Di tengah gelombang adopsi teknologi yang masif, raksasa barang konsumsi global Unilever memilih untuk tidak sekadar ikut-ikutan tren kecerdasan buatan (AI).
Pendekatan itu bertumpu pada tiga pilar utama yaitu menetapkan hasil akhir yang jelas, menyelaraskan nilai AI dengan visi perusahaan, dan menggunakan teknologi untuk memecahkan masalah nyata sekaligus memperkuat sinergi antar-divisi.
”Kami tidak membuat strategi khusus untuk AI. Kami menjalankan strategi bisnis dan AI adalah penggeraknya,” ujar Allen Bates, SVP, Chief Digital and Information Officer Unilever Amerika Utara, kepada CIO Dive
”Ini adalah pergeseran cara berpikir kami. Kami selalu berangkat dari persoalan yang ada dan target hasil yang jelas,” imbuhnya.
Dampak Nyata di Lini Operasional dan Pemasaran
Pendekatan berbasis hasil ini terbukti membuahkan dampak nyata bagi lini operasional Unilever. Berkat penerapan tiruan digital (digital twins) berbasis AI, perusahaan sukses mendongkrak penjualan digital dan menaikkan kapasitas produksi pabriknya di Raeford, North Carolina hingga 10 persen.
Tidak hanya di sektor manufaktur, adopsi AI juga merambah lini pemasaran global. CEO Unilever Fernando Fernandez mengungkapkan bahwa perusahaannya memanfaatkan AI untuk mempercepat pembuatan konten dan memperkuat citra merek selama momentum besar seperti Piala Dunia FIFA.
“Sistem Beauty AI Studio kami terbukti mampu mengelola siklus hidup konten secara penuh dan membantu memproduksi aset hingga 30 persen lebih cepat,” katanya.
Guna memperkuat fondasi teknologi ini, Unilever menjalin kemitraan strategis berdurasi lima tahun dengan Google Cloud untuk memigrasikan aplikasi serta platform data perusahaan. Di saat bersamaan, perusahaan juga menjajaki kapabilitas perintis (frontier capabilities) berupa agen cerdas (intelligent agents) bersama Microsoft.
”AI sebelumnya lebih bertindak sebagai asisten, saya melihatnya sekarang menjadi semacam rekan setim di mana ia dapat bertindak, mengambil beberapa data dan membuat PowerPoint, mengambil langkah berikutnya,” ungkap Bates.
“Bagi saya, itu sangat menarik, di mana Anda keluar dari mode asisten transaksional dan beralih ke mode rekan setim,” ucapnya.
Fondasi Data dan Manajemen Perubahan
Kendati ambisi teknologi terus digenjot, Allen Bates mengingatkan bahwa seluruh proses transformasi harus berakar pada fondasi data yang kuat dan manajemen perubahan yang matang.
”AI menyukai konteks, konteks menyukai data, dari situlah kami mulai,” tegasnya.
Sebagai langkah taktis untuk mempercepat skala AI di seluruh lini, Unilever berinvestasi membangun produk data yang dapat digunakan kembali (reusable data products) sehingga tim tidak perlu selalu mulai dari nol. Pengkodean pengetahuan (codifying knowledge) yang dibarengi demokratisasi teknologi juga dinilai sangat membantu mempercepat pembagian pembelajaran lintas pasar.
Di sisi lain, Bates menyoroti pentingnya adaptasi kultural. Para pemimpin teknologi seperti CIO dan CDIO kini dituntut untuk bertransisi dari sekadar pengelola pengiriman TI menjadi mitra strategis bisnis yang sejati.
”Semua yang kami bangun berada dalam tim multidisiplin. Perubahan adalah tugas setiap orang, menurut pandangan saya,” jelas Bates.
Menatap masa depan, ia percaya bahwa peluang terbesar AI terletak pada upaya memperkuat potensi manusia dan menata ulang proses bisnis yang ada. Sebab pada akhirnya, penerapan teknologi canggih pada sistem yang buruk hanya akan melanggankan masalah yang sama.
”Itu, bagi saya, adalah peluang untuk dipikirkan secara matang karena teknologi pada proses yang buruk tetaplah proses yang buruk,” pungkasnya.


