Di tengah ketatnya persaingan bisnis ritel global, perusahaan retail AS, Target, akan menggabungkan kreativitas manusia dan Generative AI untuk meningkatkan penjualan dan kunjungan pelanggan.
Michael Fiddelke (Chief Operating Officer sekaligus CEO Target) mengatakan teknologi kini bukan lagi sekadar alat bantu, tetapi penggerak utama perubahan. “Kami akan memanfaatkan AI sebagai ujung tombak transformasi bisnis,” ujar Fiddelke seperti dikutip CIO Dive.
AI Jadi Mitra Kreatif Desainer
Salah satu proyek unggulan Target adalah Target Trend Brain, platform berbasis AI generatif yang membantu tim merchandising menemukan ide produk baru dan merespons tren pasar lebih cepat. Caranya, platform AI itu membantu desainer mengolah data tren dan inspirasi visual dari berbagai sumber. AI juga memberikan rekomendasi ide kepada tim kreatif untuk menciptakan produk baru sesuai perkembangan tren terkini.
Prat Vemana (Chief Information and Product Officer Target) mengatakan semua platform berbasis AI ini dirancang bukan untuk menggantikan desainer, tetapi memperkuat kreativitas mereka. “Desainerlah yang tetap membuat keputusan. AI hanya hadir untuk membantu,” katanya.
“Dengan kolaborasi kecerdasan AI dan manusia, kami mampu meluncurkan koleksi produk terbaru dengan cepat tanpa kehilangan ciri khas desain,” ujarnya.
Tak hanya dalam pengembangan produk, AI juga menjadi otak di balik operasional Target Plus, marketplace pihak ketiga yang diluncurkan pada 2019.
Dahulu, tim kurator harus meninjau satu per satu vendor yang ingin bergabung. Kini, proses itu dipercepat berkat agentic AI yang mampu menganalisis ribuan aplikasi vendor secara otomatis. “Kami memiliki agen AI yang bisa menilai apakah penjual yang mendaftar cocok untuk Target dan sesuai dengan ekspektasi pelanggan,” jelas Vemana.
Sistem agentic AI itu juga mampu menghimpun dan merangkum data dari berbagai sumber daring sehingga tim analis bisa menilai calon penjual lebih cepat dan akurat tanpa mengorbankan kualitas kurasi produk.
Menjelang musim belanja akhir tahun, Target juga mengandalkan AI forecasting engine untuk memprediksi permintaan di berbagai kategori. Sistem AI itu membantu Target memastikan produk tersedia di tempat dan waktu yang tepat.
“Kami percaya diri menghadapi liburan kali ini. Dengan AI, kami bisa menempatkan produk secara optimal dan mengurangi potensi kekecewaan pelanggan,” ujar Vemana.
Gandeng OpenAI
Transformasi digital skala besar itu tentu memerlukan kesiapan sumber daya manusia. Sejak Mei hingga Agustus, Target telah menambah lebih dari 10.000 lisensi AI di seluruh organisasi.
Langkah itu merupakan bagian dari program Target meningkatkan keterampilan digital karyawan. Menariknya, Target bekerja sama langsung dengan OpenAI untuk memberikan pelatihan internal agar karyawan bisa memanfaatkan ChatGPT demi meningkatkan produktivitas.
“AI memang disruptif, tapi bukan hal baru bagi kami. Kini kami memanfaatkan AI generatif untuk memperkuat kemampuan tim,” kata Fiddelke.
Bagi Target, masa depan ritel bukan soal menggantikan manusia dengan mesin, melainkan menciptakan kolaborasi cerdas antara kreativitas manusia dan efisiensi teknologi. Dengan strategi itu, Target berharap bisa mempercepat kebangkitan bisnisnya dan menetapkan standar baru di industri ritel global.


