Salesforce Ngebut Dorong Automasi IT, Pendapatan Agentforce Tembus Setengah Miliar Dolar

Ilustrasi Salesforce

Permintaan terhadap AI agent semakin menguat dan Salesforce jadi salah satu yang paling menikmati momennya. Dalam laporan pendapatan kuartal III tahun fiskal 2026, Salesforce mengumumkan bahwa platform agentic AI Agentforce mencatat annual recurring revenue lebih dari USD500 juta, melonjak 330 persen dibanding tahun lalu.

Sejak hadir September 2024, Agentforce sudah mengantongi hampir 10.000 kerjasama berbayar. Lonjakan itu ikut mendorong performa perusahaan secara keseluruhan.

Pendapatan Salesforce tembus USD10,3 miliar untuk periode yang berakhir pada 31 Oktober. Proyeksi pertumbuhan pendapatan Salesforce pada tahun fiskal 2026 naik menjadi 9 persen.

“Enam dari 10 deal terbesar di kuartal ini datang dari perusahaan yang ingin transformasi lewat Agentforce,” kata CEO Marc Benioff dalam earnings call.

“Ini luar biasa, karena setahun lalu kita baru mulai mengirimkan produknya,” ucapnya.

Dari “Quarter of Agentforce” ke Era Baru

Sebelumnya Salesforce menandai Q4 2025 sebagai “quarter of Agentforce.” Ternyata momentum itu berlanjut dan mendominasi kinerja pada tahun fiskal 2026.

Strateginya jelas, Salesforce akan terus melakukan land-and-expand dan memperluas penggunaan Agentforce ke lebih banyak fungsi bisnis, terutama departemen IT.

Menjelang konferensi Dreamforce Oktober lalu, Salesforce merilis Agentforce IT Service, layanan manajemen IT end-to-end yang menyasar kebutuhan support IT modern.

“Kami sadar pelanggan ingin tiga kekuatan dari kami yaitu layanan pelanggan, field service, dan kini IT service,” ujar Benioff.

Salah satu contoh implementasi datang dari Pentagon Federal Credit Union yang mengadopsi Salesforce agent untuk manajemen IT dan tugas lain. Hasilnya diproyeksikan mengurangi biaya operasional hingga 30 persen.

Salesforce Kembangkan Tool AI untuk Developer

Salesforce juga meluncurkan Agentforce Vibes, lingkungan development berbasis AI. Salesforce juga memperkenalkan Vibe Codey, AI agent otonom yang berperan sebagai “co-coder kedua” untuk mempercepat proses pengembangan software. Langkah itu mempertegas ambisi Salesforce menjadi pusat ekosistem agentic AI bukan lagi sekadar raja CRM.

Kompetisi Vendor Makin Panas

Namun jalan menuju dominasi AI agent tidak akan sepi. Para vendor besar mulai menyerbu pasar CIO dengan solusi serupa.

Minggu ini, AWS memperkenalkan tiga frontier agent untuk pengembangan software otomatis, security engineering, dan DevOps, semuanya diklaim bisa bekerja otonom dalam skala besar.

Kini pasar bergerak cepat, dan CIO menunggu jawaban penting, apakah agentic AI benar-benar memberikan ROI yang nyata?

“Visi agentic enterprise dari Salesforce ambisius dan tepat waktu,” tulis analis Forrester dalam blog pasca Dreamforce.

“Tapi ambisi saja tidak cukup. Pelanggan butuh kejelasan soal arsitektur, governance, biaya, dan bukti nyata bahwa AI agent memberikan return yang sepadan,” ucapnya.

Salesforce mungkin sedang memimpin di lintasan agentic AI tetapi balapan baru saja dimulai. Siapa yang bisa membuktikan efisiensi, menekan biaya, dan memberikan nilai bisnis konkret, itulah yang akan memenangkan hati CIO.

Baca Juga