Apakah kecerdasan buatan (AI) akan mengambil alih pekerjaan manusia?
Pertanyaan itu kini tidak lagi sebatas teori sains-fiksi. Robert F. Smith (Pendiri dan CEO Vista Equity Partners) mengatakan nilai ekonomi sejati dari AI belum benar-benar terlihat. Namun, ia percaya teknologi agentic AI akan segera mengubah cara perusahaan bekerja dan menciptakan nilai lebih radikal daripada era Internet.
“AI akan membuat enterprise software memakan services. Perubahan besar ini sedang dimulai lewat agentic AI,” kata Smith dalam wawancara dengan CNBC.
Artinya, software berbasis AI akan mengambil alih peran layanan yang selama ini dilakukan manusia dari analisis data, konsultasi, hingga pengambilan keputusan.
Gelombang Ketiga Revolusi Teknologi
Smith melihat evolusi teknologi selalu datang dalam tiga gelombang. Pertama, vendor hardware seperti NVIDIA yang membangun infrastruktur. Kedua, hyperscaler seperti Microsoft, Google, dan AWS yang menyediakan platform. Ketiga, perusahaan yang benar-benar memanfaatkan teknologi AI untuk memperkuat bisnis.
“Di gelombang ketiga inilah peluang triliunan dolar akan muncul, terutama lewat agentic enterprise software,” tegas Smith seperti dikutip startuphub.ai.
Agentic AI sendiri merujuk pada sistem AI otonom atau agentic workers yang bisa mengeksekusi tugas tanpa campur tangan manusia. Agentic AI dapat memproses data, merancang strategi, bahkan bernegosiasi dengan sistem lain.
Bagaimana peran manusia? Di era Agentic AI, manusia tinggal mengawasi agar AI bekerja sesuai aturan. Dampaknya, perusahaan hanya membutuhkan sedikit pekerja dan biaya jauh lebih rendah.
Bagaimana Agentic AI Mengubah Perusahaan
Smith melihat software akan menggantikan banyak layanan profesional yang dulu memerlukan tenaga konsultan, analis, atau staf operasional.
Bayangkan, sebuah perusahaan yang memiliki software AI mampu membaca laporan keuangan, menganalisis tren pasar, dan menyiapkan strategi dalam hitungan detik.
“AI akan melahirkan agentic workers, software otonom yang bekerja lebih cepat, lebih murah, dan lebih akurat dari manusia,” kata Smith.
Namun ada satu hambatan besar yaitu data. Hampir semua model AI besar saat ini dibangun dari data publik dan konsumen, bukan data internal perusahaan. Padahal, justru di situlah nilai sebenarnya tersimpan karena sebagian besar perusahaan belum memanfaatkan potensi data miliknya sendiri.
“Dari seluruh portofolio kami, kurang dari 1 persen data perusahaan menjadi bagian dari model AI dasar. Siapa pun yang berhasil menyatukan data dan alur kerja internalnya dengan AI akan menjadi pemenang besar di dekade berikutnya,” ungkapnya.
Smith mengatakan perusahaan maju di masa depan akan ditentukan oleh “sovereignty and dominion”, kedaulatan atas data dan proses internal.
Perusahaan yang bisa “mengagentifikasi” sistemnya atau menanamkan AI ke dalam proses kerja spesifik akan menikmati percepatan pertumbuhan dan profit luar biasa. Sebaliknya, perusahaan yang gagal beradaptasi, akan kehilangan eksistensi di dunia bisnis baru ini.
“Model AI umum hanya punya akurasi sekitar 93 persen. Itu bagus untuk produk konsumen, tetapi tidak cukup presisi untuk kebutuhan enterprise,” ujarnya.
Dengan kata lain, masa depan AI tidak akan dimenangkan oleh siapa yang punya model terbesar tetapi oleh siapa yang paling mengenal data dan workflow-nya sendiri.
Apa itu Rule of 70
Smith juga memperkirakan perubahan besar dalam tolok ukur industri software. Jika sebelumnya perusahaan SaaS (Software-as-a-Service) dinilai dengan “Rule of 40” yaitu penjumlahan pertumbuhan pendapatan dan margin keuntungan minimal 40.
Misalnya, Kalau perusahaan tumbuh 30 persen dan margin labanya 10 persen nilainya 40. Angka ini dianggap sehat. Namun, kalau perusahaan tumbuh cepat tapi rugi besar, atau untung besar tapi pertumbuhannya kecil, nilainya turun di bawah 40. Angka itu dianggap tidak efisien.
Jadi “Rule of 40” dipakai investor untuk menilai keseimbangan antara pertumbuhan dan profitabilitas perusahaan software.
Smith memperkenalkan istilah “Rule of 70” sebagai standar baru di era Agentic AI. Dengan kata lain, AI akan memangkas biaya tenaga manusia dan proses bisnis jadi super cepat dan otomatis. Kombinasi itu akan membuat margin keuntungan naik dan pertumbuhan tetap tinggi.
Smith mengatakan kombinasi pertumbuhan dan profitabilitas perusahaan software bisa menembus angka 70 hampir dua kali lipat lebih efisien dibanding era SaaS tradisional. “Perusahaan yang berhasil menerapkan model ini akan menghasilkan produk dan layanan yang manusia tidak bisa saingi dari segi kecepatan dan skala,” kata Smith.
Jadi “Rule of 70” bukan rumus baru, tapi peningkatan ambang performa karena efek otomatisasi AI.
Mengapa SaaS Perlu Berevolusi
Apakah ini berarti bisnis SaaS tradisional akan punah? Smith beralasan AI tidak akan membunuh software tetapi justru mengangkatnya ke level baru. AI akan membuat software jauh lebih pintar dan mampu menjalankan pekerjaan yang dulu memerlukan manusia.
“Perusahaan yang mampu bertransformasi dari SaaS biasa menjadi agentic SaaS akan memetik keuntungan terbesar,” tegasnya.
Agentic AI bukan sekadar tren, tapi arah evolusi dunia bisnis berikutnya. Perusahaan yang mampu membangun sistem cerdas berbasis data akan menjadi penguasa ekonomi digital.
Di masa depan, software agentic AI bukan hanya alat bantu manusia. Software itu akan menjadi rekan kerja, manajer, dan bahkan pengambil keputusan.
Di masa itu, perbedaan antara perusahaan biasa dan pemimpin pasar akan ditentukan oleh satu hal yaitu seberapa dalam AI tertanam dalam DNA bisnis mereka.


