Deloitte: Hanya 1 dari 5 Perusahaan yang Siap Menghadapi Era AI Otonom

Gelombang kecerdasan buatan (AI) kini bergerak melampaui fungsi sebagai alat bantu kerja. Dalam beberapa tahun ke depan, lanskap bisnis akan bergeser menuju sistem yang digerakkan oleh agen AI otonom.

Berdasarkan laporan terbaru firma konsultan global Deloitte yang dirilis pada 12 Agustus, hampir tiga perempat pemimpin perusahaan di Amerika Serikat (AS) memperkirakan bahwa separuh proses bisnis akan dirancang ulang atau dibangun di sekitar agen AI dalam empat tahun mendatang.

Survei yang melibatkan 501 manajer senior dan eksekutif tingkat C-suite itu menunjukkan bahwa 61 persen responden meyakini sebagian besar agen AI nantinya akan beroperasi secara mandiri (autonomous), dengan manusia berperan terutama sebagai pengawas.

Namun, optimisme itu berbanding terbalik dengan tingkat kesiapan organisasi. Hanya satu dari lima pemimpin yang menyatakan bahwa perusahaan benar-benar siap merombak proses bisnis supaya berjalan secara otonom bersama agen AI.

Hambatan Struktural dan Kesenjangan Kesiapan

Transisi menuju operasional berbasis agen AI tidak lepas dari berbagai tantangan. Para responden mengidentifikasi sejumlah hambatan utama yang memperlambat transformasi, termasuk proses bisnis yang tidak terdokumentasi, sistem dan data yang tidak konsisten, hingga pola kerja lama yang telanjur mengakar.

Agen AI berpotensi meningkatkan pendapatan dan menciptakan pekerjaan yang lebih bermakna bagi manusia.

Namun, untuk mewujudkan potensi tersebut, perusahaan harus mengubah cara kerjanya secara mendasar termasuk cara menyelesaikan setiap tugas dan proses bisnis.

Kolaborasi Manusia dan Agen AI

Meski dirancang untuk bekerja secara mandiri, para pemimpin bisnis menilai valuasi terbesar agen AI tidak terletak pada otomatisasi penuh tanpa campur tangan manusia.

Sebanyak 75 persen pemimpin yang disurvei meyakini bahwa kolaborasi antara manusia dan agen AI jauh lebih bernilai.

Dalam skema tersebut, karyawan harus mampu mengarahkan agen AI, meninjau hasil kerja, memvalidasi kualitas, dan menentukan kapan penilaian manusia mutlak diperlukan.

Para pemimpin juga menyadari bahwa proses menuju model kerja ini akan memicu disrupsi. Peran-peran baru akan bermunculan, sementara kebutuhan kualifikasi tenaga kerja akan bergeser untuk memaksimalkan kemampuan agen AI.

Lebih dari empat dari sepuluh pemimpin memperkirakan disrupsi dalam kategori “besar” hingga “ekstrem” selama 12 hingga 18 bulan ke depan.

Strategi Transisi dan Rekomendasi Deloitte

Untuk meredam gejolak dan meminimalkan dampak disrupsi, Deloitte merekomendasikan sejumlah langkah strategis. Salah satunya adalah menerapkan metode pelapisan (layering) yaitu menempatkan agen AI di atas proses yang sudah berjalan.

Metode itu diposisikan sebagai jembatan transisi, bukan sebagai tujuan akhir. Melalui fase pelapisan, organisasi dapat mengevaluasi perubahan peran manusia, menentukan pihak yang paling tepat untuk mengerjakan tugas tertentu, dan menata ulang urutan kerja.

Pendekatan itu juga memungkinkan perusahaan mengidentifikasi bagian-bagian proses yang perlu diubah sebelum menerapkan sistem yang sepenuhnya berbasis agen AI.

Laporan Deloitte menegaskan bahwa organisasi perlu memberikan waktu praktik langsung kepada karyawan agar dapat berinteraksi dengan peran AI masing-masing.

Perusahaan juga perlu membangun kepercayaan diri karyawan melalui latihan dan menetapkan ekspektasi yang transparan mengenai pola kolaborasi manusia dan agen AI.

Tren AI Agen di Dunia Korporasi

Pandangan itu sejalan dengan studi KPMG pada 2025. Di tengah kesenjangan keterampilan teknologi, para pemimpin korporasi semakin memandang AI agen sebagai instrumen strategis untuk menciptakan nilai baru bukan sekadar alat untuk memangkas biaya.

Perbincangan korporat mengenai produktivitas kini semakin lekat dengan perspektif AI. Studi Federal Reserve Bank of St. Louis juga menunjukkan optimisme tinggi para eksekutif di AS terhadap dampak jangka panjang teknologi tersebut.

Di sisi lain, untuk menjaga kepercayaan internal di tengah tingginya ekspektasi terhadap AI, profesional Human Resources (SDM) harus mampu bergerak melampaui penggunaan AI dan membangun alur kerja berbasis agen.

Hal tersebut ditekankan dalam laporan Culture Amp edisi Juli. Namun, survei global Culture Amp menemukan bahwa baru sekitar sepertiga pakar SDM yang telah menerapkan pendekatan tersebut.

Sebagian besar organisasi masih memperlakukan AI sebagai asisten cerdas, bukan agen otonom yang beroperasi dalam batas-batas wewenang tertentu.

Pada akhirnya, kesiapan menghadapi era AI otonom tidak hanya ditentukan oleh kualitas teknologinya. Perusahaan juga perlu membenahi proses, data, struktur peran, dan kemampuan karyawan agar kolaborasi manusia serta agen AI dapat berjalan secara efektif.

Bagaimana kesiapan perusahaan tempat Anda bekerja dalam menghadapi transisi menuju era operasional berbasis agen AI otonom ini?

 

 

Baca Juga

Gaji Bisa Naik 30 Persen, Skill Digital Ini Makin Diburu di Singapura

Berdasarkan riset terbaru Indeed Hiring Lab dan Asian Development Bank (ADB), pekerja yang memiliki keterampilan digital tingkat lanjut dapat menikmati selisih upah yang signifikan. Riset itu mencatat adanya wage premium mencapai 30,1 persen dibandingkan rekan kerja di posisi serupa dengan kecakapan digital yang lebih rendah.