Artificial intelligence (AI) kini bukan lagi teknologi masa depan bagi industri ritel. Sebuah laporan BRG terbaru mengungkap lebih dari delapan dari sepuluh retailer telah mengintegrasikan AI dalam operasional mereka, mulai dari skala menengah hingga besar.
Teknologi AI itu semakin masuk ke jantung bisnis dari menyusun kampanye pemasaran digital hingga menentukan harga barang di rak.
Di Amerika Utara, AI paling banyak dimanfaatkan untuk marketing (70%), disusul fungsi IT dan digital (62%), digital commerce (56%), serta strategi merchandising dan pricing (54%).
Ke depan, retailer berencana memperluas penggunaan AI ke perencanaan aliran produk (40%), operasional korporat (38%), supply chain & sourcing (36%), hingga distribusi dan logistik (32%).
Sederhananya, AI tak lagi hanya menjadi asisten tapi juga mulai diposisikan sebagai otak penggerak pengalaman belanja modern.
Dampak Nyata Masih Dipertanyakan
Meski adopsinya masif, BRG mengingatkan bahwa penggunaan AI belum otomatis memberi hasil bisnis yang signifikan.
Tools seperti ChatGPT atau Copilot memang bisa menulis deskripsi produk dan materi pemasaran dengan cepat, tetapi efek langsung pada penjualan masih belum jelas.
Karena itu, AI harus diarahkan pada masalah bisnis yang spesifik, bukan sekadar mengikuti tren. Ukuran keberhasilannya perlu jelas dan terukur, misalnya lewat indikator seperti average order value, inventory turnover, revenue, retensi pelanggan, hingga efisiensi tenaga kerja.
“AI harus masuk ke model operasional yang jelas, bukan dipaksakan ke proses lama. AI tidak murah dan payback bervariasi, jadi roadmap dan KPI harus tertata sejak awal,” tulis BRG seperti dikutip CIO Dive.
Raksasa Ritel Tancap Gas
Meski penuh catatan, sejumlah pemain besar terlihat semakin serius menggarap teknologi ini. Sam’s Club mengandalkan aplikasi Scan & Go bertenaga AI untuk memvalidasi pembelian dan mempercepat proses checkout di 600 toko. Tahun lalu, Sam’s Club membuka toko tanpa kasir di Texas.
Levi Strauss & Co. menggandeng Microsoft untuk menerapkan agentic AI framework di berbagai fungsi perusahaan, mulai dari IT, HR, hingga operasional.
Walmart memperkenalkan framework AI dengan empat super agent yaitu Sparky untuk pelanggan, Marty bagi partner dan supplier, agen untuk associate toko dan agen khusus developer internal.
Walmart juga berencana menambah sub-agent baru tahun depan. Sementara itu, Target mengembangkan platform Target Trend Brain untuk membantu tim merchandising menemukan ide produk baru.
AI juga dipakai untuk menyeleksi vendor yang ingin bergabung ke marketplace Target Plus.
Eksperimen AI di sektor ritel semakin luas, mulai dari search dan rekomendasi produk hingga manajemen vendor.
Namun dampak besarnya bagi industri masih menjadi babak pengujian, terutama terkait peningkatan traffic, optimalisasi rantai pasok, dan pengalaman belanja yang lebih personal.
Satu hal yang pasti, ritel memasuki era AI-everywhere. Perusahaan ritel yang mampu mengubah eksperimen menjadi nilai bisnis nyata kemungkinan besar akan keluar sebagai pemenang.


