Kejar ROI, Tim Keuangan Agresif Adopsi AI

​Penerapan teknologi kecerdasan buatan (AI) di sektor layanan keuangan mengalami lonjakan signifikan. Berdasarkan laporan riset kuartal ketiga dari KPMG, tiga perempat pemimpin sektor keuangan kini memanfaatkan teknologi AI, meningkat drastis dari tahun 2024 yang saat itu masih berada di bawah angka sepertiga.

​Survei yang melibatkan lebih dari 1.000 pemimpin senior keuangan di 20 negara itu menunjukkan bahwa adopsi AI bergerak sangat kencang.

Kendati demikian, adopsi AI di industri finansial tidak bisa terlepas dari tantangan. Setidaknya 71 persen responden menyatakan AI baru sebatas memenuhi ekspektasi pengembalian investasi (ROI). Sementara itu hanya 23 persen yang merasa AI melampaui harapan mereka.

​Di banyak organisasi, kecepatan adopsi kerap melampaui kemampuan perusahaan dalam menerjemahkannya menjadi kinerja skala enterprise yang merata.

Saat ini, pemanfaatan AI di sektor keuangan sebagian besar berfokus pada perencanaan finansial, pelaporan, dan analisis komersial.

​Tantangan Operasional dan Tata Kelola

​Dalam merombak operasi keuangan dan prediksi bisnis yang lebih akurat, para pemimpin teknologi memikul tugas yang tidak mudah.

Para CIO harus memastikan kesiapan sumber daya manusia dan alur kerja agar tidak kehilangan keunggulan kompetitif, mengingat kesenjangan keterampilan sering kali menjadi batu sandungan utama ketimbang teknologinya itu sendiri.

​Data KPMG menunjukkan bahwa keamanan data, privasi, dan risiko menjadi faktor utama yang memengaruhi strategi AI bagi hampir seluruh pemimpin keuangan.

Memasuki kuartal ketiga, para eksekutif keuangan mengerucutkan fokus pada empat prioritas utama:
​
1. Membingkai ulang AI berdasarkan nilai (value), bukan sekadar tugas mekanis.

​2. Memprioritaskan tata kelola (governance) AI.

​3. Membangun metrik pengukuran kinerja AI secara langsung ke dalam eksekusi.

​4. Membentuk kapabilitas tenaga kerja secara menyeluruh, bukan sekadar memberikan pelatihan teknis singkat.

​Senada dengan hal tersebut, laporan PwC menekankan meskipun keterampilan teknis sangat krusial, para CIO juga harus menumbuhkan keterampilan yang berpusat pada manusia (human-centric).

Keterampilan itu meliputi kemampuan melatih (coaching), kelincahan (agility), penilaian kritis (judgment), dan empati.

​Lebih lanjut, KPMG menemukan bahwa AI memberikan performa terbaik ketika digunakan untuk tugas-tugas yang membutuhkan pertimbangan mendalam (judgement-heavy tasks), alih-alih sekadar area pemotongan biaya.

Organisasi yang menerapkan AI berbasis agen (agentic AI) melaporkan performa yang jauh lebih kuat terkait akurasi peramalan dan ROI.

Menariknya, organisasi dengan tata kelola yang kuat mencatatkan hasil yang secara signifikan jauh lebih baik bahkan dalam beberapa kasus mencapai tiga hingga enam kali lipat dibandingkan rekan seindustri mereka.

​Mengatasi Hambatan Mendasar

​Kendala klasik seputar data dan talenta yang sempat disorot dua tahun lalu ternyata masih bertahan hingga kini. Menurut Nikki McAllen, (Global Head of Finance Advisory KPMG Australia) masalah ini harus ditangani secara fundamental.

“Kualitas data bukan merupakan masalah yang bisa diselesaikan dengan sekadar perbaikan teknologi. Kapabilitas tenaga kerja juga bukan sekadar rencana pelatihan,” ujarnya.

​Tim keuangan yang sukses adalah mereka yang mampu membangun kondisi fundamental yang disyaratkan oleh AI, seperti tata kelola yang matang, sistem pengukuran yang jelas, dan pengembangan kapabilitas tenaga kerja.

​”Kepercayaan adalah pembeda antara organisasi yang berhasil meraup nilai tambah dengan organisasi lainnya,” pungkas McAllen.

Baca Juga