Dunia teknologi saat ini sedang menghadapi situasi yang kontradiktif. Di satu sisi, para raksasa teknologi (hyperscaler) terus menggelontorkan dana fantastis untuk membangun ekosistem kecerdasan buatan (AI).
Namun di sisi lain, pembangunan fisik “rumah” bagi AI yakni pusat data (data center) justru menunjukkan tanda-tanda melambat untuk pertama kalinya dalam enam tahun terakhir.
Laporan riset terbaru CBRE mengungkapkan fenomena unik pada paruh kedua 2025. Meskipun permintaan terhadap komputasi awan (cloud) dan AI mencapai rekor tertinggi, kapasitas pusat data yang sedang dalam tahap konstruksi di Amerika Utara justru turun hampir 6 persen secara tahunan (year-over-year).
Tembok Besar Pasokan Listrik
Menariknya, kelesuan laju konstruksi itu bukan disebabkan oleh surutnya minat pasar. Faktanya, tingkat kekosongan (vacancy rate) pusat data menyentuh titik terendah sepanjang sejarah yakni hanya 1,4 persen.
Lantas, apa yang menjadi penghambat utama?, jawabannya terletak pada kendala struktural infrastruktur fisik.
Gordon Dolven (Direktur Riset Pusat Data di CBRE) menjelaskan bahwa keterbatasan daya dan peralatan listrik kini menjadi tantangan paling krusial.
”Listrik dan peralatan elektrikal masih menjadi pendorong utama keterlambatan konstruksi,” ujar Dolven kepada Channel Dive.
Pergeseran Strategi, Fokus pada Proyek Tersisa
Data firma riset Wood Mackenzie semakin memperkuat temuan tersebut. Pada kuartal keempat tahun 2025, penambahan konstruksi pusat data di Amerika Serikat (AS) tercatat sebesar 25 gigawatt, merosot tajam 50 persen dibandingkan kuartal sebelumnya.
Ben Hertz-Shargel (Global Head of Grid Edge di Wood Mackenzie) menyebutkan bahwa para pengembang kini mulai mengubah haluan strategi mereka.
“Para pengembang kini beralih fokus pada penyelesaian pipa proyek (pipeline) yang sudah ada sejak akhir tahun lalu, alih-alih memulai proyek baru. Masalah ini dipicu oleh kendala antrean beban listrik (load queue) yang mulai menekan pasar,” ungkapnya.
Kendati konstruksi fisik melambat, angka investasi di atas kertas tetap meroket. Berdasarkan analisis Dell’Oro Group, belanja modal (capex) pusat data global tumbuh 57 persen pada tahun 2025 hingga melampaui US700 miliar. Angka itu bahkan diprediksi akan menembus ambang batas fantastis US1 triliun pada tahun ini.
Ambisi Tanpa Batas Para Raksasa
Investasi masif itu masih didominasi oleh pemain-pemain utama. Empat raksasa asal AS yaitu Amazon, Google, Meta, dan Microsoft meningkatkan belanja modal pusat data mereka hingga 76 persen. Bahkan, nilai investasi Oracle tercatat melonjak lebih dari tiga kali lipat.
Berikut adalah potret ambisi belanja para pemimpin pasar tersebut:
- Amazon: Berkomitmen menggandakan belanja modal dari USD100 miliar pada 2025 menjadi USD200 miliar tahun ini.
- Google: Berencana menggandakan capex tahun ini hingga menyentuh angka USD185 miliar.
- Microsoft: Mencatat belanja sebesar USD37,5 miliar hanya dalam tiga bulan terakhir tahun lalu.
Dua pertiga dari investasi tersebut dialokasikan untuk aset berumur pendek, terutama GPU (Graphics Processing Unit) dan CPU.
Menimbang Risiko Kapasitas Berlebih
Besarnya angka investasi itu tak pelak memunculkan kekhawatiran baru di kalangan pengamat industri. Baron Fung (Direktur Riset Senior di Dell’Oro Group) memperingatkan adanya potensi risiko di balik “kegilaan” belanja ini.
”Tingkat investasi yang tinggi ini meningkatkan potensi terjadinya kapasitas berlebih (overcapacity) pada infrastruktur AI,” tulis Fung dalam laporannya.
Namun, ia juga mencatat bahwa para hyperscaler saat ini sedang menempuh langkah-langkah proaktif untuk memitigasi risiko tersebut sekaligus mengoptimalkan efisiensi biaya.
Pada akhirnya, masa depan AI tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan algoritma yang tertulis di atas kertas.
Keberhasilannya akan sangat bergantung pada seberapa cepat jaringan listrik dunia mampu menyuplai energi untuk memuaskan dahaga komputasi yang tak kunjung reda.


