Demi Infrastruktur AI, Oracle Kembali Gelar Gelombang PHK

​Industri teknologi global kembali bergolak oleh langkah strategis yang agresif. Raksasa teknologi Oracle bersiap melakukan gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) terbaru, di tengah komitmen perusahaan mengucurkan dana jumbo untuk memperkuat infrastruktur kecerdasan buatan (AI).

​Langkah itu mempertegas realitas baru di industri teknologi bahwa lonjakan investasi AI dan otomatisasi akan berjalan seiring dengan restrukturisasi tenaga kerja besar-besaran.

​Oracle saat ini agresif menggelontorkan modal untuk membangun pusat data dan memperluas kapasitas layanan komputasi awan (cloud). Langkah itu diambil untuk mengimbangi lonjakan permintaan beban kerja berbasis AI yang kian meroket.

​Untuk mendanai ekspansi ambisius tersebut, Oracle menargetkan perolehan dana hingga USD45 miliar–USD50 miliar pada 2026. Perusahaan juga membangun infrastruktur khusus untuk mendukung kebutuhan para pemain utama AI, termasuk OpenAI.

​Namun, lonjakan belanja modal (capital expenditure) itu membawa konsekuensi logis, tekanan finansial yang kian berat akan menekan biaya operasional. Efisiensi tenaga kerja pun menjadi opsi strategis untuk menyeimbangkan beban anggaran.

​Laporan Business Insider menyebutkan Oracle telah mengidentifikasi karyawan yang akan di-PHK sebelum tenggat 1 September.

Beberapa tim Oracle terancam pemangkasan hingga dua digit. Hingga kini, pihak Oracle belum memberikan konfirmasi resmi terkait kabar tersebut.

​Tren Penurunan Jumlah Karyawan

​Rencana pemangkasan ini memperpanjang tren penyusutan tenaga kerja Oracle yang sudah berlangsung dalam beberapa waktu terakhir. ​

Sepanjang tahun fiskal yang berakhir pada 31 Mei, jumlah karyawan Oracle tercatat menyusut sekitar 21.000 orang.

Perusahaan menutup tahun fiskal tersebut dengan total 141.000 pekerja, merefleksikan penurunan tajam hingga 13 persen.

​Dampak efisiensi ini merembet ke lini global, termasuk operasional di India. Laporan sebelumnya mengindikasikan hingga 12.000 posisi di wilayah tersebut berisiko terdampak, meski tingkat keparahannya bervariasi antar-tim.

​Ketika AI Mengubah Lanskap Pekerjaan

​Manajemen Oracle menilai adopsi alat berbasis AI berhasil mendongkrak produktivitas, sehingga berbagai proyek kini dapat ditangani oleh tim yang lebih ramping. Meski demikian, hadirnya AI tidak serta-merta melenyapkan suatu profesi secara serentak.

​Hal itu diakui oleh seorang mantan konsultan Oracle saat diwawancarai Firstpost. Menurutnya, otomatisasi sejauh ini lebih berperan mengeliminasi tugas-tugas manual ketimbang menggantikan peran manusia secara total.

​”Kami telah lama menggunakan Oracle AI. Namun, saya tidak merasa pekerjaan saya digantikan secara langsung oleh AI,” ujar mantan karyawan tersebut.

​Ia menambahkan bahwa AI sangat membantu mempercepat pekerjaan repetitif di lini teknis.

​”Saya bekerja di bagian backend menggunakan Java dan Spring Boot, di mana kami mengotomatisasi hal-hal seperti validasi, pemrosesan data, integrasi API, dan tugas-tugas pengodean repetitif lainnya, sehingga mengurangi beban kerja manual,” jelasnya.

​Fenomena yang dialami Oracle mempertegas potret besar industri saat ini. Pertaruhan triliunan rupiah pada infrastruktur AI melaju sejajar dengan transformasi mendasar pada struktur tenaga kerja global.

Baca Juga

Gaji Bisa Naik 30 Persen, Skill Digital Ini Makin Diburu di Singapura

Berdasarkan riset terbaru Indeed Hiring Lab dan Asian Development Bank (ADB), pekerja yang memiliki keterampilan digital tingkat lanjut dapat menikmati selisih upah yang signifikan. Riset itu mencatat adanya wage premium mencapai 30,1 persen dibandingkan rekan kerja di posisi serupa dengan kecakapan digital yang lebih rendah.

Begini Cara CIO Membangun Literasi AI

​Berdasarkan data perusahaan riset global Gartner, hanya 21 persen eksekutif C-suite yang menilai rekan-rekan sesama pemimpin bisnis memiliki pemahaman yang mumpuni atau “cakap AI”