Raksasa teknologi IBM resmi mengumumkan kolaborasi strategis dengan Google Cloud untuk mengintegrasikan platform IBM Consulting Advantage dengan Gemini Enterprise Agent Platform.
Langkah besar itu menyatukan keunggulan kecerdasan buatan (AI) dari kedua raksasa teknologi untuk membantu korporasi memodernisasi sistem warisan (legacy), mengelola infrastruktur hybrid-cloud, dan mempercepat adopsi AI.
Melalui kemitraan ini, IBM juga meluncurkan Google Cloud Practice yang diperkuat oleh ribuan konsultan bersertifikat dan tim teknisi lapangan (forward-deployed engineers).
Kerja sama berskala besar tersebut diproyeksikan bakal menjadi peluang bisnis baru yang bernilai miliaran dolar AS.
Kolaborasi itu sekaligus memperluas sinergi kedua perusahaan yang telah berjalan sebelumnya. Pada awal tahun ini, IBM telah memboyong sejumlah produk andalannya ke Google Cloud Marketplace, termasuk watsonx data lakehouse, sistem otomatisasi Hashicorp, hingga teknologi virtualisasi Red Hat OpenShift.
Ekspansi multiplatform itu menegaskan arah bisnis IBM yang kian agresif di sektor komputasi awan global. Sebelum merapat ke Google Cloud, IBM telah meluncurkan praktik konsultasi serupa dengan Microsoft pada tahun lalu.
Tak hanya itu, IBM juga sukses mengimplementasikan platform Consulting Advantage pada infrastruktur government cloud milik Amazon Web Services (AWS) pada Mei lalu.
AI Sebagai Mesin Pertumbuhan Baru
Di tengah transformasi bisnis IBM yang kini menggeser porosnya ke perangkat lunak (software) dan layanan (services), lini bisnis konsultasi sukses menjelma menjadi motor penggerak utama. Perannya krusial, terutama dalam memacu adopsi teknologi AI di pasar global.
Pentingnya peran AI dalam ekosistem baru ini ditegaskan langsung oleh CEO, Presiden, dan Chairman IBM, Arvind Krishna, di hadapan para investor dalam laporan pendapatan kuartal pertama (Q1) tahun 2026 pada April lalu.
”AI berfungsi sebagai penggerak pertumbuhan sekaligus mesin produktivitas,” ujar Krishna.
“Ketika agen-agen AI mengambil alih lebih banyak pekerjaan, proses pengiriman layanan (delivery) menjadi lebih cepat, lebih berbasis perangkat lunak, dan lebih terukur. IBM merespons pergeseran ini secara aktif melalui platform Consulting Advantage kami,” ujarnya.
Pernyataan tersebut tercermin langsung dalam laporan keuangan perusahaan. Lini bisnis konsultasi kini menyumbang hampir sepertiga dari total pendapatan IBM pada kuartal pertama 2026 yang menyentuh angka hampir 16 miliaran dolar AS.
CFO sekaligus SVP Keuangan dan Operasional IBM, James Kavanaugh, menambahkan bahwa sektor konsultasi ini berkontribusi terhadap sekitar 40 persen dari total kesepakatan kontrak baru (signing) yang diraih perusahaan pada periode tersebut.
Bisnis konsultasi kini resmi menjadi pilar utama bagi model bisnis “services-as-software” yang diusung IBM, sebuah istilah yang merujuk pada pemanfaatan otomatisasi AI untuk mengeksekusi tugas-tugas berbasis layanan.
Menjembatani Kebutuhan Industri Lewat Agen AI
Sebelum membuka platform IBM Consulting Advantage secara komersial kepada pelanggan, IBM sebenarnya telah menguji coba solusi AI generatif dan agentic AI ini secara internal di kalangan konsultannya sendiri selama dua tahun.
Kini, melalui integrasi teranyar dengan Google Cloud, IBM sedang membentuk tim agen AI (squads of AI agents) khusus untuk menyasar kebutuhan spesifik di berbagai sektor industri.
Targetnya mulai dari sektor kedirgantaraan, layanan keuangan, pemerintahan, layanan kesehatan, hingga telekomunikasi.
Selain itu, IBM juga membangun jalur pipa data (data pipelines) yang berfungsi menghubungkan data internal perusahaan secara aman dengan model-model AI Gemini milik Google.
Langkah IBM untuk memperbanyak jumlah konsultan teknis Google Cloud, termasuk menempatkan para teknisi langsung di lokasi kerja klien (on-site), dinilai sebagai jawaban strategis atas kebutuhan pasar saat ini.
Pasalnya, fenomena perusahaan teknologi raksasa (big tech) yang terus menyerap talenta-talenta AI terbaik telah memicu kelangkaan tenaga ahli di pasar, sekalipun gelombang pemangkasan hubungan kerja (PHK) masih melanda bidang-bidang TI lainnya. Pendekatan operasional yang taktis ini dijabarkan lebih lanjut oleh Andy Baldwin, SVP Offerings and Growth di IBM Consulting.
“Kami menggunakan istilah ‘forward-deployed unit’,” ungkap Baldwin kepada Channel Dive. “Kami menerjunkan tim-tim khusus (squads) yang di dalamnya terdiri atas seorang pakar domain proses, seorang ahli industri, serta para teknisi yang mengoperasikan platform tersebut,” ujarnya
Kemitraan ini menjadi penegas bahwa peta persaingan teknologi AI di tingkat korporasi kini sudah bergeser. Pertempuran tidak lagi sekadar adu canggih model AI di atas kertas, melainkan seberapa cepat, aman, dan fleksibel teknologi tersebut dapat diintegrasikan ke dalam urat nadi operasional bisnis nyata.


