Dunia korporasi global saat ini sedang terjebak dalam sebuah paradoks yang menantang. Di satu sisi, adopsi kecerdasan buatan (AI) melaju kencang demi menjaga daya saing. Namun di sisi lain, kepercayaan terhadap sistem otonom tersebut masih berada di titik yang mengkhawatirkan.
Realitas kontradiktif ini terungkap dalam survei terbaru oleh penyedia layanan teknologi, Kyndryl. Meski AI telah merasuk ke dalam berbagai alur kerja, hanya seperempat dari 1.100 pemimpin bisnis dan teknologi memiliki kepercayaan penuh terhadap sistem AI.
Data yang dihimpun sepanjang Maret hingga April 2026 di delapan negara ini menjadi potret nyata bagaimana perusahaan terjepit di antara tuntutan inovasi dan kekhawatiran akan risiko operasional.
Otonomi yang Semakin Mendalam
Kendati kepercayaan masih menjadi kendala utama, ketergantungan perusahaan terhadap AI justru kian masif. Ada lebih dari 80 persen pemimpin teknologi memproyeksikan bahwa agen AI otonom akan mulai mengambil keputusan secara mandiri dalam waktu satu tahun ke depan.
Tren itu didukung oleh peningkatan integrasi yang signifikan. Sebanyak 57 persen pemimpin teknologi mengonfirmasi bahwa AI telah terintegrasi dalam proses bisnis utama, melonjak tajam dibandingkan angka 35 persen pada tahun lalu.
Angka tersebut menjadi indikator kuat bahwa otonomi mesin kini bukan lagi sekadar wacana, melainkan kenyataan yang tak terelakkan.
Menata Ulang Peran Manusia
Peningkatan ketergantungan itu membawa urgensi baru bagi strategi manajemen talenta. Kyndryl menyoroti bahwa pemimpin perusahaan kini dituntut untuk menyelaraskan keterampilan karyawan dengan perubahan cara kerja yang dipicu oleh AI.
Mark Paulek (Chief Human Resources Officer Kyndryl) menegaskan pentingnya menempatkan manusia sebagai pusat dari ekosistem ini.
“Ketika orang memahami peran mereka dalam sistem tersebut, kepercayaan dan kinerja akan meningkat bersamaan,” ujar Paulek.
Langkah adaptasi pun mulai terlihat masif. Lebih dari 60 persen responden telah merancang ulang struktur pekerjaan guna mengakomodasi kehadiran AI. Bahkan, hampir seperempat di antaranya telah menciptakan posisi baru yang secara spesifik fokus pada manajemen AI.
Menariknya, 95 persen responden lebih memilih melakukan upskilling bagi karyawan internal daripada menempuh jalur perekrutan eksternal.
Tata Kelola sebagai Penyangga Utama
Di tengah percepatan adopsi, tata kelola (governance) dan akuntabilitas menjadi elemen paling krusial untuk mencegah risiko otonomi yang tak terkontrol.
Riset dari Gartner yang diterbitkan Mei lalu menyarankan pendekatan tata kelola proporsional di mana setiap agen AI diberikan tingkat wewenang yang berbeda sebagai strategi efektif untuk memitigasi risiko.
Kim Basile (CIO Kyndryl) menambahkan bahwa perusahaan yang mampu mendampingi karyawan melalui masa transisi dengan pelatihan yang tepat cenderung meraih hasil lebih positif.
“Ini adalah momen kritis bagi perusahaan global saat mereka berlomba mengadopsi AI, merancang ulang alur kerja, dan mengejar inovasi,” kata Basile.
”Namun, mereka menyadari bahwa aset terbesar mereka yaitu manusia memerlukan perhatian lebih,” pungkasnya.
Pada akhirnya, tantangan terbesar bagi para pemimpin saat ini bukan lagi sekadar memilih teknologi tercanggih.
Fokus utamanya telah bergeser pada bagaimana menyeimbangkan otonomi mesin dengan kesiapan sumber daya manusia yang menjalankannya.


