Ini Alasan CIO Harus Punya Kendali Penuh Penerapan AI

CIO

​Di tengah gelombang investasi kecerdasan buatan (AI) yang kian masif di sektor korporasi, para pemimpin teknologi (CIO) kini menghadapi tantangan baru yaitu transparansi dan tata kelola anggaran.

Lonjakan belanja korporasi untuk teknologi kini tidak lagi hanya dimotori oleh departemen IT melainkan telah merambah ke berbagai lini bisnis secara luas.

​Riset terbaru Boston Consulting Group (BCG) yang melibatkan lebih dari 1.300 pemimpin teknologi menekankan pentingnya visibilitas menyeluruh dan manajemen terpadu bagi para CIO agar investasi AI memberikan nilai nyata.

​Berikut adalah rangkuman laporan dan pandangan para ahli mengenai dinamika adopsi AI di tingkat korporasi.

​Lonjakan Anggaran dan Pergeseran Fokus Belanja

​Berdasarkan laporan BCG, AI kini telah menjadi salah satu pos investasi perusahaan terbesar. Menariknya, 80 persen dari anggaran belanja AI justru berada di luar pos anggaran departemen IT tradisional.

​Secara persentase, belanja AI melonjak dari 1,7 persen pada akhir 2025 menjadi 3,3 persen saat ini. Sebagian besar dari pertumbuhan belanja itu dialokasikan untuk kebutuhan non-teknis, seperti pengembangan talenta AI dan pembangunan kerangka kerja tata kelola (governance).

​Vlad Lukic (Global Leader untuk Praktik Teknologi dan Keunggulan Digital BCG) menjelaskan bahwa AI pada dasarnya merepresentasikan transformasi bisnis secara keseluruhan. Karena itu, sangat wajar jika investasinya tersebar ke berbagai tim yang berbeda.

​”Yang sangat dibutuhkan oleh para CIO saat ini adalah visibilitas dan model manajemen yang seragam di seluruh pengeluaran tersebut,” ujar Lukic.

Menjembatani Teknologi dan Nilai Bisnis

​Dengan semakin luasnya pemanfaatan AI di berbagai lini, para CIO dituntut memiliki pandangan yang komprehensif mengenai titik implementasi teknologi, keterkaitannya dengan hasil bisnis, dan kalkulasi biaya secara keseluruhan.

​Lukic menegaskan bahwa para pemimpin teknologi harus mengambil peran layaknya seorang chief integration officer yang merancang arsitektur dan kontrol yang tepat.

​”Pendekatan ini memudahkan perusahaan menskalakan inisiatifdan mengaitkan anggaran langsung dengan nilai bisnis, bukan sekadar proyek yang berjalan sendiri-sendiri,” ucapnya.

​Kendati demikian, tekanan yang dirasakan para pimpinan teknologi tidak kecil. Berdasarkan survei Writer yang dipublikasikan pada bulan April, 61 persen pemimpin teknologi mengaku khawatir kehilangan pekerjaan jika mereka gagal memimpin organisasi melalui masa transisi AI ini.

Korporasi terus menggelontorkan dana untuk mengejar peningkatan produktivitas walaupun kepastian tingkat pengembalian investasi (ROI) kerap masih menjadi tantangan di tengah evolusi teknologi yang begitu cepat.

​Tantangan Nilai Bisnis dan Era Agentic AI

​Meskipun laporan Accenture mencatat bahwa Agentic AI (AI otonom) mampu mendongkrak produktivitas, jajaran eksekutif C-suite kerap kesulitan menemukan nilai bisnis yang berkelanjutan.

​Menurut Lukic, Agentic AI memiliki perbedaan mendasar dibanding model prediksi sebelumnya. Teknologi ini mampu melangkah lebih jauh dari sekadar membantu tugas individu, dan mulai merombak alur kerja secara ujung ke ujung (end-to-end workflow). Di sinilah perusahaan mulai melaporkan adanya nilai tambah yang nyata.

​Temuan BCG menunjukkan bahwa sistem agen cerdas ini diproyeksikan menyumbang dua perlima dari seluruh nilai ekonomi AI pada 2030.

Sebanyak 42 persen perusahaan berencana memberikan tingkat otonomi penuh kepada agen AI pada tahun yang sama. Saat ini, hampir separuh pemimpin teknologi telah mencatatkan nilai terukur dari adopsi AI.

​Kendati demikian, Lukic mengingatkan bahwa otonomi itu sendiri tidak serta-merta menciptakan nilai. Perusahaan yang paling diuntungkan dari sistem agen AI ini adalah mereka yang memiliki model operasional, struktur data, kepemilikan, dan sistem kontrol yang matang.

​Komposisi Keberhasilan Transformasi AI

​Dalam merancang perombakan besar berbasis AI, laporan BCG merekomendasikan agar perusahaan tidak hanya fokus pada perangkat lunak semata. Alokasi upaya ideal yang disarankan meliputi:

  • ​10 persen difokuskan pada algoritma.
  • ​20 persen dialokasikan untuk teknologi dan data.
  • ​70 persen sisanya dicurahkan pada aspek manusia, struktur organisasi, dan proses bisnis.

Lukic menekankan bahwa tumpukan teknologi (tech stack) yang canggih tidak akan mendatangkan ROI jika diterapkan pada alur kerja yang statis. Risiko kegagalan itu juga meningkat jika karyawan di dalam organisasi enggan mengadopsinya.

​”Kunci utamanya bukan sekadar teknologi, melainkan merombak proses, peran kerja, dan manajemen organisasi agar AI bisa melebur dalam operasional harian,” pungkas Lukic.

Baca Juga