Percepat Otomatisasi AI, Nike Pangkas Ribuan Karyawan Teknologi

Nike

​Raksasa perlengkapan olahraga dunia, Nike, resmi mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sekitar 1.400 karyawan di tim operasi globalnya.

Langkah drastis ini didominasi oleh perampingan pada divisi teknologi, sebuah manuver strategis perusahaan untuk beradaptasi dengan peta jalan industri di tahun 2026.

​Executive Vice President sekaligus Chief Operating Officer Nike Venkatesh Alagirisamy mengatakan kebijakan ini merupakan bagian dari upaya optimalisasi rantai pasok dan percepatan implementasi teknologi perusahaan.

“Kami ingin menciptakan struktur operasional yang lebih ramping agar tim teknologi dapat bergerak selaras dengan kebutuhan bisnis yang dinamis,” katanya.

​Sebagai bagian dari reorganisasi ini, Nike akan memusatkan operasional teknologinya di dua hub utama yaitu Philip H. Knight Campus di Beaverton, Oregon, dan Nike India Technology Center.

​”Perubahan itu akan mengurangi kompleksitas perusahaan dan menjadikannya lebih responsif,” ujar Alagirisamy dalam keterangan resminya seperti dikutip CIO Dive.

Ia menekankan masa depan perusahaan bergantung pada penyederhanaan cara kerja dan pemanfaatan otomatisasi tingkat lanjut untuk membangun fondasi pertumbuhan jangka panjang yang lebih kokoh.

Pergeseran Anggaran ke Arah AI

​Langkah Nike itu memperpanjang daftar panjang efisiensi di sektor teknologi tahun 2026. Berdasarkan laporan Challenger, Gray & Christmas pada April lalu, sektor teknologi telah memangkas lebih dari 52.000 pekerja tahun ini, lonjakan sebesar 40 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

​Fenomena ini dipicu oleh pergeseran anggaran korporasi yang kini dialokasikan secara besar-besaran untuk investasi di bidang AI. Nike tidak sendirian; sejumlah raksasa industri telah lebih dulu mengambil langkah serupa:

  1. ​Home Depot: Memangkas 800 posisi di organisasi teknologi pada Februari lalu.
  2. ​Amazon: Merumahkan 30.000 karyawan sejak Oktober 2025 sebagai bagian dari pergeseran budaya perusahaan.
  3. ​Meta: Berencana memangkas sekitar 10 persen tenaga kerjanya pada Mei ini demi memacu pengembangan AI.

​Gelombang PHK yang masif mulai mengguncang psikologis pekerja. Laporan Glassdoor pada Maret mencatat bahwa kepercayaan diri karyawan di sektor teknologi merosot ke level terendah dalam setahun terakhir akibat ketidakpastian yang dipicu oleh pemotongan biaya berkelanjutan.

Transformasi Melalui Strategi “Win Now”

​Restrukturisasi di divisi teknologi itu menandai fase akhir dari strategi pemulihan “Win Now” yang dicanangkan CEO Nike, Elliott Hill, sejak Desember 2025. Strategi ini menitikberatkan pada inovasi dan peningkatan efisiensi operasional secara menyeluruh.

​Sejak menunjuk Alagirisamy akhir tahun lalu, Hill menegaskan visinya untuk mengintegrasikan teknologi secara penuh ke dalam setiap lini bisnis mulai dari tahap desain produk hingga ke tangan konsumen.

​”Kami dapat melihat dan memastikan teknologi terintegrasi penuh di seluruh perusahaan, mulai dari bagaimana kami berkreasi, merencanakan, memproduksi, mengirim, hingga menjual inovasi kelas dunia di tiga merek ikonik kami,” tutur Hill.

​Dalam laporan pendapatan kuartal ketiga (Q3) 2026 pada Maret lalu, Hill menyatakan optimismenya bahwa transformasi ini akan rampung pada penghujung tahun.

​”Kami sedang membentuk kembali pasar kami, mengatur ulang cara kami beroperasi, dan berinvestasi pada platform teknologi yang kami harapkan dapat membantu kami melayani lebih banyak konsumen dengan lebih baik, serta menjalankan bisnis secara lebih efektif,” tegas Hill dalam panggilan telepon tersebut.

​Langkah berani ini menjadi sinyal kuat bagi industri bahwa di era 2026. Kini dominasi pasar tidak lagi hanya ditentukan oleh kualitas produk fisik, melainkan seberapa tangkas perusahaan merombak struktur internal demi mengadopsi teknologi masa depan.

 

Baca Juga

IBM: AI Agent Kini Jadi Kebutuhan Utama Bisnis, Bukan Lagi Eksperimen

​Sebagai lembaga pemikir (think tank), IBM Institute for Business Value terus berkomitmen memadukan riset global dan data kinerja industri dengan kepakaran akademisi serta praktisi terkemuka guna menyajikan analisis strategis bagi para pemimpin bisnis di seluruh penjuru dunia.