Kecerdasan buatan (AI) kini resmi menjadi motor penggerak utama di balik alokasi anggaran keamanan siber. Berdasarkan laporan terbaru yang dirilis oleh IANS dan Artico Search, pergeseran prioritas investasi itu mengemuka di tengah pertumbuhan belanja keamanan yang tergolong moderat.
Dalam survei tersebut, sekitar tujuh dari sepuluh Chief Information Security Officer (CISO) menempatkan AI sebagai urutan teratas prioritas belanja siber.
Dua fokus spesifik pemanfaatan anggaran berbasis AI itu mencakup otomatisasi operasional keamanan dan peningkatan manajemen identitas serta akses (identity and access management).
Secara makro, pertumbuhan belanja keamanan hanya naik 5 persen pada periode ini, tidak terpaut jauh dari kenaikan 4 persen pada laporan tahun sebelumnya. Melonjaknya prioritas AI terjadi ketika tren pertumbuhan investasi secara keseluruhan berjalan relatif konservatif.
IANS mencatat kisaran anggaran keamanan sangat bervariasi bergantung pada skala perusahaan. Alokasi itu mulai dari sekitar 1 juta dolar Amerika Serikat (AS) per tahun untuk korporasi dengan pendapatan 100 juta dolar AS atau kurang.
Nominalnya bisa melampaui 30 juta dolar AS bagi perusahaan yang memiliki pendapatan di atas 10 miliar dolar AS.
Tekanan Pasar dan Lonjakan Harga Vendor
Di sisi lain, para peneliti IANS mengungkapkan bahwa tim keamanan kini dihadapkan dengan membanjirnya berbagai perangkat teknologi terbaru sebagai respons atas kekhawatiran terhadap serangan siber berbasis AI.
”Para vendor berlomba-lomba memonetisasi demam AI (AI hype) dengan menambahkan fitur-fitur AI dan menggunakannya untuk membenarkan kenaikan harga yang signifikan,” ungkap Nick Kakolowski, Direktur Riset Senior IANS, kepada Cybersecurity Dive.
Kendati demikian, para CISO tetap optimistis AI akan mendongkrak produktivitas jangka panjang, sekaligus menepis kekhawatiran awal bahwa teknologi ini bakal membuat tim keamanan tradisional usang atau memicu gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) secara masif.
Seluruh temuan ini terangkum dalam laporan bertajuk 2026 Security Budget Benchmark Report yang menghimpun survei dari lebih dari 500 eksekutif keamanan.
Dokumen riset itu menganalisis berbagai isu krusial, mulai dari tren investasi, dinamika ketenagakerjaan, hingga strategi perlindungan digital perusahaan.
Peluang Penyerapan Tenaga Kerja Baru
Hasil laporan menunjukkan fakta menarik yaitu delapan dari sepuluh CISO meyakini AI justru akan memicu permintaan terhadap peran pekerjaan dan keahlian baru di bidang keamanan siber.
Sekitar tujuh dari sepuluh responden juga menegaskan bahwa mereka tidak berencana memangkas jumlah staf akibat kehadiran teknologi ini.
Dampak transformasi AI kini sangat terasa terutama saat organisasi mendeteksi celah kerentanan perangkat lunak dan merespons ancaman. Organisasi semakin masif memanfaatkan AI untuk memindai kelemahan kritis dan memburu aktivitas mencurigakan di dalam sistem mereka.
Pada saat yang sama, lanskap ancaman global turut bergeser. Peretas kriminal maupun kelompok yang berafiliasi dengan negara (state-linked hackers) turut memanfaatkan AI untuk mempercepat dan memperluas cakupan serangan siber mereka.


