Mengapa Sebagian Besar CIO Belum Siap Hadapi Era Agentic Workforce?

CIO

​Di saat pengeluaran teknologi korporasi terus membengkak, sebagian besar pimpinan teknologi atau Chief Information Officer (CIO) justru melewatkan langkah krusial yaitu merancang ulang struktur tenaga kerja secara mendalam guna menyongsong era agentic AI.

​Berdasarkan laporan agenda tahunan tahun 2027 yang dirilis oleh lembaga riset Gartner dari hasil survei terhadap 2.002 CIO dan eksekutif teknologi, terungkap sebuah fakta mengejutkan.

Hanya 4 persen dari total CIO yang melaporkan bahwa mereka telah memiliki rencana konkret untuk menata ulang peran pekerjaan untuk mengakomodasi tenaga kerja hibrida antara manusia dan agen AI.

​Padahal, perusahaan yang sudah mulai melakukan langkah antisipatif itu terbukti 2,4 kali lebih berpeluang menjadi pemain papan atas dalam pemanfaatan AI dan sukses membuat jajaran direksi melihat nilai nyata dari investasi AI.

​“Tanpa tenaga kerja yang siap menghadapi era agen AI dan tata kelolanya, perusahaan harus membayar mahal akibat tim yang gagal mengeksekusinya secara efektif,” ujar Alicia Mullery (VP Analyst di Gartner).

​Terjebak Tekanan Biaya dan Target Jangka Pendek

​Dalam beberapa tahun terakhir, daftar tanggung jawab seorang CIO kian melebar. Perusahaan kini menuntut CIO tidak hanya mengawasi modernisasi infrastruktur TI, kedisiplinan anggaran, eksperimen AI, dan pencapaian bisnis secara luas, tetapi juga mengambil peran aktif dalam strategi ketenagakerjaan. Beban ganda itu membuat banyak CIO mengesampingkan isu talenta.

Persoalan efisiensi biaya kini menjadi prioritas tertinggi, dengan 58 persen pemimpin teknologi dituntut perusahaan untuk membuktikan penghematan dari investasi AI sebelumnya. ​

“Tekanan itu datang dari CEO, dewan direksi, dan jajaran pimpinan,” kata Mullery, seraya menambahkan bahwa para CIO kini didesak untuk menunjukkan imbal hasil (return) secara cepat.

​Namun, tekanan finansial semata ternyata belum mampu menghasilkan nilai bisnis yang signifikan. Gartner mencatat bahwa hanya 13 persen CIO yang melaporkan perolehan nilai signifikan atau transformasional dari investasi AI. Akibat teka-teki nilai proyek yang belum terjawab ini, banyak CIO akhirnya mengurangi alokasi waktu dan sumber daya untuk merombak ulang struktur tenaga kerja.

​“Begitu banyak hal yang menjadi prioritas utama sehingga masalah teknologi seperti biayanya dan cara mengendalikannya terkadang menutupi aspek-aspek terkait talenta. Sebab, isu talenta tidak terasa mendesak seperti tagihan mahal yang datang bulan depan,” jelas Mullery.

​Peluang Strategis bagi Peran CIO

​Meski tantangan di depan mata cukup berat, para CIO memiliki kesempatan besar untuk mengubah keadaan. Mereka dapat membantu mengomunikasikan kepada para petinggi C-suite lainnya mengenai pentingnya mengantisipasi dampak AI terhadap tenaga kerja.

Hal ini mencakup pergeseran cakupan peran tertentu hingga dinamika struktur gaji, terutama seiring ekspansi AI yang meluas ke seluruh lini perusahaan.

​“Hal itu, menurut saya, akan mengangkat posisi CIO ke dalam percakapan yang jauh lebih strategis, sesuatu yang sangat ingin dibahas oleh para eksekutif C-suite lainnya,” tutup Mullery.

 

Baca Juga

Strategi Cerdas CIO Menghitung Nilai Nyata Investasi AI

​Bagi sebagian besar pemimpin teknologi (CIO) menjelaskan inisiatif kecerdasan buatan (AI) yang sedang berjalan bukanlah hal yang sulit. Namun, tantangan besar justru muncul saat mereka harus mendemonstrasikan dan melaporkan nilai nyata dari investasi itu atau tingkat pengembalian modalnya (ROI).