Wells Fargo dan Citigroup Pimpin Perlombaan Injeksi Modal AI di Industri Keuangan

CitiBank

​Industri perbankan global kini telah menanggalkan peran sebagai penonton dalam revolusi kecerdasan buatan (AI). Laporan terbaru Evident Insights AI Ventures Tracker mengungkapkan pergeseran besar terjadi di bahwa bank-bank raksasa dunia.

Kini bank-bank raksasa dunia bertransformasi menjadi investor aktif untuk mempercepat adopsi dan memperluas skala teknologi AI di seluruh lini bisnis mereka.

​Dalam laporan yang dirilis Kamis lalu, investasi modal ventura (Venture Capital) dari sektor perbankan terpantau fokus pada empat pilar utama yaitu platform AI, teknologi finansial (fintech), Software as a Service (SaaS), hingga keamanan siber.

Tak tanggung-tanggung, dari 50 bank global yang tercatat ada sebanyak 199 investasi teknologi telah digelontorkan sepanjang tahun 2025.

​Pertumbuhan Melampaui Pasar Umum

​Satu temuan paling mencolok adalah laju investasi AI di sektor perbankan yang kini melampaui pasar teknologi secara luas.

Investasi khusus AI oleh perbankan mencatatkan tingkat pertumbuhan tahunan gabungan (CAGR) sebesar 21 persen. Angka itu jauh mengungguli kesepakatan modal ventura teknologi umum yang “hanya” tumbuh 8 persen per tahun dalam periode 2023 hingga 2025.

​Langkah agresif itu bukan tanpa alasan. Perbankan memiliki ambisi besar untuk mengintegrasikan AI ke dalam operasional inti, membangun infrastruktur dasar yang mumpuni, serta memperkuat pertahanan organisasi terhadap ancaman siber berbasis AI yang kian canggih.

​Dalam peta kompetisi ini, institusi asal Amerika Serikat masih mendominasi panggung. Wells Fargo, Citigroup, dan Goldman Sachs menempati posisi teratas dalam volume kesepakatan AI.

Fakta bahwa enam dari sepuluh bank paling aktif dalam pendanaan ventura AI berbasis di AS semakin mempertegas dominasi tersebut.

​Mengejar Efisiensi Lewat ‘Agentic AI’

​Memasuki tahun 2026, perusahaan jasa keuangan di AS kian mengakselerasi investasi mereka. Fokus utamanya adalah mengejar efisiensi operasional melalui agentic technology, satu level di atas AI konvensional karena sistem ini tidak hanya memberikan saran, tetapi mampu mengambil tindakan secara mandiri.

​Implementasi nyatanya terlihat pada dukungan Citi Ventures, Goldman Sachs Growth Equity, dan BNY terhadap Conquest Planning.

Startup fintech ini memanfaatkan AI untuk menganalisis data keuangan nasabah guna memberikan opsi rencana dan nasihat finansial secara otomatis.

​Dalam jangka panjang, Conquest Planning berencana menggunakan agentic AI untuk mengeksekusi tindakan langsung berdasarkan saran yang dihasilkan. Inilah titik krusial di mana bank investor mengharapkan imbal balik besar.

​“Berhasil memecahkan tantangan ini akan mengubah investasi, dari sekadar bantuan operasional menjadi keuntungan investasi ala modal ventura (venture-style returns),” tulis ringkasan laporan Evident Insights sebagaimana dikutip CIO Dive.

​Transformasi Alur Kerja dan Produktivitas

​Gelombang adopsi AI diprediksi akan terus melonjak tajam. Laporan dari perusahaan perangkat lunak Finastra menyebutkan bahwa 42 persen perusahaan keuangan di AS berencana meningkatkan investasi AI internal mereka sebesar 50 persen atau lebih.

​Citigroup, misalnya, sedang menguji coba fitur kolaborasi berbasis AI bernama Spaces di dalam platform Stylus Workspaces. Langkah itu menyusul peluncuran alat agentic AI pada platform yang sama pada September lalu.

​Setali tiga uang, Goldman Sachs telah mengidentifikasi enam proses operasional yang siap dirombak total oleh AI demi memacu produktivitas.

CEO Goldman Sachs, David Solomon, menekankan bahwa fleksibilitas operasional adalah kunci pertumbuhan masa depan.

​“Jika kami dapat merombak proses dan menciptakan efisiensi serta fleksibilitas operasional yang lebih besar, hal itu akan membebaskan lebih banyak kapasitas untuk berinvestasi di area pertumbuhan,” ujar Solomon dalam panggilan laba kuartal keempat tahun 2025 pada Januari lalu.

Kolaborasi Strategis dengan Raksasa Teknologi

​Laporan tren perbankan 2026 dari Accenture memprediksi perbankan akan semakin intens merangkul platform dari raksasa teknologi untuk membangun “agen” yang selaras dengan identitas merek, kepatuhan (compliance), dan standar layanan.

Sinyal kuat itu terlihat dari kolaborasi strategis antara Anthropic dan Infosys dalam mengembangkan agen AI khusus untuk sektor keuangan.

​Andrew Young (Managing Director dan Global Talent and Organization Lead) untuk jasa keuangan di Accenture mencatat bahwa agentic AI akan bertransformasi dari tahap implementasi awal menuju skala yang lebih luas tahun ini.

​“Bank-bank terkemuka kini mengerahkan agen AI di seluruh operasional, di mana agen tersebut bekerja berdampingan dengan karyawan atau menangani tugas-tugas tertentu secara mandiri,” ucap Young.

“Pergeseran ini mengubah hakikat pekerjaan secara cepat dan pada akhirnya akan membuka efisiensi serta pertumbuhan baru,” ujarnya.

 

Baca Juga

Mengapa CIO Harus Menjadikan ‘Governance’ Fondasi Arsitektur AI?

Model tata kelola AI tradisional kini telah kehilangan relevansinya. Model lama yang hanya mengandalkan audit berkala dan kebijakan statis dianggap tidak lagi memadai. Pendekatan itu dinilai tidak mampu mengimbangi arsitektur AI modern yang bersifat nondeterministik, seperti Retrieval-Augmented Generation (RAG) dan sistem agen otonom.