Bayangkan sebuah dunia di mana Anda tidak perlu lagi pusing membandingkan puluhan tab di browser hanya untuk mencari sepatu lari terbaik.
Cukup instruksikan asisten digital Anda: “Cari sepatu maraton yang sesuai ukuran kakiku, lalu bayar dengan metode paling hemat.” Dalam hitungan detik, transaksi selesai. Tanpa klik, tanpa kerumitan.
Itulah fenomena Agentic AI, “bintang panggung” dalam gelaran NRF 2026 (National Retail Federation). AI bukan lagi sekadar chatbot pasif yang menjawab pertanyaan, melainkan telah berevolusi menjadi “agen” otonom yang memahami niat (intent) dan memiliki wewenang untuk bertindak atas nama pengguna.
SAP, raksasa teknologi bisnis dunia menegaskan bahwa pergeseran ini bukan sekadar tren sesaat. Agentic AI sedang merombak total fundamental perdagangan, mulai dari cara konsumen menemukan barang, sistem pembayaran, hingga manajemen pengembalian (returns).
Transformasi Penemuan, Dari Mencari Menjadi Dicarikan
Era belanja yang dimulai dari mesin pencari konvensional seperti Google mulai memudar. Gerbang utama konsumsi kini berpindah ke tangan AI shopping agents.
”Agentic AI adalah perubahan fundamental. Mereka tidak hanya menyodorkan opsi, tetapi juga mampu menalar, memutuskan, dan mengeksekusi transaksi,” tulis laporan resmi SAP di ajang NRF.
Menyambut pergeseran ini, SAP meluncurkan Storefront MCP Server untuk SAP Commerce Cloud. Teknologi ini menjadi “penerjemah” yang memungkinkan toko online berkomunikasi langsung dengan berbagai agen AI, seperti ChatGPT hingga Perplexity.
Dampaknya, produk sebuah brand kini tidak hanya harus memikat mata manusia, tetapi juga harus bisa “dimengerti” secara teknis oleh mesin sehingga laku terjual.
Data Produk, “Mata Uang” Baru di Balik Layar
Di dunia yang digerakkan agen AI, deskripsi produk yang puitis tidak lagi cukup. Data produk kini menjadi infrastruktur vital. Jika AI tidak bisa memproses spesifikasi detail sebuah barang, produk tersebut praktis dianggap “gaib” oleh sistem rekomendasi.
Di sinilah peran Catalog Optimization Agent dari SAP menjadi krusial. Alat ini mampu merapikan jutaan data produk 70 persen lebih cepat daripada metode manual.
Dengan data yang terstruktur sempurna, AI dapat menyodorkan produk Anda kepada pembeli yang tepat pada saat yang tepat.
Pembayaran Gaib dan Logistik Cerdas
Evolusi ini juga menyentuh sektor finansial melalui invisible payments. Jaringan raksasa seperti Visa dan Mastercard kini mulai mengizinkan konsumen mengatur limit belanja khusus yang bisa dikelola oleh agen AI mereka secara otomatis.
Melalui open payment framework, peritel dapat mengadopsi metode pembayaran masa depan mulai dari FedNow hingga stablecoin tanpa harus merombak sistem dari nol.
Bahkan, AI kini mampu mengubah beban retur barang menjadi peluang keuntungan. Melalui integrasi ERP dan Commerce Cloud, AI bisa memutuskan secara instan apakah sebuah barang perlu dikirim balik atau cukup disimpan oleh pelanggan berdasarkan riwayat loyalitas dan analisis biaya. Strategi ini bukan hanya menekan biaya logistik, tapi juga mempertebal kepercayaan pelanggan.
Kepercayaan, Benteng Terakhir Ritel
Meski teknologi kian canggih, mata uang tertinggi dalam ritel tetaplah Kepercayaan. Di tengah kendali otomatisasi AI, konsumen menuntut keamanan data dan transparansi transaksi yang absolut.
Pemenang di era ritel 2026 bukanlah mereka yang sekadar memiliki teknologi paling mutakhir. Pemenang sejatinya adalah peritel yang mampu membangun fondasi data yang kuat, sistem pembayaran yang fleksibel, dan integritas yang tak tergoyahkan di mata pelanggan.


