Di tengah dinamika makroekonomi dan ketidakpastian geopolitik global, peran Direktur Keuangan atau Chief Financial Officer (CFO) kini kian krusial.
Tak lagi sekadar menjadi penjaga pembukuan konvensional, para bos keuangan ini dituntut bertransformasi menjadi kompas strategis perusahaan.
Guna mencapai efisiensi tinggi dan mendongkrak produktivitas, para CFO mulai berlomba mengadopsi kecerdasan buatan (AI). Langkah masif ini diprediksi bakal mengubah struktur tim finansial masa depan secara radikal.
Runtuhnya Piramida Tradisional Departemen Keuangan
Riset terbaru dari firma konsultan Oliver Wyman (anak perusahaan Marsh) bersama New York Stock Exchange (NYSE) mengungkapkan bahwa mayoritas CFO memproyeksikan jumlah anggota tim finansial mereka akan menyusut dalam tiga tahun ke depan. Tren perampingan ini dipicu oleh masifnya investasi korporasi pada sektor otomasi dan AI.
Berdasarkan survei terhadap hampir 500 CFO global tersebut, sebanyak 30 persen responden secara terbuka menyatakan bakal memangkas jumlah karyawan.
Sementara itu, 61 persen lainnya memprediksi penurunan jumlah staf akan berada di bawah angka 10 persen, atau setidaknya bertahan di posisi yang sama (flat).
Namun, laporan tersebut menggarisbawahi bahwa fenomena paling krusial sebenarnya bukan sekadar penyusutan kuantitas, melainkan pergeseran kompetensi dan komposisi internal tim.
Integrasi AI dan sistem otomatisasi vertikal diproyeksikan bakal melenyapkan pekerjaan finansial yang bersifat manual dan padat karya.
Dampaknya, ruang bagi karyawan tingkat pemula (junior roles) dipastikan makin sempit. Sebanyak 64 persen CFO bahkan bersiap mengurangi porsi peran junior di dalam tim mereka.
”Perubahan yang lebih signifikan justru terletak pada komposisi staf keuangan. Pergeseran dari peran yang lebih junior itu mencerminkan perubahan mendalam pada esensi pekerjaan itu sendiri,” tulis laporan Oliver Wyman.
Dampaknya, struktur tim keuangan yang awalnya berbentuk piramida tradisional dengan fondasi bawah yang didominasi staf junior, kini mulai mendatar. Struktur itu bermutasi menjadi bentuk berlian yang menebal di bagian tengah (middle-heavy diamond).
Cetak biru baru ini tercermin dari data survei, sebanyak 41 persen responden berniat merekrut lebih banyak staf tingkat menengah (midlevel). Sedangkan, 23 persen lainnya memilih memperbanyak profesional di level senior.
Dari Penjaga Kas Menjadi Pengemudi Strategi Bisnis
Kebutuhan akan tim yang lebih ramping tetapi sarat pengalaman itu berjalan lurus dengan tuntutan baru bagi para CFO. Saat ini, korporasi membutuhkan analisis mendalam dan arah strategis yang adaptif agar tetap mampu menakhodai situasi pasar yang dinamis.
Kondisi tersebut memaksa para CFO memiliki keahlian makro yang jauh melampaui urusan akuntansi standar.
Sebanyak 70 persen pemimpin keuangan kini menempatkan agenda “merumuskan strategi dan transformasi” sebagai satu dari tiga prioritas utama mereka.
Tak hanya itu, 72 persen CFO memprediksi tanggung jawab strategis ini akan semakin dominan dalam tiga tahun ke depan.
Sebaliknya, tugas-tugas klasik seperti pelaporan keuangan bulanan dan tata kelola data justru dinilai tidak lagi menjadi prioritas utama. Singkatnya, seorang CFO masa depan dituntut untuk memainkan banyak peran sekaligus secara simultan.
”Pemimpin keuangan dituntut menjadi operator, alokator modal, sekaligus kopilot analitis secara bersamaan,” ungkap hasil survei tersebut.
Laporan itu juga mencatat bahwa para CFO kini memegang kendali atas lima agenda berbeda secara paralel. Agenda tersebut mulai dari melakukan skala adopsi AI di organisasi, menyeimbangkan antara efisiensi biaya dan pertumbuhan, hingga merancang ulang serta mentransformasi fungsi departemen keuangan itu sendiri.
Anggaran AI Melejit, Eksekusi Masih Sebatas Prototip
Demi mewujudkan transformasi ini, teknologi AI ditempatkan sebagai tuas penggerak utama. Sebanyak 80 persen pemimpin finansial sepakat bahwa AI adalah instrumen krusial untuk mendorong perubahan di sektor keuangan.
Komitmen ini dibuktikan dengan rencana peningkatan anggaran belanja teknologi, sebanyak 61 persen responden menyatakan pengeluaran perusahaan untuk AI korporasi (enterprise AI) akan melonjak antara 5 persen hingga 20 persen pada akhir tahun ini.
Meski demikian, fakta di lapangan menunjukkan adanya jurang pemisah yang lebar antara derasnya arus investasi modal dengan tingkat kesiapan eksekusi. Mayoritas perusahaan rupanya masih meraba-raba dalam mengimplementasikan teknologi ini secara praktis.
Sebanyak 70 persen CFO mengakui bahwa pemanfaatan AI dalam aktivitas krusial finansial mereka saat ini masih berada dalam tahap perencanaan atau proyek percontohan (piloting). Baru sekitar 8 persen perusahaan yang sudah benar-benar menerapkan solusi atau agen berbasis AI dalam skala penuh (at scale).
Di sisi lain, para bos keuangan ini tampaknya masih membutuhkan pembuktian lebih lanjut sebelum sepenuhnya percaya bahwa AI dapat menjadi mesin pencetak nilai baru bagi korporasi. Tercatat hanya 6 persen CFO yang menempatkan investasi AI sebagai strategi utama untuk mendongkrak nilai perusahaan (enterprise value).
Oliver Wyman menyimpulkan bahwa rendahnya angka tersebut “mengindikasikan adanya skeptisisme di kalangan pelaku industri terhadap efektivitas dari upaya-upaya adopsi AI yang telah dilakukan sejauh ini.”


