Di atas kertas, kecerdasan buatan (AI) menjanjikan efisiensi sebagai solusi pamungkas produktivitas. Namun, di balik layar perkantoran global, realitas yang terjadi justru berbanding terbalik.
Alih-alih meringankan beban, integrasi AI di tempat kerja justru menciptakan tekanan baru bagi para karyawan yang kini dituntut melakukan lebih banyak hal dengan sumber daya yang kian terbatas.
Laporan terbaru dari platform pengalaman karyawan, Culture Amp mengungkap adanya kesenjangan ekspektasi yang mengkhawatirkan antara manajemen puncak dan staf operasional.
Temuan itu menyoroti bahwa ambisi perusahaan terhadap AI sering kali mengorbankan keterlibatan (engagement) karyawan hanya demi mengejar angka performa semata.
Kesenjangan Ekspektasi di Level C-Suite
Berdasarkan riset tersebut, sebanyak 96 persen pemimpin di level C-suite menaruh harapan besar bahwa AI akan mendongkrak output perusahaan secara signifikan.
Namun, suara dari akar rumput berkata lain. Sebanyak 77 persen karyawan justru melaporkan bahwa alat-alat berbasis AI malah meningkatkan beban kerja.
Kondisi itu diperparah oleh tren menurunnya indikator pengalaman karyawan secara global. Culture Amp mencatat bahwa banyak pemimpin perusahaan saat ini menganggap investasi pada keterlibatan karyawan sebagai sebuah “kemewahan” yang bisa dipangkas, terutama saat kondisi ekonomi sedang menantang.
Padahal, mengabaikan aspek budaya kerja demi performa jangka pendek bisa menjadi bumerang bagi nilai pemegang saham.
Laporan itu mencatat pola yang berulang. Para pemimpin bisnis cenderung memprioritaskan keterlibatan karyawan hanya saat masa pertumbuhan tetapi segera beralih ke metrik performa yang kaku saat terjadi perlambatan ekonomi.
”Peak Performance”: Kunci Lonjakan Harga Saham
Riset yang memantau 1.800 organisasi secara global selama dua tahun ini mengidentifikasi kategori perusahaan berstatus “Peak Performance”.
Kategori itu diisi oleh organisasi yang berhasil mengawinkan tingkat keterlibatan karyawan yang tinggi dengan kepercayaan diri pada performa yang solid.
Hasilnya cukup mengejutkan dari sisi finansial:
- Perusahaan dalam kategori ini mencatatkan kenaikan harga saham sebesar 25 persen hanya dalam satu tahun.
- Dalam jangka dua tahun, total kenaikan harga saham mencapai 36 persen.
Secara keseluruhan, organisasi yang berfokus ganda pada budaya kerja dan performa memiliki keunggulan perubahan harga saham hingga 47 persen.
Caroline Rawlinson (CEO Culture Amp) menegaskan bahwa memperdebatkan antara budaya kerja atau performa adalah sebuah kekeliruan besar.
“Saat para pemimpin global menghadapi tekanan untuk menunjukkan ROI (return on investment) dari modal manusia, banyak yang merespons dengan memperlakukan budaya dan performa sebagai pilihan,” ujar Rawlinson dalam pernyataan resminya seperti dikutip CIO Dive.
“Penelitian ini membuktikan adanya dikotomi yang keliru. Budaya dan performa tinggi saling terkait erat karena budaya adalah fondasi dari semua elemen kinerja bisnis yang melibatkan manusia,” ucapnya.
Budaya sebagai Sistem Operasi Bisnis
Rawlinson menganalogikan budaya kerja bukan sekadar fasilitas kantor, melainkan sebagai “sistem operasi fundamental” yang mengatur bagaimana keputusan diambil.
Menurutnya, berinvestasi pada budaya adalah strategi organisasi untuk membangun kondisi agar tim dapat memberikan hasil terbaik dan memberikan imbal hasil finansial yang terukur secara konsisten.
Namun, realitas di lapangan menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Di Amerika Serikat (AS), keterlibatan pekerja justru sedang lesu.
Data dari Gallup menunjukkan penurunan signifikan dari puncaknya sebesar 36 persen pada tahun 2020 menjadi 31 persen pada tahun 2024, dan diprediksi tetap stagnan hingga tahun 2025. Artinya, ada sekitar 8 juta pekerja yang kehilangan keterlibatan aktif mereka dalam lima tahun terakhir.
Keamanan Kerja Menjadi Prioritas Utama
Di tengah ketidakpastian teknologi dan ekonomi, prioritas karyawan kini mulai bergeser. Jajak pendapat dari Adecco menemukan bahwa keamanan kerja yang nyata telah menyalip kepuasan pribadi sebagai faktor utama seseorang bertahan di sebuah perusahaan.
Para pekerja saat ini menuntut pendapatan yang stabil dan kepastian kerja agar mereka tetap bisa lincah dan tangguh di era AI.
Pada akhirnya, tantangan bagi perusahaan modern bukan lagi sekadar mengadopsi teknologi AI tercanggih. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana menjaga agar manusia di dalamnya tidak “terbakar habis” (burnout) oleh AI yang seharusnya membantu mereka.
Tanpa budaya kerja yang kuat, AI mungkin hanya akan menjadi beban kerja tambahan yang sangat mahal harganya.


