Kecerdasan buatan (AI) kini bukan sekadar alat bantu produktivitas, melainkan asisten digital yang bisa mengambil keputusan dan menjalankan tugas layaknya rekan kerja manusia. Fenomena itu melahirkan generasi terbaru otomasi Agentic AI, sebuah sistem cerdas yang bisa bertindak otonom untuk menyelesaikan pekerjaan kompleks.
Namun, di balik peluang besar itu, muncul tantangan besar bagi perusahaan: bagaimana menyiapkan karyawan agar mampu bekerja berdampingan dengan Agentic AI.
Menurut laporan MIT, 95 persen perusahaan belum melihat hasil signifikan dari investasi AI mereka. Salah satu penyebabnya, berdasarkan laporan AWS, hanya 14 persen organisasi yang memiliki strategi manajemen perubahan yang matang.
“Teknologi terbaik pun tidak akan memberi nilai apa-apa jika tidak digunakan. Adopsi adalah tahap paling krusial,” kata Michael Connell (COO Enthought). “Pemimpin harus serius mendorong perubahan manajemen. Ini sama pentingnya dengan membangun teknologinya,” ujarnya seperti dikutip CIO.
Tantangan CIO di Era AI Agents
Bagi para CIO, adopsi AI agents bukan sekadar proyek teknologi tetapi juga transformasi perilaku dan budaya kerja di seluruh organisasi. Masalahnya, banyak perusahaan masih kesulitan menyatukan strategi, mengatur tata kelola, dan membawa proyek AI dari uji coba ke produksi. “Perubahan ini tidak linier. Dibutuhkan upaya paralel lintas fungsi,” tulis laporan MIT tersebut.
CIO dituntut untuk tidak hanya berpikir sebagai teknolog, tapi juga arsitek perubahan manusia. Brandon Sammut (Chief People Officer Zapier) mengatakan CIO harus mampu menyatukan visi, mendengarkan kebutuhan tiap divisi, dan mengubahnya menjadi peta jalan AI yang konkret.
“CIO yang sukses bukan hanya pemimpin teknologi, tapi juga pemimpin hubungan antar eksekutif,” ucapnya.
Langkah pertama CIO adalah membagi peran dan tanggung jawab dalam tata kelola AI agents. Berikut pembagian perannya:
- Eksekutif menentukan arah strategi dan investasi.
- Tim kepatuhan dan keamanan data memastikan privasi dan etika.
- Tim subject matter experts memvalidasi hasil kerja AI.
- Pengguna akhir berinteraksi langsung dengan AI agents.
- Tim inovasi mengembangkan model AI internal dan eksperimen.
Dengan pembagian peran seperti itu, program manajemen perubahan akan lebih tepat sasaran dan terukur.
Menyeimbangkan Inovasi dan Tata Kelola Agentic AI
Di tengah dorongan besar mengadopsi Agentic AI, aspek keamanan dan tata kelola sering tertinggal. Kamal Anand (Presiden dan COO Trustwise) mengingatkan kesenjangan antara inovasi dan keamanan itu bisa berakibat fatal. “Banyak perusahaan berhasil di tahap prototipe, tapi gagal saat produksi karena sistem pengaman tradisional tak mampu mengimbangi agen AI yang bisa berlogika sendiri,” ujarnya.
Hal senada dikatakan Elad Schulman (CEO Lasso Security). Schulman menyarankan CIO harus membuat kerangka kepercayaan (trust framework) dan tata kelola waktu nyata agar AI agents tetap dapat diawasi tanpa menghambat inovasi.
“CIO harus tegas menentukan tugas mana yang boleh dijalankan AI secara mandiri, dan mana yang tetap perlu pengawasan manusia terutama saat menyangkut data sensitif,” ujarnya.
Yang juga perlu dipahami, kemampuan kerja AI agents hanya akan seefektif pengetahuan internal yang mereka pelajari. Karyawan perlu mendokumentasikan logika bisnis, mendefinisikan metadata, dan memberi umpan balik terhadap hasil kerja AI.
“Agentic AI tidak selalu mengikuti perintah manusia secara harfiah. Mereka membuat keputusan berdasarkan pola data. Karena itu, tim harus siap memantau dan mengoreksi bila hasilnya menyimpang,” ujar Dave Killeen (VP Produk Pendo). CIO juga perlu mendorong pembelajaran ulang (reskilling) agar karyawan tidak takut AI, tapi justru memanfaatkannya untuk meningkatkan produktivitas.
Dengan kata lain, kesuksesan AI agents bukan hanya tentang teknologi, tapi tentang manajemen perubahan manusia. CIO berperan sebagai fasilitator antara inovasi dan tata kelola, antara visi strategis dan kesiapan SDM.
“Teknologi hanyalah alat. Nilainya baru muncul saat orang-orang mau menggunakannya,” tutup Connell.


