Pada 21 Juli 2026 kemarin, IBM menyelenggarakan IBM Think on Tour Singapore. Bertempat di Marina Sand Expo, acara ini dihadiri ratusan petinggi bisnis dan teknologi dari berbagai perusahaan di Asia Pasifik.
IBM Think sendiri adalah konferensi tahunan dan tertinggi dari IBM. Acara ini mempertemukan petinggi bisnis dan teknologi perusahaan enterprise untuk membahas terobosan penting di area Artificial Intelligence, hybrid cloud infrastructure, automation, digital sovereignty, dan quantum computing.
Secara global, IBM Think telah berlangsung pada bulan Mei 2026 kemarin. Sebagai kelanjutannya, IBM pun menggelar acara di berbagai negara, termasuk Think on Tour Singapore yang mengangkat perkembangan teknologi dan implementasinya di level Asia Pasifik.
Menjadi Pemenang di Era AI
Tahun ini, IBM Think mengusung tema utama Winning the AI Race. Menurut Ana Paula Assis (Senior Vice President and Chair for IBM Europe, Middle East, Africa and Asia Pacific), organisasi akan menjadi pemenang di era AI ketika berubah dari AI-enabled menjadi AI-first enterprise.

Menurut Ana, saat ini perusahaan masih berkutat pada pemanfaatan AI untuk otomatisasi tugas mendasar. Manfaatnya memang terasa, namun terbatas. Ana menganalogikan kondisi ini seperti saat teknologi listrik ditemukan. “Salah satu implementasi awal adalah penggunaan lampu bohlam di pabrik,” ungkap Ana.
Keberadaan lampu membuat operasional pabrik menjadi lebih efektif dan aman, namun hanya sebatas itu. Manfaat listrik baru sangat terasa ketika digunakan sebagai motor listrik. “Motor listrik menciptakan assembly line dan hal itu mengubah segalanya,” ungkap Ana.
Hal yang serupa juga terjadi pada konteks implementasi teknologi AI. Jika digunakan secara sporadis, manfaat AI terbilang terbatas. Namun jika AI dijadikan motor penggerak proses bisnis, manfaatnya menjadi luar biasa. “Karena itu, penting bagi setiap organisasi untuk mendesain ulang cara kerja mereka dan menjadikan sebagai penggeraknya,” tambah Ana.
Ana menyebut, perusahaan yang berhasil menjadi AI-first enterprise sudah merasakan manfaatnya. “Mereka berhasil meningkatkan produktivitas 70% serta mempercepat cycle time 74% dan penyelesaian project 67%,” ungkap Ana.
Strategi Menjadi AI-First Enterprises
Untuk menjadi AI-first enterprise, IBM menyodorkan konsep yang disebut AI Operating Model. Seperti diungkap Hans Dekkers (GM IBM Asia Pacific), model baru ini mencakup empat pilar utama, yaitu Intelligence, Action, Operations, dan Trust.
Pilar Intelligence berfokus pada pengolahan data yang terfragmentasi menjadi terhubung, dipahami, serta terpercaya. Perubahan ini memungkinkan terciptanya data yang real-time dan dapat diolah menjadi temuan yang matang.

Berdasarkan kecerdasan data tersebut, Action dan Operations bekerja secara bersinergi. Perusahaan dapat bertindak secara cepat berdasarkan data yang real-time, sementara Operations akan berjalan mulus jika sistem AI dapat bekerja secara konsisten dan terukur.
Di atas seluruh proses otomatisasi dan pengambilan keputusan tersebut, pilar Trust memegang peranan krusial sebagai fondasi keamanan dan tata kelola. Tanpa data dan sistem yang dapat dipercaya, enterprise akan menghadapi risiko tinggi dan enggan mengeksekusi keputusan AI dengan penuh keyakinan.
Semua pilar ini mensyaratkan satu hal utama: kualitas data. “Karena jika data Anda tersebar, keputusan menjadi tidak tepat. Ketika data tidak dapat dipercaya, tidak ada orang di organisasi Anda yang berani menggunakannya,” ungkap Hans Dekkers.
Kisah Sukses Trust Bank
Salah satu perusahaan yang mendapatkan manfaat dari platform data yang lincah adalah Trust Bank. Bank digital Singapura ini baru berdiri tahun 2022, namun saat ini sudah berhasil merangkul 20% penduduk Singapura sebagai nasabahnya. Hal ini menjadikan Trust Bank sebagai bank dengan pertumbuhan tertinggi di dunia.

Menurut Rajay Rai (Chief Information and Operations Officer, Trust Bank), salah satu kunci keberhasilan mereka terletak pada penggunaan platform data Confluent. Confluent menjadi pusat sistem data dari operasional Trust Bank, yang memungkinkan terwujudnya decoupled architecture.
Pada arsitektur ini, sistem dipisah berdasarkan domain bisnis dengan batas yang jelas. Antara produsen data (penghasil event) dan konsumen data (penerima event) terkoneksi secara independen tanpa tergantung domain lain.
Ketika terjadi event (seperti nasabah melakukan transaksi), sistem penghasil data cukup mempublikasikan event tersebut ke Confluent. Sistem lain (seperti sistem fraud atau pelaporan) akan langsung mendapatkan informasi tersebut secara independen tanpa membebani sistem bank secara keseluruhan.
Contoh nyata efektivitas sistem ini adalah sistem referral. Ketika konsumen melakukan transaksi, Trust Bank bisa langsung memberikan imbalan atau referral saat itu juga. Hal ini mungkin terjadi karena sistem referral mendapatkan informasi transaksi secara real-time. “Dan ini menjadi penting karena 70% akuisisi nasabah kami dapat dari program referral,” ungkap Rajay.
Manfaatkan AI untuk Tumbuh
Selain teknologi, keberhasilan implementasi AI juga harus didukung oleh People alias karyawan di dalam organisasi. Bahkan seperti diungkap Chin Yin Ong (Chief Organisation Capability Officer Grab), manusia (people) justru menjadi faktor tersulit. “Kami menemukan bahwa teknologi ternyata bagian yang relatif mudah. Bagian tersulit adalah membawa seluruh organisasi untuk bertransformasi bersama,” ungkap Chin Yin.

Dari pengalaman selama ini, Chin Yin menyebut pentingnya kolaborasi di seluruh fungsi organisasi. “Masih banyak organisasi yang mengimplementasikan AI secara vertikal, dengan tujuan meningkatkan produktivitas,” ungkap Chin. Padahal, yang dibutuhkan adalah adopsi AI secara horizontal dan lintas divisi.
Hal inilah yang menjadi dasar mengapa Grab membentuk posisi Chief Organisational Capability Officer. “Tugas saya adalah merangkul organisasi secara vertikal dan horisontal agar seluruh orang di Grab bergerak bersama dan memberikan manfaat nyata,” ungkap Chin Yin.
Hal serupa juga diungkapkan Rajay Rai. “Apa pun yang [organisasi] Anda lakukan, kuncinya akan selalu People,” ungkap Rajay. “Apapun yang terjadi, menggunakan AI atau tidak, People adalah hal paling penting bagi kami” tambahnya.


