empat dari lima responden menyebut AI telah meningkatkan produktivitas walaupun dampak finansialnya belum terasa. Proporsi karyawan yang melaporkan adanya penghematan biaya berkat AI masih stagnan, tidak berubah dibanding tahun lalu.
Di tengah fluktuasi biaya operasional AI, kini organisasi yang paling vokal sekalipun kini dituntut lebih sadar anggaran. Satu dari lima responden mengaku perusahaannya membatasi penggunaan AI karena alasan biaya.
Meski begitu, 28 persen responden menyebut perusahaannya akan menghabiskan lebih dari 10 persen dari total anggaran teknologi informasi dan komunikasi untuk AI.
Dari Beli ke Bikin Sendiri: Strategi Baru Kelola Anggaran IT
Fenomena ini terjadi di tengah gelombang pemutusan hubungan kerja di industri teknologi tahun ini. Namun secara keseluruhan jumlah peran di industri tetap stabil. Pasar tenaga kerja kini justru lebih memihak pada pekerja yang cakap AI.
Laporan McKinsey menemukan dua pertiga perusahaan bahkan mengalami sedikit atau tidak ada perubahan terkait AI dalam struktur tenaga kerjanya.
Menurut McKinsey, kunci mengelola belanja IT secara optimal adalah bersikap lebih deliberatif. Perusahaan harus jeli memutuskan kapan harus membeli dan kapan harus membangun sendiri.
“Kini perusahaan benar-benar menghitung biaya operasional sejak awal perencanaan, bukan dipikirkan belakangan. Mereka juga mengubah alur kerja secara mendalam agar investasi AI benar-benar menghasilkan nilai,” kata Lieven Van der Veken (Senior Partner di McKinsey).
Peran Developer Berubah, Chatbot Jadi Biaya Wajib Kantor
Pergeseran ini juga mengubah peran developer. Jika dulu mereka menulis kode dari nol, kini mereka lebih banyak mengelola output yang dihasilkan AI.
Pada akhirnya, cara perusahaan memandang belanja AI pun ikut berubah.
“Kini pengeluaran AI seperti chatbot dianggap sebagai biaya operasional wajib, layaknya software kerja di kantor. AI juga bikin anggaran IT berubah. Berkat tools coding AI, perusahaan kini bisa bikin software sendiri tanpa harus beli dari luar,” pungkasnya.


