Gandeng Google, Hilton Jadikan AI Senjata Utama Gaet Tamu

​Industri perhotelan global kini sedang berada di ambang transformasi digital yang masif. Tak lagi sekadar adu kenyamanan fasilitas kamar, raksasa hotel dunia Hilton mulai mempertaruhkan masa depannya pada integrasi kecerdasan buatan (AI).

Tidak tanggung-tanggung, Hilton menjalin kemitraan strategis dengan para pionir teknologi dunia seperti Google, OpenAI, dan Anthropic untuk merombak total wajah layanan pelanggan sekaligus meningkatkan efisiensi operasional perusahaan.

​Inovasi Hilton AI Planner dan Lonjakan Produktivitas

​CEO Hilton Chris Nassetta mengatakan investasi besar di sektor AI ini merupakan langkah terencana untuk memperluas kapabilitas internal dan layanan tatap muka bagi para tamu. Salah satu manifestasi nyata dari ambisi ini adalah peluncuran platform Hilton AI Planner bulan lalu.

​Berbasis teknologi dari Anthropic, platform ini menggabungkan data properti hotel dengan informasi mendalam mengenai aktivitas lokal serta pusat hiburan.

Hasilnya pun signifikan, para tamu kini menghabiskan lebih banyak waktu di dalam ekosistem digital milik Hilton untuk merencanakan perjalanan mereka.

​”Kami memikirkan hal ini sebagai sarana untuk berkreasi,” ujar Nassetta.

​Nassetta memandang AI sebagai salah satu “ledakan produktivitas terbesar” bagi industri perhotelan.

“Kami menggunakan skala bisnis kami sebagai ‘senjata’ dalam menciptakan efisiensi dan memberikan hasil nyata bagi komunitas pemilik properti kami,” ungkapnya seperti dikutip dari CIO Dive.

Modernisasi Infrastruktur di Balik Layar

​Keberhasilan Hilton dalam mengintegrasikan AI tidak terjadi dalam semalam. Ambisi itu merupakan buah dari perombakan total infrastruktur teknologi yang telah dimulai sejak sebelum pandemi COVID-19.

Hilton secara berani meninggalkan sistem arsitektur lama (legacy system) dan beralih ke struktur yang sepenuhnya modern.

​”Kami memperbarui arsitektur warisan kami dengan tumpukan teknologi modern yang berbasis cloud, open source, dan digerakkan oleh microservices,” kata Nassetta.

Fondasi itulah yang menjadi kunci fleksibilitas Hilton dalam mengembangkan berbagai penawaran AI secara lincah di pasar saat ini.

​Strategi ini dirancang secara holistik. Di sisi internal, karyawan Hilton juga memanfaatkan AI Planner untuk melakukan pengujian dan memetakan pengalaman menginap tamu secara lebih mendalam, guna memastikan standar layanan yang lebih presisi.

​Peta Persaingan Global dan Dampak Ekonomi AI

​Hilton bukanlah satu-satunya pemain yang berakselerasi. Pesaing beratnya, Marriott, juga telah mengumumkan investasi aktif dalam transformasi digital dengan merombak tiga sistem inti mereka.

Sementara itu, Wyndham Hotels & Resorts melaporkan telah mengerahkan 250 agen AI untuk mendukung layanan tamu di 7 persen jaringan hotel global mereka per tahun 2025.

​Menariknya, tren pembangunan pusat data (data center) global juga memberikan dampak ekonomi tak terduga bagi industri perhotelan.

Wyndham mencatat adanya lonjakan permintaan kamar untuk masa inap jangka panjang di area yang berdekatan dengan 10 proyek pusat data terbesar di Amerika Serikat sepanjang tahun 2024. Hal ini menunjukkan bahwa infrastruktur AI tidak hanya mengubah layanan hotel, tetapi juga menggerakkan pola permintaan pasar.

​Menuju Personalisasi dalam Skala Massal

​Bagi Nassetta, muara dari segala kecanggihan teknologi ini adalah menjaga loyalitas pelanggan. Ia ingin memastikan bahwa hubungan antara hotel dan tamu tidak terputus begitu mereka melangkah keluar dari pintu lobi.

​”Inovasi di seluruh bisnis kami adalah kompetensi inti,” tegasnya.

“Saat menerapkan teknologi baru, kami fokus pada kasus penggunaan yang berdampak luas untuk meningkatkan pengalaman tamu, memberikan nilai bagi pemilik, dan memberdayakan anggota tim,” katanya

​Meski mengakui adanya tantangan dari dinamika konflik global di Timur Tengah, Nassetta tetap optimis terhadap kinerja industri di sisa tahun ini. Baginya, dukungan regulasi dan peningkatan investasi swasta dalam infrastruktur AI akan menjadi mesin pertumbuhan di masa depan.

​”Saat mereka tidak bersama kami dalam langkah perjalanan pelanggan lainnya. Mereka harus tetap yakin akan kemampuan kami untuk memuaskan kebutuhan mereka dan melakukan kustomisasi dalam skala massal,” pungkas Nassetta.

 

Baca Juga