Gelombang kecemasan mengenai dampak kecerdasan buatan (AI) terhadap pasar tenaga kerja telah mencapai puncaknya.
Perusahaan-perusahaan besar seperti Oracle, Amazon, dan Salesforce telah memangkas sebagian besar tenaga kerjanya demi memberikan ruang bagi sistem otomatisasi.
Proyeksi ekonomi yang menyertai transformasi ini pun tampak fantastis. Anthropic memprediksi skenario di mana AI dapat mendongkrak ekonomi Amerika Serikat (AS) hingga 15 persen pada 2030, diiringi lonjakan pengangguran di kalangan pekerja kerah putih (white-collar) hingga 18 persen.
Survei terbaru firma riset Gallup menunjukkan bahwa para pekerja yang sering menggunakan AI memiliki kekhawatiran lebih dari dua kali lipat terkait potensi hilangnya pekerjaan dalam lima tahun ke depan.
Kekhawatiran ini jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan mereka yang hanya menggunakannya beberapa kali dalam sebulan atau setahun.
Kendati demikian, riset terbaru dari lembaga konsultasi Gartner mengungkapkan fakta yang berkebalikan. Para eksekutif yang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) secara masif demi beralih ke AI dinilai bergerak terlalu cepat. Gartner memprediksi sebanyak 30 persen karyawan yang di-PHK akibat AI bakal direkrut kembali pada 2029.
Realitas Produktivitas AI di Lapangan
Tori Paulman selaku VP Analyst di Gartner mengungkapkan bahwa implementasi teknologi AI belum sepenuhnya siap menggantikan porsi pekerjaan secara masif.
”Agentic AI belum mampu mengambil alih porsi pekerjaan yang cukup besar untuk membuat perusahaan mana pun sukses melakukan PHK massal,” ujar Paulman kepada Channel Dive.
”Produktivitas dari adopsi alat AI sehari-hari tidak mampu mendongkrak kinerja secara luar biasa. Hal ini tercermin dalam hampir setiap laporan Gartner maupun laporan eksternal lainnya,” tambahnya.
Dari analisis lebih dari 1 juta kasus PHK pada 2025, tim riset Paulman menemukan bahwa pemangkasan karyawan akibat peningkatan produktivitas AI ternyata kurang dari 1 persen dari total keseluruhan PHK.
Bahkan, pada paruh kedua tahun 2025, angka pemecatan yang dikaitkan dengan AI justru mengalami penurunan.
Gartner juga mencatat bahwa 17 persen dari PHK berkedok AI pada paruh pertama 2025 sebenarnya merupakan langkah perubahan orientasi komersial (commercial pivots). Artinya, perusahaan-perusahaan tersebut hanya merelokasi tenaga kerja dari unit yang tidak menguntungkan ke lini produk AI yang baru.
Paulman menyebut perusahaan-perusahaan ini kemungkinan besar sedang melakukan praktik “AI-washing” yakni menggunakan isu AI sebagai kedok untuk restrukturisasi bisnis standar.
”Ketertarikan kami terpancing saat melihat berita PHK masif didominasi oleh perusahaan teknologi yang juga menjual produk AI. Kami berpikir, apakah perusahaan-perusahaan ini sedang mencoba mengirim sinyal bahwa mereka juga menggunakan produk buatan mereka sendiri?” ungkap Paulman.
Bumerang Otomatisasi dan Tantangan Demografi
Strategi talenta berbasis AI terbukti menjadi bumerang bagi perusahaan yang memangkas fungsi pekerjaan berorientasi pada manusia, seperti layanan pelanggan (customer service). Sebagai contoh, Klarna pada 2024 menggantikan 700 agen layanan pelanggannya dengan pekerja AI. Namun, pada awal 2026, perusahaan tersebut mulai merekrut kembali manusia.
Perusahaan-perusahaan lain seperti Ford, IBM, dan Commonwealth Bank of Australia tercatat menarik kembali kebijakan PHK terkait AI. Berdasarkan laporan dari CNBC, mereka kembali mempekerjakan para insinyur, staf human resources (HR), serta petugas layanan pelanggan.
”Pelanggan pada dasarnya memang tidak begitu suka berbicara dengan AI, terutama melalui suara,” jelas Paulman.
Fenomena perekrutan kembali ini terjadi di tengah kondisi demografi global yang tidak seimbang. Kombinasi dari penurunan angkatan kerja akibat pensiunnya generasi baby boomer serta penurunan angka kelahiran membuat PHK massal berisiko memicu kelangkaan talenta di masa depan.
Di sisi lain, persaingan ketat dalam dunia rekrutmen berarti perusahaan harus merogoh kocek lebih dalam untuk mendatangkan kembali para pegawai tersebut.
Paulman menambahkan bahwa banyak pemimpin bisnis yang berkonsultasi dengan Gartner tidak memiliki pemahaman mendasar tentang fundamental AI.
Padahal, para eksekutif sedang berada di bawah tekanan untuk mencari penghematan biaya dan pertumbuhan pendapatan.
”Para eksekutif tenggelam dalam lingkungan yang saya sebut sebagai pemikiran magis (magical thinking). Bahwa AI akan menyelesaikan semuanya,” kata Paulman.
Studi Aptean yang melibatkan 1.500 pengambil keputusan menunjukkan bahwa kurang dari separuh organisasi menganggap AI sangat penting bagi pekerjaan inti mereka.
Hasilnya bahkan tetap kurang memuaskan meski di kalangan perusahaan yang sudah meraup keuntungan. Menurut Accenture, sedikit sekali karyawan yang produktivitasnya meningkat mampu memberikan nilai bisnis yang terukur (kurang dari seperempat).
“Raksasa teknologi menghadapi masalah yang sama dengan pengguna akhir. Adopsi rendah, produktivitas kabur, dan ekspektasi tidak realistis eksekutif,” tegas Paulman.
AI sebagai “Toolmate” Penunjang Kinerja
Salah satu kesalahan terbesar yang dilakukan oleh para eksekutif adalah menganggap AI setara dengan manusia. Hal ini menghalangi mereka berpikir secara kritis tentang di mana AI seharusnya diterapkan dan memilih disiplin AI yang tepat.
Menurut Gartner, organisasi yang paling efektif adalah organisasi yang mampu menolak godaan untuk mengotomatisasi setiap tugas dan mendelegasikan setiap keputusan kepada AI.
Gartner merekomendasikan para eksekutif untuk mengubah cara pandang mereka terhadap AI untuk menavigasi transformasi tenaga kerja secara lebih efektif. Pertama, AI harus bertindak sebagai “rekan kerja” (toolmate) yang meningkatkan kapabilitas manusia alih-alih menggantikannya.
Organisasi juga perlu berinvestasi pada literasi AI dan menekankan pentingnya konteks manusia, pertimbangan etis (judgment), dan pengetahuan institusional secara berdampingan dengan adopsi teknologi.
”Merupakan tugas dari pengguna alat tersebut, pembuat model, dan juga eksekutif untuk menggunakan teknologi ini dengan cara yang dapat diverifikasi dan benar,” ujar Paulman.
”Merupakan tanggung jawab mereka juga untuk menggunakannya dengan cara yang bermanfaat. Ketika saya mempresentasikan materi tentang AI, saya mengatakan kepada audiens, yang umumnya adalah para profesional IT, bahwa saya pikir sudah menjadi tugas mereka untuk keluar dan berbicara dengan anggota komunitas mereka, orang tua mereka, anak-anak mereka tentang AI,” ujarnya.
Organisasi yang mampu mengelola hal ini dengan tepat dinilai berada di posisi terdepan untuk membangun tenaga kerja yang memanfaatkan AI guna memperkuat keunggulan manusia, menghindari biaya pemecatan dan perekrutan ulang yang mahal.
Di tengah dunia di mana teknologi diimbangi oleh intervensi manusia dan talenta yang mumpuni, AI pada akhirnya dapat memberdayakan penggunanya alih-alih memicu ketakutan.


