Bikin Krisis Energi!, Pusat Data Bakal Kuras 20 Persen Pasokan Listrik AS

​Ekspansi masif infrastruktur digital global kembali memicu kekhawatiran baru, terutama terkait ketersediaan energi.

Pusat data diproyeksikan akan menyedot seperlima dari total pasokan listrik di Amerika Serikat (AS) pada 2035, melonjak hingga empat kali lipat dibanding tingkat konsumsi saat ini.

​Proyeksi tersebut tertuang dalam laporan terbaru yang dirilis oleh lembaga riset energi BloombergNEF. Dalam laporannya, ledakan kebutuhan komputasi kecerdasan buatan (AI compute) diprediksi bakal mendongkrak kapasitas listrik pusat data hingga menyentuh angka 200 gigawatt dalam satu dekade ke depan. ​

Hampir separuh dari kapasitas tersebut akan dialokasikan khusus untuk kebutuhan pelatihan model (training) dan proses inferensi AI.

​Proyeksi yang Terus Direvisi Naik

​Kendati terlihat masif, angka-angka tersebut dinilai bisa jadi masih konservatif jika mengacu pada tren pertumbuhan sebelumnya.

Estimasi terbaru BloombergNEF mengenai permintaan listrik pada 2035 tercatat 83 persen lebih tinggi dibandingkan prediksi yang dirilis oleh lembaga konsultan tersebut pada bulan Desember lalu.

​Berbagai institusi lain turut mengerek naik proyeksi mereka. Lembaga nirlaba industri kelistrikan EPRI, misalnya, telah merevisi naik estimasi tahun 2024 hingga lebih dari dua kali lipat. ​

Sementara itu, proyeksi dari S&P melonjak lebih dari sepertiga dalam rentang waktu antara bulan Oktober hingga April. Revisi beruntun ini mencerminkan laju pembangunan pusat data yang begitu pesat dan agresif di seluruh wilayah AS.

​Ancaman Beban Berlebih pada Jaringan Listrik

​Dalam dekade mendatang, BloombergNEF memperkirakan bahwa sebagian besar pusat data baru akan terhubung ke jaringan kelistrikan (electrical grids) yang sejatinya sudah dalam kondisi terbebani. Wilayah operasional PJM Interconnection yang membentang dari Virginia hingga Illinois harus mengalirkan 34 persen pasok listriknya khusus untuk pusat data.

Di sisi lain, ERCOT yang mencakup sebagian besar wilayah Texas juga harus mendedikasikan 22 persen dari kapasitas pembangkitnya untuk kebutuhan serupa.

​Kawasan PJM, yang selama ini telah menampung konsentrasi pusat data terbesar di AS, kini berjuang keras menghadapi lonjakan permohonan sambungan baik dari generator skala besar maupun beban daya masif.

Situasi ini bahkan sempat memaksa mereka membekukan permohonan sambungan sumber energi baru ke jaringan selama empat tahun, menempatkan kawasan tersebut pada posisi yang rentan di tengah pertumbuhan permintaan yang terus meroket.

​Meskipun antrean sambungan baru akhirnya dibuka kembali pada bulan April lalu, kondisi di lapangan telanjur memburuk.

Salah satu perusahaan utilitas, American Electric Power, bahkan sempat mengancam akan keluar dari sistem interkoneksi tersebut.

Ketimpangan antara pasokan dan permintaan ini terbukti telah mendongkrak harga listrik hingga 76 persen sepanjang tahun lalu.

​Kendati kemacetan jaringan dan kendala pasokan terus menghantui, daya tarik pusat data di wilayah tersebut sama sekali tidak surut.

Sektor pusat data tercatat mendominasi hingga 38 persen dari total beban biaya dalam lelang kapasitas (capacity auction) terbaru yang diselenggarakan oleh pengelola jaringan.

​Di luar AS, pertumbuhan fasilitas penunjang data ini juga dipastikan tak terbendung. Jika adopsi AI terus melaju dalam trajektori yang agresif, pusat data global diproyeksikan akan menciptakan tambahan permintaan listrik baru sebesar 1.935 terawatt-jam pada 2033. Angka itu hampir setara dengan total konsumsi listrik tahunan negara India.

Baca Juga