Server AI Makin Rakus Energi, Indonesia Masuki Babak Baru Industri Data Center

Editor in Chief CIO Insight Indonesia Wisnu Nugroho bersama Ketua Umum Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO) Hendra Suryakusuma (ki-ka) dalam acara podcast bergengsi CIO Insight Indonesia di Jakarta.

Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) sedang menciptakan perubahan besar dalam industri teknologi global dan salah satu sektor yang paling terdampak adalah data center.

Dari infrastruktur pendinginan, konsumsi daya, hingga model bisnis, semuanya mengalami transformasi karena kebutuhan komputasi AI yang melonjak.

Ketua Umum Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO) Hendra Suryakusuma mengatakan perubahan itu bukan sekadar evolusi bertahap melainkan lompatan terbesar dalam sejarah data center modern.

“Dulu di 2011, satu rak hanya butuh 2 kW. Tahun 2014 naik ke 10 kW. Sekarang dengan AI, terutama chip AI generasi baru seperti Grace Blackwell, satu rak bisa mencapai 135 kW,” ujar Hendra dalam wawancara bersama CIO Insight Indonesia.

AI Mendorong Lonjakan Power Density

Lonjakan kebutuhan daya itu menggambarkan betapa besar tuntutan komputasi untuk AI generasi terbaru. Chip Nvidia Grace Blackwell (GB200 / GB2) dirancang untuk training dan inference model raksasa, dan kebutuhan dayanya menciptakan standar baru bagi industri.

Untuk memudahkan publik membayangkan skala peningkatan tersebut, Hendra memberikan analogi yang mencengangkan.

“Sound system konser Dewa 19 saja saat manggung butuh sekitar 120 kW. Sekarang bayangkan, satu rak server AI bisa makan 135 kW. Itu baru satu rak,” katanya.

Yang mengejutkan, ini baru permulaan. Menurut roadmap Nvidia, chip Rubin berpotensi mendorong kebutuhan hingga 620 kW per rak dan chip Fineman generasi berikutnya bisa mencapai 1,2 MW per rak. Jika prediksi itu tepat, maka satu rak server AI akan memakan daya setara satu desa kecil.

Era Baru, Pendingin Cair Gantikan Pendingin Udara

Peningkatan power density membuat teknologi pendingin udara tradisional (air cooling) tidak lagi relevan untuk data center AI.

Sistem tersebut tidak mampu menangani panas ekstrem dari server AI modern. Hendra menjelaskan bahwa data center AI membutuhkan sistem pendingin cair (liquid cooling) dalam berbagai konfigurasi:

  1. Immersion cooling: merendam server dalam cairan non-konduktif
  2. Direct-to-chip cooling: pipa cairan langsung menuju prosesor
  3. Rear door heat exchanger: pendingin ada di pintu belakang rak

Perubahan itu tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga mengubah desain fisik data center.

“Kalau dulu komposisi ruang antara data hall dan power room itu 50:50, sekarang berubah drastis. Data hall-nya mungkin tinggal 10 persen, sementara power room bisa 90 persen,” jelas Hendra.

Artinya, infrastruktur pendukung seperti daya, power distribution, UPS, chiller, heat exchanger menjadi jauh lebih dominan dibanding ruang servernya sendiri.

Indonesia Bergerak Cepat

Meski infrastruktur AI sangat menantang, Indonesia tidak tertinggal. Bahkan beberapa perusahaan sudah menjadi pionir.

Hendra mengungkapkan bahwa BDX Indonesia (Indosat + Lintasarta) sudah menggandeng Nvidia sebagai Nvidia Cloud Partner, dan mulai menghadirkan GPU generasi terbaru ke tanah air.

“Mereka menghadirkan server berbasis Grace Blackwell dan menawarkan GPU as a Service melalui Lintasarta. Jadi solusi AI kelas dunia itu sudah bisa diakses langsung dari Indonesia,” kata Hendra.

Fenomena itu menegaskan bahwa infrastruktur AI skala besar sudah beroperasi di Indonesia, permintaan GPU untuk training dan inference mulai tumbuh dan Indonesia mulai menjadi lokasi strategis bagi ekosistem AI regional.

Bangun Baru Lebih Efisien

Banyak operator data center bertanya, apakah lebih baik memodifikasi data center lama atau membangun fasilitas baru khusus AI?.

“Retrofit terlalu banyak re-engineering. Akan sangat sulit mengejar standar 135 kW per rak. Lebih efisien bangun baru yang sejak awal didesain untuk AI,” ujarnya.

Data center tradisional pada umumnya hanya didesain untuk 3–10 kW per rak. Jika perusahaan ingin meningkatkan kapasitasnya menjadi 100 kW atau lebih akan membutuhkan:

  1. Penggantian seluruh power distribution system
  2. Perubahan struktur lantai
  3. Redesain airflow / piping
  4. Penggantian chiller dan infrastruktur cooling
  5. Penguatan kelistrikan dari PLN dan pembangkit cadangan

Akibatnya, biaya retrofit data center bisa jauh lebih mahal daripada membangun data center AI-ready dari awal.

Potensi Indonesia Menjadi Hub Data Center AI

Indonesia memiliki beberapa keunggulan struktural yang dapat menjadi fondasi untuk industri data center AI:

1. Jumlah pengguna digital sangat besar

Dengan ratusan juta pengguna internet, Indonesia menyediakan basis permintaan terbesar di Asia Tenggara.

2. Ekonomi digital yang terus tumbuh

Platform e-commerce, fintech, video streaming, hingga industri gaming mendorong kebutuhan komputasi lokal.

3. Posisi geografis strategis

Indonesia berada di tengah rute kabel laut internasional dan menjadi titik strategis untuk latency rendah ke Asia Pasifik.

4. Harga lahan dan listrik lebih kompetitif dibanding Singapura

Singapura sudah moratorium data center karena keterbatasan lahan dan energi. Malaysia khususnya Johor mulai tertekan pasokan air bersih. Indonesia, terutama Batam, Bekasi, Cikarang, hingga IKN, punya keunggulan kompetitif jangka panjang.

5. Nvidia, AWS, Google, dan Microsoft mulai mengincar lokasi baru

AI generasi berikutnya membutuhkan massive scale dan Indonesia menjadi kandidat kuat.

Siapkah Talenta Indonesia untuk Data Center AI?

Menurut Hendra, tantangan terbesar bukan hanya infrastruktur, tetapi ketersediaan talenta yang memahami teknologi AI, high-density computing, dan liquid cooling.

IDPRO dan berbagai kampus di Indonesia mulai berkolaborasi untuk menyiapkan:

  1. Kurikulum khusus data center AI
  2. Pelatihan teknisi liquid cooling
  3. Sertifikasi untuk high-density infrastructure
  4. Talent pipeline untuk hyperscaler

“Sumber daya manusia menjadi penentu apakah Indonesia bisa naik kelas atau tidak,” tegasnya.

Ini Momentum Indonesia

AI bukan sekadar tren teknologi melainkan kekuatan yang mendesain ulang industri data center dari nol. Dari 2 kW per rak menjadi 135 kW hari ini, dan bahkan menuju 1,2 MW per rak di masa depan. AI menuntut infrastruktur baru, talenta baru, dan strategi nasional baru.

Indonesia punya peluang nyata untuk menjadi kekuatan utama data center AI di Asia Pasifik. Syaratnya, Indonesia berani membangun AI-ready data center, menarik investasi hyperscaler, menyediakan tenaga ahli dan menjamin pasokan listrik dan energi bersih.

Era GPU, superkomputer, dan high-density computing telah tiba. Indonesia sedang berada di jalur yang tepat untuk menjadi pemain global.d

Baca Juga

Fintech Kuasai Agentic AI, Bank Terancam Tertinggal

Menurut laporan terbaru McKinsey & Co, fintech kini menjadi pemain paling agresif dalam mengadopsi teknologi AI khususnya agentic AI. Sedangkan, banyak bank tradisional masih terseret proses internal yang panjang dan keterbatasan teknologi lama.