Dampak AI: Efisiensi bagi Pimpinan, Lonceng Kematian bagi Pekerja?

Ilustrasi AI menggantikan pekerjaan manusia

Gelombang adopsi kecerdasan buatan (AI) di sektor korporasi kian tak terbendung. Namun, di balik ambisi efisiensi dan otomatisasi yang menggebu, muncul kegelisahan mendalam di lantai kerja. Pekerja kini dihantui dua ancaman besar yaitu hilangnya mata pencaharian dan ketidakadilan dalam implementasi teknologi.

​Laporan Work Futures 2026 yang dirilis Dexian mengungkapkan fakta pahit. Ada lebih dari dua pertiga pekerja menyatakan kekhawatiran bahwa AI akan membawa dampak negatif, termasuk potensi pengurangan tenaga kerja secara masif.

Survei itu melibatkan 1.000 pekerja penuh waktu dan 500 eksekutif level C-suite, memotret jurang persepsi yang kian melebar di dalam organisasi.

​Retaknya Kepercayaan dan Kesenjangan Persepsi

​Kekhawatiran pekerja bukan tanpa alasan tetapi diperparah oleh krisis kepercayaan terhadap manajemen. Lebih dari satu dari empat karyawan mengaku ragu, atau bahkan sama sekali tidak percaya, bahwa perusahaan mereka mampu menerapkan AI dan otomatisasi secara adil.

​Menariknya, optimisme justru meluap di level pimpinan. Para eksekutif C-suite menilai organisasi mereka jauh lebih siap mengadopsi AI dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Ada lebih dari separuh pimpinan menyebut perusahaannya “sangat siap” mengintegrasikan AI dan machine learning ke dalam operasional, melonjak signifikan dari angka 38 persen pada tahun lalu.

​Optimisme elite ini sering kali berbenturan dengan realitas di akar rumput. Di saat pemimpin menjanjikan AI akan menghapus tugas repetitif yang membosankan, para pekerja justru melihatnya sebagai lonceng kematian bagi stabilitas karier mereka.

Saat Kecemasan Menjadi Nyata

​Keresahan ini memiliki fondasi data yang kuat. Studi dari KPMG menunjukkan bahwa ketakutan terhadap pengurangan tenaga kerja akibat AI pada 2025 meningkat hampir dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya.

​Angka nyata pun mulai muncul ke permukaan. Firma outplacement Challenger, Gray & Christmas mencatat hampir 55.000 kasus pemutusan hubungan kerja (PHK) tahun lalu yang dikaitkan langsung dengan AI.

Bahkan firma riset itu memperingatkan bahwa angka itu kemungkinan besar hanyalah puncak gunung es, karena banyak kasus PHK akibat AI yang belum sepenuhnya terlaporkan ke publik.

Urgensi Pendekatan yang Lebih Manusiawi

​Kompleksitas adopsi AI menuntut para CIO dan pemimpin teknologi untuk tidak sekadar mengejar kecepatan. Lydia Wilson (Chief People Officer Dexian) menekankan bahwa keberhasilan transisi ini sangat bergantung pada manajemen perubahan yang empatik.

“Teknologi sehebat apa pun tidak akan berarti tanpa komunikasi yang transparan. Keberhasilan adopsi AI sangat bergantung pada komunikasi dan manajemen perubahan, terutama bagaimana mengajak orang untuk terlibat dan memastikan Anda terlalu banyak berkomunikasi,” katanya seperti dikutip CIO Dive.

​Meski banyak pakar menyarankan pembentukan center of excellence atau tim lintas fungsi untuk mengawal strategi AI, Wilson memberikan catatan kritis. Struktur organisasi saja tidak cukup jika fondasi dasarnya rapuh.

​“Saya setuju dengan pendekatan itu. Tapi saya tambahkan satu catatan, jika budaya organisasi Anda belum dibangun atas dasar kepercayaan dan komunikasi dua arah, satu kelompok itu tidak akan banyak berarti,” ucapnya.

​Dampak dari lemahnya komunikasi ini sangat nyata. Laporan Dexian menunjukkan lebih dari 20 persen pekerja merasa tidak yakin bahwa perusahaan mereka berinvestasi pada pelatihan yang membantu karyawan tetap relevan di era AI.

​“Saya rasa para pemimpin senior belum berkolaborasi sebaik atau sedekat yang seharusnya,” kata Wilson.

Ia menekankan pentingnya keselarasan di tingkat pimpinan dalam mengomunikasikan perubahan besar.

“Sejajarkan diri Anda dengan para pemimpin senior lainnya dalam cara mengomunikasikan perubahan besar apa pun. Dan jika Anda melakukan kesalahan, berdirilah dan akui bahwa Anda salah,” ucapnya.

​Pada akhirnya, laporan ini menegaskan bahwa tantangan terbesar AI bukan terletak pada kesiapan infrastruktur digital, melainkan pada kemampuan pemimpin untuk menjembatani jurang kepercayaan.

Tanpa transparansi, transformasi AI hanya akan melahirkan kecemasan yang justru melumpuhkan produktivitas dalam jangka panjang.

 

Baca Juga

Riset Terbaru Ungkap Kerapuhan Keamanan AI di Mata Para CIO

​Banyak Direktur Teknologi Informasi (CIO) saat ini tampak sangat yakin dengan sistem keamanan kecerdasan buatan (AI) yang mereka miliki. Namun, sebuah riset terbaru justru membongkar realitas yang jauh lebih rumit dan penuh dengan titik buta (blind spots).