UT Gandeng Microsoft Azure AI Revolusi Pembelajaran Jarak Jauh

Kini, UT menggandeng Microsoft Azure AI untuk membawa pengalaman belajar jarak jauh ke level yang lebih cerdas dan efisien.

Universitas Terbuka (UT), universitas negeri terbesar di Indonesia berdasarkan jumlah mahasiswa kembali menunjukkan komitmennya menghadirkan pendidikan tinggi yang inklusif dan adaptif bagi seluruh rakyat Indonesia.

Kini, UT menggandeng Microsoft Azure AI untuk membawa pengalaman belajar jarak jauh ke level yang lebih cerdas dan efisien.

Selama beberapa tahun terakhir, model open distance learning UT tumbuh pesat berkat kemudahan akses dan biaya yang terjangkau.

Saat ini UT memiliki lebih dari 525.000 mahasiswa aktif, dan jumlahnya diperkirakan akan mencapai 750.000 sebelum 2025.

Namun, lonjakan ini menimbulkan tantangan baru. UT harus menemukan cara memberikan layanan tutorial yang cepat, personal, dan efektif bagi ratusan ribu mahasiswa sekaligus.

“Banyak dosen kami harus mengajar ratusan mahasiswa di belasan kelas berbeda. Membalas pertanyaan atau tugas bisa memakan waktu hingga seminggu,” ujar Dimas Agung Prasetyo (Kepala Program Studi S1 Data Science Universitas Terbuka sekaligus inisiator proyek AI di UT).

Situasi itu membuat dosen kewalahan dan berdampak pada kepuasan serta motivasi belajar mahasiswa. UT pun sadar, untuk terus tumbuh dan tetap relevan di era digital, dibutuhkan pendekatan baru. Salah satu kuncinya adalah dengan mengandalkan kecerdasan buatan (AI).

Meringankan Beban Dosen

UT mengadopsi solusi Azure AI, data, dan app services dari Microsoft untuk menjaga kualitas pembelajaran tanpa menambah beban pengajar.

Sistem itu memanfaatkan hybrid infrastructure yang memungkinkan UT membagi beban kerja antara server internal (on-premises) dan arsitektur microservices di Azure.

Dengan kapasitas cloud yang mampu menampung hingga 60.000 pengguna secara bersamaan, Azure memberikan UT skala dan stabilitas yang dibutuhkan terutama menuju target 1 juta mahasiswa aktif pada 2027.

“Kami butuh solusi yang bisa diandalkan untuk jumlah mahasiswa sebesar itu. Azure OpenAI Service memberikan skalabilitas yang kami perlukan,” kata Prasetyo.

Pada 2023, UT meluncurkan AI tutor melalui Azure AI Foundry dan mengintegrasikannya dengan Learning Management System (LMS) berbasis Moodle.

AI tutor ini menggunakan model GPT terbaru dari Azure OpenAI Service sehingga memungkinkan pengujian paralel untuk berbagai versi model.

“Kami menggunakan Azure AI Foundry sebagai integrated development environment kami,” tambahnya.

Jawaban AI yang Tepat dan Selaras Kurikulum

Untuk memastikan AI tutor memberikan jawaban yang tepat dan selaras dengan kurikulum, UT melakukan proses pengindeksan materi kuliah dan grading rubrics. Langkah itu mencakup lima mata kuliah inti, seperti Bahasa Indonesia dan Pendidikan Kewarganegaraan.

Proses digitalisasi itu dibantu oleh Azure AI Document Intelligence. Sementara hasilnya disimpan di Azure Blob Storage dan Azure Cosmos DB.

“Proses pengindeksannya berjalan lebih cepat dari perkiraan. Basis pengetahuannya juga mudah diperbarui,” ucap Prasetyo.

Dengan pendekatan Retrieval Augmented Generation (RAG), AI tutor mampu memberikan respons yang relevan dan selaras dengan materi dosen.

Penggunaan Azure Cosmos DB juga mempercepat waktu respons AI dan terintegrasi dengan basis data PostgreSQL yang menyimpan data umum LMS.

“Azure Kubernetes Service memudahkan kami menerapkan arsitektur microservices secara otomatis dan tanpa banyak kerepotan. Dan Azure App Service membuat proses deployment jauh lebih cepat. Kami percaya Azure sudah melakukan fine-tuning untuk kami,” ujarnya.

Dengan sistem modern berbasis Azure ini, beban kerja tim IT UT pun menurun karena pemeliharaan pusat data internal semakin minimal.

Belajar Lebih Fleksibel dan Inklusif

AI tutor di UT tidak hanya menjawab pertanyaan mahasiswa, tetapi juga memberikan umpan balik atas tugas yang dikumpulkan. Melalui Azure AI Vision dengan kemampuan optical character recognition (OCR), mahasiswa dapat mengirimkan tugas dalam format teks, Word, atau PDF.

AI tutor yang selalu aktif 24 jam ini membuat mahasiswa bisa belajar kapan pun tanpa menunggu dosen online. Para mahasiswa bisa langsung memperoleh jawaban, rujukan tambahan, hingga saran untuk meningkatkan kualitas tugas.

Pada tahap awal, AI tutor diuji coba pada 500 mahasiswa dari lima mata kuliah inti. Setelah terbukti berhasil, proyek ini diperluas hingga 100.000 mahasiswa. UT kini bersiap memperluasnya ke 1.000 kelas dan menjadikannya tersedia untuk seluruh mata kuliah di masa depan.

Nilai Mahasiswa Naik, Dosen Lebih Produktif

Dampak nyata kehadiran AI tutor terlihat pada peningkatan partisipasi dan performa mahasiswa.

“Mahasiswa yang memiliki AI tutor di kelasnya bisa mendapatkan nilai yang lebih baik dibandingkan mereka yang tidak,” ungkap Prasetyo.

Penelitian terhadap empat mata kuliah yang diikuti hampir 38.000 mahasiswa menunjukkan hasil menarik. Mahasiswa yang menggunakan AI tutor cenderung lebih aktif berdiskusi dan meraih nilai tugas yang jauh lebih tinggi.

Selain meningkatkan hasil belajar, AI tutor juga mengurangi beban dosen secara drastis. “Kami tidak perlu menjawab satu per satu postingan mahasiswa. Cukup mengkurasi respons AI saja,” ujarnya.

Tugas pembuatan soal dan materi yang biasanya memakan waktu beberapa hari kini bisa diselesaikan hanya dalam satu atau dua hari.

Dosen dapat lebih fokus pada riset, pengembangan kurikulum, dan bimbingan personal. Saat ini UT sedang menguji kemampuan baru AI tutor yang bisa mengenali tulisan tangan pada soal matematika.

“Seiring jumlah mahasiswa kami yang terus bertambah, AI tutor membantu memberikan layanan yang lebih responsif dan efisien, sekaligus menjaga biaya kuliah tetap terjangkau,” tutup Prasetyo.

AI, Jembatan Menuju Pendidikan yang Lebih Merata

Dengan mengintegrasikan Azure AI, UT berhasil mempermudah pembelajaran jarak jauh bagi ratusan ribu mahasiswa. Langkah itu juga menciptakan ekosistem pendidikan digital yang lebih adaptif, inklusif, dan berkelanjutan.

Inovasi teknologi dari Microsoft membuktikan bahwa AI bukan sekadar alat bantu dosen, tetapi jembatan menuju masa depan pendidikan yang lebih merata di seluruh Indonesia.

Baca Juga

Fintech Kuasai Agentic AI, Bank Terancam Tertinggal

Menurut laporan terbaru McKinsey & Co, fintech kini menjadi pemain paling agresif dalam mengadopsi teknologi AI khususnya agentic AI. Sedangkan, banyak bank tradisional masih terseret proses internal yang panjang dan keterbatasan teknologi lama.