Badai PHK AI Dimulai, Jack Dorsey PHK 4.000 Karyawan Block

Jack Dorsey (Pendiri sekaligus CEO Block)

​Jack Dorsey (Pendiri sekaligus CEO Block) baru saja mengguncang jagat teknologi melalui sebuah keputusan radikal. Raksasa di balik Square dan Cash App ini resmi mengumumkan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap hampir separuh tenaga kerjanya.

Namun, di balik angka tersebut, terselip pesan yang jauh lebih mengkhawatirkan bagi pekerja profesional di seluruh dunia.

​Dalam surat tahunan kepada pemegang saham, Dorsey mengungkapkan bahwa perusahaan memangkas “hampir setengah” dari total 10.000 lebih karyawannya. Sebanyak lebih dari 4.000 orang dilaporkan “diminta mengundurkan diri atau kini sedang memasuki masa konsultasi.”

​Langkah agresif ini tergolong masif, jauh melampaui efisiensi pada Maret 2025 yang “hanya” berdampak pada 931 pekerja. Ironisnya, perombakan besar-besaran ini justru dilakukan saat Block sedang berada di puncak performa dengan raihan laba mencapai USD1,3 miliar atau sekitar Rp20,4 triliun.

​AI Sebagai Katalisator Efisiensi

​Lantas, mengapa perusahaan yang sedang meraup untung besar justru melepas ribuan talenta terbaiknya? Jawabannya tunggal: Kecerdasan Buatan (AI).

​Meski mengakui keberhasilan finansial perusahaannya, Dorsey menegaskan bahwa kehadiran perangkat AI telah mengubah fundamental cara membangun dan mengelola sebuah bisnis secara permanen.

​”Alat-alat kecerdasan (intelligence tools) telah mengubah makna dari membangun dan menjalankan sebuah perusahaan,” tulis Dorsey.

“Kami membuktikannya sendiri. Tim kecil dengan alat buatan sendiri mampu bekerja lebih efisien. Kemampuan alat kecerdasan ini pun berkembang pesat dari minggu ke minggu,” ujarnya.

Peringatan bagi Sektor Teknologi, “Kalian Terlambat!”

​Dorsey tidak hanya bicara soal dapur internal Block. Ia melontarkan peringatan terbuka bagi para eksekutif dan pekerja global. Baginya, restrukturisasi berbasis AI bukanlah langkah yang terlalu dini, melainkan sebuah realitas yang tak terhindarkan.

​”Saya pikir sebagian besar perusahaan justru terlambat,” tegasnya. “Dalam satu tahun ke depan, saya yakin mayoritas perusahaan akan mencapai kesimpulan yang sama dan melakukan perubahan struktural serupa,” tegasnya.

​Kini, Dorsey berambisi mentransformasi Block menjadi perusahaan yang sepenuhnya intelligence-native. Ia meyakini organisasi yang lebih ramping akan menghasilkan fokus yang lebih tajam, peluncuran produk yang lebih cepat, serta adaptasi yang lebih gesit.

​”Kami percaya Block akan jauh lebih bernilai sebagai perusahaan yang lebih kecil, lebih cepat, dan berbasis kecerdasan. Semua yang kami lakukan dari sini adalah untuk melayani tujuan tersebut,” pungkas Dorsey dalam suratnya seperti dikutip SFGate.

​Euforia Pasar di Tengah Ketidakpastian Pekerja

​Pasar merespons manuver ini dengan euforia. Harga saham Block melonjak sekitar 23 persen dalam perdagangan pasca-penutupan segera setelah laporan keuangan dan berita PHK ini tersiar. Investor tampaknya menyukai visi efisiensi ekstrem yang ditawarkan Dorsey.

​Namun, di sisi lain, belum ada rincian mengenai divisi atau wilayah geografis mana yang paling terdampak. Hingga saat ini, Block juga belum memberikan komentar resmi maupun mengajukan pemberitahuan PHK (WARN) kepada otoritas California.

​Fenomena PHK massal yang didorong oleh AI ini kian mempertebal kecemasan para pekerja teknologi. Dengan alat seperti Claude Code dan OpenAI Codex yang mampu mengotomatisasi penulisan kode, masa depan profesi rekayasa perangkat lunak (software engineering) kini berada di persimpangan jalan yang penuh ketidakpastian.

 

Baca Juga

Riset Terbaru Ungkap Kerapuhan Keamanan AI di Mata Para CIO

​Banyak Direktur Teknologi Informasi (CIO) saat ini tampak sangat yakin dengan sistem keamanan kecerdasan buatan (AI) yang mereka miliki. Namun, sebuah riset terbaru justru membongkar realitas yang jauh lebih rumit dan penuh dengan titik buta (blind spots).