Peran CIO Berubah di Era AI, Dari Penjaga Sistem Jadi Motor Nilai Bisnis

Ilustrasi CIO

Gelombang adopsi kecerdasan buatan (AI) sedang merombak dinamika ruang kerja teknologi. Sosok terpenting yang berada di garis terdepan perubahan ini adalah para CIO (Chief Information Officer) yang kini bukan sekadar pengawal infrastruktur TI, tetapi juga sutradara strategi bisnis modern.

Menurut laporan Atera, hampir dua dari tiga CIO dan VP IT mengaku perannya telah berkembang signifikan dalam beberapa tahun terakhir.

Fokus mereka kini tak lagi sebatas menjaga sistem tetap menyala, tapi semakin bergeser ke arah penciptaan nilai bisnis dan kolaborasi manusia dan AI.

Tanggung Jawab Makin Melebar

ciocioBahkan lebih dari 40 persen mengakui kini lebih sering diminta menjadi jembatan kolaborasi antara pekerja dan AI. Tugas itu mencakup integrasi workflow hingga memastikan produktivitas meningkat, bukan sebaliknya.

Namun ekspansi peran itu datang dengan beban baru. Dua pertiga pimpinan TI menilai menjalankan inisiatif lintas-divisi sambil tetap menjaga operasional inti adalah pekerjaan yang menantang.

Popularitas CIO di jajaran eksekutif memang meningkat berkat optimisme terhadap produktivitas berbasis AI.

Namun, pertanyaan soal tata kelola data, readiness sistem, dan pengembangan talenta digital masih menumpuk menanti jawaban seperti dikutip CIO Dive.

CIO Makin Percaya Diri

Meski tekanan besar, sebuah studi Salesforce menunjukkan mayoritas CIO merasa lebih percaya diri dibanding tahun lalu.

Hampir semuanya mengaku pengetahuan mereka soal AI meningkat pesat seiring urgensi implementasi AI yang makin tinggi.

Atera CEO Gil Pekelman bahkan mengatakan, “AI agent telah membuka realitas baru yaitu sistem yang mampu belajar, menganalisis, hingga mengambil keputusan secara mandiri. Misi CIO kini jelas, memimpin IT dengan AI dan memberikan nilai bisnis nyata.”

Namun perjalanan menuju departemen IT yang sepenuhnya digerakkan AI masih panjang. Riset Gartner mencatat baru 15 persen pemimpin aplikasi TI yang sudah menjajal atau mempertimbangkan AI otonom sepenuhnya.

Meski begitu, 75 persen CIO sudah mulai menguji agentic AI dalam berbagai bentuk, menunjukkan tren adopsi hanya tinggal menunggu waktu untuk meluas.

Mulai Berebut Panggung

Tingginya minat pasar membuat pemain teknologi menambah amunisi. AWS meluncurkan platform AI agentic bernama AWS Transform untuk membantu perusahaan mengotomasi modernisasi workload legacy.

Microsoft pun meningkatkan kemampuan Copilot Studio untuk memberikan ruang ke perusahaan membangun AI agent yang lebih pintar dan terhubung ke lebih banyak sumber data.

Transformasi besar tengah terjadi di meja CIO. Mereka kini bukan hanya “penjaga server”, tapi juga navigator bisnis digital, memimpin orkestrasi AI yang akan menentukan daya saing perusahaan di masa depan.

Jalan ke sana belum mulus tapi satu hal yang pasti, para CIO yang berhasil menguasai AI akan memimpin permainan.

Baca Juga