Di tengah gelombang ambisi perusahaan yang kian tinggi dalam mengadopsi kecerdasan buatan (AI), sebuah celah besar justru menganga di tingkat kepemimpinan puncak.
Meskipun dewan direksi dan investor terus menuntut hasil nyata dari teknologi ini, tingkat pemahaman para petinggi korporasi atau C-suite terhadap AI masih tertinggal. Berdasarkan data perusahaan riset global Gartner, hanya 21 persen eksekutif C-suite yang menilai rekan-rekan sesama pemimpin bisnis memiliki pemahaman yang mumpuni atau “cakap AI”.
Gladys Yeo (Director Analyst di Gartner) mengatakan bahwa tantangan literasi AI ini bukan sekadar persoalan teknis melainkan isu kepemimpinan yang krusial. ”Kegagalan atau keberhasilan inisiatif AI di tingkat korporasi sangat ditentukan oleh bagaimana para pemimpin memandang dan menavigasi persoalan ini,” ujarnya.
Saat ini para eksekutif menghadapi keputusan strategis berisiko tinggi yang mencakup manajemen risiko, alokasi investasi, transformasi tenaga kerja, hingga strategi bisnis jangka panjang.
Semua keputusan itu menuntut pemahaman yang mendalam sekaligus persiapan matang supaya penerapan AI tepat sasaran.
Celah Pembelajaran di Tingkat Puncak
Sayangnya, isu literasi AI di kalangan eksekutif kerap diabaikan. Sebagian besar organisasi telanjur fokus pada program literasi AI untuk karyawan umum. Akibatnya, para pemimpin puncak harus puas dengan pembelajaran mandiri yang terfragmentasi dan bersifat generik.
Padahal, riset Gartner menunjukkan bahwa organisasi yang memprioritaskan literasi AI eksekutif memiliki kemampuan jauh lebih baik dalam mengubah ambisi AI menjadi nilai bisnis yang berkelanjutan. Di sinilah Chief Information Officer (CIO) dan para pemimpin teknologi memegang peran strategis untuk menjembatani kesenjangan tersebut.
Langkah awalnya adalah memahami makna literasi AI eksekutif dan membedakannya secara tegas dari literasi AI tingkat pekerja umum.
Selama ini, kapasitas literasi AI eksekutif hanya diukur dengan sekadar menggunakan perangkat generatif AI untuk keperluan pribadi. Padahal, literasi AI eksekutif jauh lebih luas dari itu karena memadukan pengetahuan kerja (working knowledge) mengenai data dan AI serta kemampuan menerapkan pertimbangan eksekutif (executive judgement) dalam setiap keputusan bisnis.
Untuk memperoleh pengetahuan kerja itu, para pemimpin bisnis harus melangkah lebih jauh dari sekadar memakai alat bantu pribadi. Mereka perlu memahami konsep inti seperti machine learning (pembelajaran mesin), generative AI, hingga agen AI (AI agents).
Dengan begitu, mereka mampu menetapkan ekspektasi yang realistis terhadap kapabilitas dan dampak bisnis dari teknologi tersebut.
Kendati demikian, para eksekutif tidak perlu bertransformasi menjadi insinyur AI atau pakar teknis. Mereka cukup memiliki pemahaman yang memadai untuk mempertanyakan asumsi, menguji klaim vendor, menetapkan ekspektasi yang realistis, dan memandu organisasi dalam mengambil keputusan terkait AI.
Empat Pilar Strategis Membangun Pertimbangan Eksekutif
Untuk membangun pertimbangan eksekutif yang matang, CIO harus membimbing para pemimpin korporasi melalui empat ranah strategis utama:
1. Melindungi (Protect): Mengawal Tata Kelola AI secara Bertanggung Jawab
CIO harus membantu para pemimpin membangun ketajaman manajerial untuk menavigasi area abu-abu dari sisi hukum, etika, dan regulasi di lanskap AI.
Seiring luasnya adopsi teknologi ini, para eksekutif akan memikul tanggung jawab penuh atas tata kelola, manajemen risiko, dan penerapan AI yang bertanggung jawab.
2. Memprioritaskan (Prioritize): Fokuskan Investasi AI pada Nilai Bisnis
CIO wajib membekali para pemimpin dengan kemampuan mengambil keputusan investasi AI yang terukur, realistis, dan sejalan dengan sasaran perusahaan.
Artinya, para pemimpin harus mampu mengevaluasi pertimbangan antara kelayakan, risiko, nilai, dan tingkat pengembalian investasi (return on investment). Mereka juga harus memahami desain ulang alur kerja, total biaya kepemilikan (total cost of ownership), hingga opsi pemilihan vendor secara objektif.
3. Mempersiapkan (Prepare): Memimpin Transformasi Tenaga Kerja Berbasis AI
Ketika AI merombak cara kerja konvensional, para eksekutif harus memiliki kapabilitas untuk memimpin transformasi tenaga kerja. Mereka wajib mengelola perubahan berbasis AI dan membangun kepercayaan diri karyawan.
Selain itu, mereka juga harus menyelaraskan program peningkatan keterampilan (upskilling) dan literasi AI yang spesifik berdasarkan peran masing-masing.
Saat perusahaan beranjak dari tahap uji coba (pilot) menuju skala penuh, para pemimpin harus mampu mengevaluasi model kolaborasi antara manusia dan AI. Tak hanya itu, mereka juga harus bisa merancang ulang peran dan alur kerja serta mengambil keputusan transisi tenaga kerja.
4. Memposisikan (Position): Membangun Keunggulan Kompetitif Jangka Panjang
CIO harus memastikan para eksekutif siap menilai bagaimana AI mampu mengubah dinamika persaingan dan strategi perusahaan.
Tidak kalah penting, para pemimpin harus memiliki kepekaan dalam mengidentifikasi aliran pendapatan baru, proposisi nilai, dan model bisnis anyar yang lahir berkat kehadiran AI.
Di saat dewan direksi dan investor menuntut hasil konkret dari pemanfaatan teknologi, para CIO berada di posisi unik untuk mengambil peran terdepan. Para CIO harus turun tangan membantu para eksekutif membangun ketajaman manajerial untuk menavigasi lanskap AI yang terus berkembang.
Harapannya, dewan direksi bisa menghasilkan keputusan yang lebih baik dan memimpin roda transformasi perusahaan.


