Transformasi digital bukan sekadar soal kecanggihan sistem, melainkan tentang bagaimana manusia di dalamnya siap beradaptasi.
Di tengah gegap gempita adopsi kecerdasan buatan (AI) di sektor korporasi, ruang rapat eksekutif sering kali terlalu sibuk mendiskusikan kehebatan teknologi hingga mengabaikan kesiapan tenaga kerja.
Santhosh Keshavan (Chief Technology and Operations Officer di Voya Financial) menyoroti celah kritis tersebut. Saat ini karyawan masih mempertanyakan eksistensi teknologi AI seperti apa arti teknologi tersebut, bagaimana nasib pekerjaan mereka, serta di mana posisi mereka ke depan.
”Jika organisasi tidak menjawab keraguan ini, masalah ini akan memperbesar ketakutan yang sudah dirasakan banyak karyawan terkait ekspektasi yang tinggi seputar AI,” ujar Santhosh.
Agar teknologi AI dapat berfungsi dalam skala besar, karyawan memerlukan keterampilan baru, rasa percaya, dan pemahaman yang jelas mengenai bagaimana perangkat tersebut membantu pekerjaan mereka.
Mengubah Rasa Khawatir Menjadi Rasa Ingin Tahu
Kesuksesan implementasi AI bergantung penuh pada orang-orang yang menggunakannya. Ketika karyawan memahami manfaat nyata AI dalam aktivitas harian, adopsi akan terjadi secara alami.
Sebaliknya, tanpa pemahaman itu, kapabilitas canggih sekalipun akan kesulitan untuk berkembang di lantai bursa maupun ruang kerja.
Sebagai langkah nyata untuk bertransformasi menjadi perusahaan berbasis AI, Voya menjadikan literasi digital ini sebagai prioritas di setiap lini bisnis.
Perusahaan investasi tersebut melibatkan hampir seluruh dari total 11.000 karyawannya guna menyambut peluang besar ini secara langsung.
Pada awal tahun ini, Voya merancang pelatihan dasar yang praktis bagi seluruh tenaga kerjanya. Kurikulum itu mencakup pemahaman tentang apa itu AI generatif, cara kerjanya, kemampuannya dalam mengatasi hambatan kerja sehari-hari, hingga batasan kapan teknologi tersebut membutuhkan pertimbangan manusia.
Program berdurasi sekitar lima jam itu dirancang bersama lebih dari 1.000 karyawan guna memastikan materinya benar-benar berpijak pada kebutuhan riil operasional.
Hasilnya sangat signifikan, dalam kurun waktu tiga bulan saja, hampir 100 persen karyawan dari berbagai latar belakang dan jabatan berhasil mengantongi sertifikasi literasi tersebut.
Santhosh menegaskan bahwa pelatihan adalah bentuk tanggung jawab mutlak perusahaan kepada karyawannya.
“Pelatihan adalah bagian dari komitmen kami. Jika kami mengharapkan karyawan mengubah cara mereka bekerja menggunakan AI, kami juga memiliki tanggung jawab untuk membekali mereka dengan rasa percaya diri untuk melakukannya,” jelasnya.
Pendekatan inklusif ini sukses menggeser rasa khawatir menjadi rasa ingin tahu yang positif. Kini, 98 persen basis karyawan Voya aktif menggunakan Copilot dengan catatan rata-rata 24 kali perintah (prompt) per minggu untuk setiap pengguna.
Ruang Eksperimentasi dan Inovasi dari Akar Rumput
Adopsi AI di tingkat korporasi menuntut cara pandang luas mengenai bagaimana sebuah pekerjaan diselesaikan. Jika digunakan secara bijak, teknologi AI dapat melipatgandakan kreativitas manusia dengan memangkas tugas-tugas yang bersifat rutin.
Melalui cara ini, karyawan memiliki lebih banyak waktu untuk menerapkan penilaian kritis, memecahkan masalah, dan membangun hubungan guna mempertajam proses serta keputusan bisnis.
Untuk mendorong budaya tersebut, Voya konsisten membuka ruang bagi eksperimentasi mandiri di internal perusahaan. Salah satu terobosannya adalah penyelenggaraan turnamen internal bertema “Piala Dunia” yang sukses melahirkan hampir 300 agen AI bikinan karyawan sendiri.
Inovasi-inovasi ini kini saling bersaing untuk menunjukkan potensi dampak terbesar secara masif.
Menariknya, sebagian besar terobosan AI yang paling bermakna di Voya tidak lahir dari divisi teknologi semata. Gagasan cemerlang justru muncul dari unit-unit bisnis yang paling dekat dengan realitas operasional sehari-hari.
Meski demikian, pencapaian ini dinilai baru permulaan. Membangun kelancaran tingkat lanjut, memperkuat infrastruktur data, serta konsisten melakukan uji coba tetap menjadi fondasi yang krusial.
Seluruh proses itu berjalan selaras dengan peta jalan strategi AI perusahaan yang bertumpu pada tiga tahapan utama yaitu pendidikan, adopsi, dan dampak demi mencapai eksekusi bisnis yang terukur.


