Pangkas Birokrasi Kantor, Google dan Workday Luncurkan Agen AI

​Dunia perangkat lunak korporasi (enterprise) sedang menghadapi pergeseran lanskap yang masif. Memecah ego sektoral data (data silos) dan mengotomatiskan rutinitas harian kini bukan lagi sekadar opsi, melainkan kebutuhan mendasar.

Menjawab tantangan nyata ini, Google Cloud dan Workday resmi memperluas kolaborasi strategis untuk menghadirkan efisiensi baru di ruang kerja modern.

​Melalui integrasi teranyar, kedua raksasa teknologi itu menyematkan agen kecerdasan buatan (AI) khusus urusan sumber daya manusia (HR) dan finansial langsung ke dalam alur kerja harian karyawan.

Langkah strategis itu mengawinkan agen layanan mandiri (self-service) milik Workday, Sana, ke dalam ekosistem Gemini Enterprise.

Hasilnya, karyawan maupun manajer kini dapat mengakses informasi penting dan menyelesaikan berbagai urusan administrasi cukup dari satu tempat.

​Memangkas Birokrasi Internal dan Hambatan Data

​Bagi karyawan, integrasi itu memangkas proses birokrasi yang kerap menyita waktu produktif. Cukup melalui satu platform tunggal, mereka bisa memeriksa sisa jatah cuti, melihat slip gaji, meninjau informasi pajak, hingga mempelajari kebijakan perjalanan dinas serta anggaran perusahaan.

​Kemudahan serupa juga dinikmati para manajer. Sistem terintegrasi itu menyediakan perangkat berbasis agen AI untuk meninjau target tim, menyetujui lembar kerja waktu (timesheet), hingga memulai proses evaluasi kinerja berkala.

​Karthik Narain (Chief Product and Business Officer di Google Cloud) menegaskan bahwa kolaborasi itu menyasar langsung lapisan model sekaligus platform. Target utamanya adalah mengotomatiskan alur kerja yang paling sering menyita waktu di departemen HR dan finansial.

​”Karyawan bisa mendapatkan jawaban yang lebih cepat dan akurat, menyederhanakan tugas-tugas repetitif, dan pada akhirnya dapat lebih fokus pada pekerjaan yang paling krusial,” ujar Narain dalam keterangan resminya.

​Langkah itu meluncur tepat di tengah tren global, di mana para penyedia AI tengah berlomba-lomba menanamkan alat digital mereka ke dalam operasional harian perusahaan demi menghemat waktu pengerjaan tugas-tugas rutin.

​Bertahan di Tengah Badai ‘SaaSpocalypse’

​Bagi industri, langkah taktis itu merupakan strategi krusial untuk bertahan hidup, terutama bagi penyedia sistem Enterprise Resource Planning (ERP) dan pasar perangkat lunak yang lebih luas.

Sektor ini sedang dihantam fenomena yang disebut sejumlah pengamat sebagai “SaaSpocalypse”. Ini adalah sebuah kondisi di mana para pelanggan mulai beralih ke solusi AI mandiri, yang berdampak pada merosotnya penjualan lisensi perusahaan Software-as-a-Service (SaaS).

​Workday menjadi salah satu raksasa yang merasakan langsung hantaman badai tersebut. Dalam setahun terakhir, nilai perusahaan mereka merosot lebih dari 40 persen.

Kondisi pelik itu bahkan memicu pergantian CEO pada Februari lalu, disusul keputusan pahit melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap 2 persen dari total karyawannya.

​Pendiri sekaligus CEO Workday saat ini Aneel Bhusri mengakui besarnya skala perubahan yang sedang terjadi dalam pengumumannya pada 9 Februari lalu.

​”Kita sekarang sedang memasuki salah satu momen paling krusial dalam sejarah kita. AI adalah transformasi yang lebih besar daripada SaaS. Teknologi ini akan menentukan generasi pemimpin pasar berikutnya,” ungkap Bhusri seperti dikutip Tech Crunch.

​Berangkat dari urgensi itulah, Workday dan Google Cloud berupaya keras menjadikan sistem agen AI sebagai bagian tak terpisahkan dari platform mereka guna mempertahankan loyalitas pelanggan yang tersisa.

​Konsistensi Sistem dan Garansi Keamanan Data

​Secara teknis, pengguna platform kini dapat mengajukan pertanyaan langsung di dalam Gemini Enterprise dan menerima jawaban yang datanya ditarik secara real-time dari Workday.

Sebaliknya, Gemini kini juga menjadi model AI bawaan (default) di dalam agen Sana milik Workday, memberikan pengalaman pengguna yang lebih mulus dan konsisten di kedua platform.

​Kendati integrasi berjalan lintas platform, aspek keamanan tetap menjadi prioritas utama. Kolaborasi itu memastikan perusahaan dapat mengeksekusi berbagai tugas sensitif HR dan finansial tanpa harus keluar dari lingkungan keamanan data (data security environment) ketat milik Workday.

​Gerrit Kazmaier (President of Product and Technology di Workday) menjelaskan bahwa integrasi ini lahir dari kebutuhan riil dan mendesak para pelaku industri.

​”Pelanggan kami menginginkan urusan HR dan finansial berada dalam jangkauan mereka secara instan, bukan tersebar di belasan aplikasi yang berbeda,” jelas Kazmaier.

​Saat ini, agen Sana milik Workday telah resmi tersedia di Google Cloud Marketplace, dengan komitmen peluncuran rangkaian agen AI tambahan lainnya pada akhir tahun ini.

​Sebagai bagian dari perluasan ekosistem, kedua perusahaan baru-baru ini juga memperkenalkan Ignite Financial Close Companion untuk KPMG.

Asisten AI ini dirancang khusus untuk mentransformasi proses penutupan buku akhir bulan bagi analis akuntansi dan pengawas entitas hukum.

​Tak berhenti di situ, seiring berkembangnya kemitraan ini, Google Cloud dan Workday juga menggandeng integrator sistem global sekelas Accenture dan Deloitte untuk mengawal ketat aspek tata kelola, teknis, hingga proses bisnis ke depan.

Baca Juga

Riset Terbaru Ungkap Kerapuhan Keamanan AI di Mata Para CIO

​Banyak Direktur Teknologi Informasi (CIO) saat ini tampak sangat yakin dengan sistem keamanan kecerdasan buatan (AI) yang mereka miliki. Namun, sebuah riset terbaru justru membongkar realitas yang jauh lebih rumit dan penuh dengan titik buta (blind spots).