Bertepatan dengan Hari Kesehatan Mental Sedunia yang jatuh setiap 10 Oktober, Halodoc merilis laporan berbasis data bertajuk “Navigating Indonesia’s Mental Health Landscape 2026”.
Laporan ini memotret pergeseran pola pencarian bantuan psikologis di tengah meningkatnya atensi publik terhadap isu kesejahteraan jiwa.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat prevalensi gangguan kejiwaan secara global berada di kisaran 1 dari 8 hingga 1 dari 10 orang. Dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 280 juta jiwa, diperkirakan ada sekitar 28 juta orang yang menghadapi persoalan kejiwaan.
Kondisi tersebut dikonfirmasi oleh program Cek Kesehatan Gratis (CKG) Kementerian Kesehatan RI sepanjang 2025–2026, yang mencatat hampir 10 persen anak dan remaja Indonesia terindikasi mengalami gejala kecemasan dan depresi. Angka ini menegaskan bahwa isu kesehatan mental dapat menyentuh seluruh lapisan masyarakat.
Menanggapi dinamika ini, Chief Marketing Officer Halodoc, Fibriyani Elastria, menjelaskan pentingnya kehadiran riset tersebut bagi ekosistem kesehatan digital.
“Memahami situasi hari ini, Halodoc turut menghadirkan perspektif dari sisi layanan kesehatan digital melalui perilisan Indonesia Health Insights Report untuk memberikan wawasan, edukasi, dan laporan berbasis data terpercaya (data-led) yang dapat dijadikan referensi bagi berbagai pihak. Sehingga harapannya dapat mendukung pemetaan pola akses layanan kesehatan mental masyarakat yang sesuai dengan kebutuhan, meningkatkan kesadaran kesehatan mental yang lebih luas, dan membantu masyarakat Indonesia mengambil langkah pertama yang benar-benar dibutuhkan, khususnya saat memerlukan bantuan profesional,” ujarnya.
Tren Konsultasi dan Dominasi Generasi Muda
Data internal Halodoc menunjukkan bahwa 1 dari 15 konsultasi kesehatan di platform tersebut kini berkaitan dengan isu kesehatan mental, mengalami kenaikan 8,1% dibandingkan tahun 2022. Menariknya, hampir dua pertiga dari lonjakan ini berasal dari pasien yang baru pertama kali mencoba berkonsultasi—menandakan stigma yang mulai luntur dan tumbuhnya keberanian publik.
Riset tersebut juga merinci profil pengguna yang memanfaatkan layanan ini:
1. Demografi Pengguna: Sebanyak 90,7 persen konsultasi didominasi oleh kelompok usia produktif 18–34 tahun, dengan 83,3 persen di antaranya merupakan perempuan.
2. Waktu Puncak Akses: Aktivitas konsultasi tercatat memuncak pada malam hari, yakni setelah pukul 21.00 WIB.
3. Preferensi Kanal: Telekonsultasi menjadi pilihan utama sejalan dengan komitmen Halodoc dalam mempermudah akses kesehatan (simplifying healthcare access) kapan pun dan di mana pun melalui tenaga medis berlisensi.
Tantangan Ansietas dan Beban Lintas Usia
Sepanjang semester pertama 2026, gangguan ansietas menduduki peringkat teratas diagnosis kesehatan mental di Halodoc dengan porsi 31,6 persen dari total konsultasi tumbuh 47,2 persen dibanding tahun sebelumnya. Kendati demikian, akar permasalahan di balik angka-angka tersebut sangat beragam di setiap kelompok usia:
1. Anak-anak: Persoalan seputar tumbuh kembang.
2. Remaja: Tekanan akademik serta dinamika keluarga.
3. Pria Usia Produktif: Tantangan terkait disfungsi seksual.
4. Perempuan Usia Produktif: Kombinasi antara depresi dan persoalan relasi.
5. Lansia: Penurunan fungsi kognitif, yang konsultasinya kerap diwakilkan oleh keluarga atau caregiver.
Temuan lain menyoroti asuransi kesehatan korporat. Porsi polis employee benefit yang mencakup layanan kesehatan mental meningkat konsisten dari 2,3 persen pada 2022 menjadi 5,5 persen pada 2026. Kendati demikian, pemanfaatannya oleh karyawan usia produktif masih sangat rendah, yakni hanya 1 dari 400 karyawan sepanjang semester 1 2026.
Miki Amrilya Wardati, S.Psi., M.Psi., Psikolog, selaku Mitra Psikolog Halodoc, menekankan pentingnya intervensi dini dalam melihat dinamika ini.
“Di balik setiap angka dalam laporan ini, ada cerita nyata dari masyarakat yang akhirnya berani mencari bantuan profesional, di mana mereka semakin terbuka di beberapa tahun terakhir untuk berkonsultasi. Konsultasi ke psikolog atau psikiater bukan tanda kita kalah dengan situasi. Justru, semakin cepat konsultasi dengan tim profesional, semakin ringan proses penyembuhannya. Setiap kelompok usia juga punya tantangan psikologis yang berbeda, sehingga penting bagi masyarakat untuk mengenali perubahan emosi dan perilaku sejak dini, sebelum kondisinya memburuk,” ujarnya.
Sebagai langkah preventif, Miki membagikan sejumlah panduan praktis untuk menjaga kesehatan mental secara mandiri:
- Kenali apa yang sedang dialami dan dirasakan oleh diri dan tubuh.
- Jaga kebutuhan dasar tubuh dengan baik.
- Tetap terhubung dan berkomunikasi dengan orang lain.
- Luangkan waktu untuk melakukan aktivitas yang bermakna, sekecil apa pun itu.
- Pahami kriteria yang menandakan kondisi mental mulai terganggu.
- Segera cari bantuan profesional tanpa menunggu kondisi menjadi berat.
Solusi Ekosistem Digital untuk Kesehatan Jiwa
Guna menjawab berbagai tantangan tersebut, Halodoc mengintegrasikan sejumlah layanan di dalam ekosistemnya untuk memfasilitasi akses bantuan profesional:
1. HILDA (Halodoc Intelligent Digital Assistant): Asisten berbasis kecerdasan buatan (AI) yang mendampingi navigasi awal kebutuhan kesehatan mental secara gratis melalui aplikasi, website, maupun WhatsApp sebagai pendamping permulaan.
2. Chat dengan Dokter: Akses konsultasi 24 jam dengan ratusan psikolog dan psikiater berlisensi, dilengkapi fitur “Dokter dan Psikolog Pilihan”.
3. Toko Kesehatan: Layanan tebus resep dengan jaminan produk original yang diantar langsung ke rumah.
Klinik Digital HaloIntima: Solusi terpadu untuk kebutuhan kesehatan seksual guna menjawab keluhan yang kerap dialami pria usia produktif.
4. Digital Cashless Outpatient (DCO): Fitur yang menghubungkan layanan kesehatan dengan asuransi atau fasilitas employee benefit perusahaan secara praktis.
“Melalui Q4 Health Insights Report ini, Halodoc mengajak masyarakat Indonesia untuk tidak menunda langkah mencari bantuan profesional ketika mengalami tanda-tanda gangguan kesehatan mental, sekaligus mendorong perusahaan untuk lebih aktif mengomunikasikan manfaat kesehatan mental yang telah tersedia dalam polis karyawan mereka. Kami berharap ekosistem layanan kesehatan digital yang kami hadirkan bisa membantu lebih banyak masyarakat Indonesia dan membuat mereka merasa tidak sendirian saat menghadapi masa-masa berat,” tutup Fibriyani.

