Di era persaingan yang ketat seperti saat ini, setiap perusahaan dituntut untuk cepat berinovasi. Namun inovasi tersebut seharusnya dibarengi sistem cyber security yang kuat, demi memastikan keberlangsungan bisnis dan terjaganya reputasi.
Hal tersebut diungkapkan Wai Kiat Kwok (VP Enterprise Product Management and Development Telkomsel) pada acara Indosec Summit 2026 yang diselenggarakan pertengahan September 2026 kemarin. Menurut Kwok, hal itu menjadi pedoman dasar Telkomsel dalam menyediakan solusi ke pelanggan, baik untuk B2B maupun B2C. “Karena itu kami selalu mengedepankan security by design bersama pelanggan kami,” ungkap Kwok. Contoh Penerapan Security by Design
Secara prinsip, security by design adalah pengembangan solusi yang menempatkan aspek keamanan sejak awal. Hal ini berbeda dengan pendekatan tradisional yang baru memasukkan aspek keamanan di akhir proses pengembangan.
Dalam konteks Telkomsel, Kwok mencontohkan implementasi solusi di area connected car. Solusi ini biasanya digunakan perusahaan yang membutuhkan informasi telemetri (seperti posisi atau kecepatan kendaraan) pada armadanya.
Implementasi solusi ini bermacam-macam, mulai dari offline connection, VPN, sampai yang terkoneksi langsung ke internet. Apa pun pilihan pelanggan, Telkomsel akan melakukan pendampingan sejak awal implementasi. “Peran Telkomsel adalah merancang arsitektur keamanan bersama pelanggan sejak awal, dan disesuaikan dengan tingkat sensitivitas dan kebutuhan pelanggan,” ungkap Kwok.
Kwok mengakui, tidak semua klien sudah memiliki kesadaran keamanan (security awareness) seperti itu. “Hanya sekitar 50% pelanggan yang sudah memprioritaskan security by design sejak awal,” ungkap Kwok. Sementara sisanya masih harus diingatkan, bahkan menjadikan keamanan sebagai prioritas kedua.
Kwok mengakui, keamanan merupakan sesuatu yang tidak berwujud sehingga sering diabaikan pelanggan. Karena itu, Telkomsel memiliki strategi tersendiri untuk menumbuhkan kesadaran (awareness) pelanggan. Salah satunya dengan secara rutin mengirimkan laporan data dan statistik mengenai jumlah ancaman keamanan yang berhasil dicegah. “Dengan begitu, topik terkait cyber security menjadi lebih berwujud,” tambah Kwok.
Bahkan untuk aplikasi kritis, Kwok menarik garis lebih tegas. “Jika pelanggan mau menghapus lapisan keamanan (layer security) untuk menurunkan biaya, kami memilih untuk tidak mengambil proyek tersebut,” ungkap Kwok. Hal ini penting untuk memastikan keberlangsungan bisnis serta terjaganya reputasi. Keamanan di Sisi B2C
Paradigma yang mengedepankan keamanan juga diterapkan Telkomsel saat melayani pelanggan umum (B2C). Saat ini, ancaman terbesar yang dialami pelanggan Telkomsel adalah panggilan dan SMS penipuan/spam. Serangan ini biasanya bertujuan mengeksploitasi kepercayaan pengguna serta berisiko pada kejahatan finansial maupun pencurian identitas.
Untuk melindungi konsumen ini, Telkomsel mengambil beberapa langkah strategis. Salah satunya adalah menggunakan teknologi AI untuk menganalisis data lalu lintas panggilan dan SMS secara real-time. Teknologi AI digunakan untuk mendeteksi pola peretasan, penipuan, atau spam saat komunikasi sedang terjadi. Telkomsel juga menggunakan threat intelligence dan riwayat pemanggilan untuk mengenali nomor-nomor mencurigakan secara presisi.
Jika ada panggilan masuk dari nomor yang tidak tersimpan di daftar kontak pengguna, sistem jaringan Telkomsel juga secara otomatis memberikan label/tanda peringatan secara real-time di layar ponsel untuk memberi awareness awal kepada pengguna.
Pelanggan Telkomsel juga dengan mudah memblokir sebuah nomor langsung dari fitur bawaan ponsel atau melalui aplikasi MyTelkomsel. Begitu sebuah nomor dilaporkan oleh pengguna, Telkomsel memiliki mekanisme sistem otomatis untuk memverifikasi keaslian dan reputasi pemanggil tersebut sebelum memblokirnya secara permanen di tingkat jaringan.
Kwok menyebut, pendekatan tersebut berhasil melindungi pengguna dari 1 miliar panggilan spam dan penipuan. Manfaat positifnya juga terlihat dari jumlah aduan pengguna terkait spam dan penipuan yang menurun sampai 30%. “Hal ini menunjukkan bagaimana mengedepankan keamanan akan berdampak langsung pada kenyamanan dan kepercayaan pelanggan,” ungkap Kwok.


