Di tengah gelombang otomasi perusahaan, AI Agent kini berkembang pesat sebagai motor efisiensi baru. Namun, di balik janji produktivitas tersebut, para Chief Information Officer (CIO) justru kembali berhadapan dengan tantangan klasik dunia TI yaitu interoperabilitas.
Saat ini agen-agen AI yang dibangun di lingkungan berbeda cenderung bekerja secara terisolasi atau “egosektoral”. Akibatnya, mereka sulit berkolaborasi tanpa proses integrasi manual yang rumit dan memakan waktu.
Fenomena itu mengingatkan kita pada “perang protokol” jaringan tiga dekade silam, saat raksasa seperti IBM dan Novell berebut pengaruh sebelum akhirnya industri menyepakati TCP/IP sebagai standar tunggal. Bedanya, dalam ekosistem AI konsolidasi diprediksi akan terjadi jauh lebih cepat.
Kendala Komunikasi Antar-Agen
Masalah fundamental yang muncul adalah ketiadaan “bahasa universal” yang memungkinkan satu agen AI berkomunikasi dengan agen lainnya secara mulus.
Kesenjangan itu makin terasa ketika perusahaan mencoba menghubungkan agen komersial siap pakai (off-the-shelf) dengan agen hasil pengembangan internal (bespoke).
”Bagaimana cara membuat semua itu bekerja sama?,” tanya Arnal Dayaratna (Research VP Software Development di IDC) seperti dikutip dari CIO Dive.
Menurutnya, hingga saat ini belum ada solusi instan yang tersedia di pasar.
“Sebagian dari tantangan ini melibatkan penemuan lapisan data bersama (shared data layer) yang memungkinkan para agen untuk berkolaborasi,” lanjutnya.
Untuk menjembatani tugas-tugas kompleks tersebut, industri mulai melahirkan beberapa protokol utama dengan pendekatan yang beragam:
- Model Context Protocol (MCP): Dikembangkan oleh Anthropic untuk mengelola akses agen ke alat dan database. Kinerjanya jauh lebih optimal pada ekosistem tertutup seperti Claude Desktop.
- Agent2Agent (A2A): Inovasi Google yang fokus pada koordinasi antar-agen melalui “Agent Cards” sebagai profil identitas digital.
- Agent Network Protocol: Sebuah inisiatif sumber terbuka (open-source) yang mendukung pencarian agen di jaringan web terbuka.
Sayangnya, riset Microsoft menunjukkan protokol-protokol itu dibangun dengan asumsi dasar yang berbeda terkait lokasi agen dan batas kepercayaan (trust boundary).
Dampaknya, organisasi terpaksa membuang energi untuk membangun API tambahan hanya demi menghubungkan antar-protokol.
Strategi Modular di Tengah Inovasi
Kecepatan inovasi AI seringkali melampaui kemampuan organisasi dalam membangun jembatan integrasi. Apalagi, protokol yang dianggap dominan hari ini belum tentu tetap relevan di masa depan.
Steve Wilson (Chief AI Officer di Exabeam) memberikan peringatan keras. “Semua ini akan digulingkan dan digantikan, dan itu akan terjadi sangat cepat,” katanya.
Wilson mencontohkan bagaimana MCP kini mulai dianggap terlalu kompleks karena berbasis server. Sedangkan, para pengembang lebih menginginkan format file teks sederhana untuk membangun keahlian (skill) agen.
Meski terjebak dalam ketidakpastian standar, para pemimpin TI tidak boleh mengambil langkah pasif. Jim Swanson (CIO Johnson & Johnson) menekankan bahwa eksperimen yang lincah adalah sebuah keharusan.
”Mengingat betapa cepatnya segala sesuatu berevolusi, jika Anda tidak bereksperimen dan memantau perkembangannya, Anda bisa tertinggal dengan cepat,” tegas Jim Swanson.
Di J&J, Swanson menerapkan arsitektur modular dan merancang ulang alur kerja bisnis yang mencakup berbagai platform serta kumpulan data.
“Peluang besar dalam proses bisnis harus dibarengi dengan kualitas data dan kematangan seluruh ekosistem teknologi, termasuk komponen AI-nya,” tambahnya.
Tata Kelola Sebagai Kunci Utama
Menghadapi fragmentasi tersebut, langkah paling bijak bagi CIO adalah mengambil peran sebagai konduktor.
Carter Busse (CIO Workato) menyarankan pemimpin TI menyiapkan lapisan orkestrasi, kebijakan, dan kontrol transaksional di antara agen AI dan sistem perusahaan.
”Ini akan memberi pemimpin TI kekuatan untuk mengendalikan bagaimana AI bertindak di seluruh lini bisnis,” jelas Busse.
Meskipun teknologi ini masih dalam masa pertumbuhan, Busse menekankan bahwa fleksibilitas adalah aset terpenting perusahaan saat ini.
“Sambil menunggu lahirnya “TCP/IP” untuk dunia AI, menjaga infrastruktur tetap modular dan siap bermanuver adalah strategi terbaik untuk tetap kompetitif tanpa mengorbankan tata kelola,” ujarnya.
Pada akhirnya, pemenang di era agentic AI bukanlah mereka yang menunggu standar sempurna muncul, melainkan mereka yang mampu membangun fondasi teknologi yang adaptif dan terjaga tata kelolanya.


