Indonesia memiliki modal alam dan energi yang menempatkannya sebagai salah satu kandidat terkuat untuk menjadi Digital Hub Asia Pasifik.
Di saat negara-negara lain bergulat dengan krisis air, keterbatasan energi, dan moratorium pembangunan data center, Indonesia justru memiliki keunggulan kompetitif berupa pasokan air, potensi energi terbarukan (EBT), dan kapasitas listrik yang besar.
Namun, di balik peluang besar tersebut, ada dua batu sandungan besar yang membuat perjalanan ini berliku yaitu regulasi yang rumit dan defisit talenta digital yang mencapai ratusan ribu per tahun.
Hal ini disampaikan oleh Ketua Umum Indonesia Data Center Provider Organization (IDPRO) Hendra Suryakusuma dalam wawancara eksklusif bersama CIO Insight Indonesia, yang juga tayang dalam podcast berdurasi hampir 30 menit.
Indonesia Diuntungkan Secara Alami
Singapura kini terkena moratorium pembangunan data center karena keterbatasan lahan dan energi. Di saat yang sama, Johor Bahru menghadapi krisis air akibat konsumsi besar fasilitas data center. Dalam kondisi itu, Indonesia justru berada pada posisi yang unik.
“Indonesia ini salah satu region yang paling kaya dengan renewable energy source. Geothermal kita potensinya lebih dari 50 GW. Potensi solar farming dan wind turbine juga sangat besar,” ujar Hendra.
Potensi itu bukan sekadar teori. PLN melalui RUPTL terbaru sudah menempatkan 76 persen rencana pengembangan energi dari sumber EBT.
Fenomena itu adalah sinyal kuat bahwa Indonesia mulai menggeser strategi energi ke arah keberlanjutan, sebuah syarat mutlak bagi investor digital global yang berlomba menerapkan standar ESG (Environmental, Social, Governance).
“PLN sudah sangat fokus untuk support industri pusat data tumbuh dengan sustainable,” jelasnya.
Indonesia juga memiliki keunggulan yang jarang dibahas yaitu pasokan air melimpah untuk pendinginan data center. Hendra mencontohkan Johor Bahru baru saja terkena moratorium karena konsumsi air data center terlalu besar dan harus bersaing dengan industri sawit.
Kondisi itu juga terjadi di beberapa kota industri di Asia Tenggara yang tidak mampu memenuhi kebutuhan pendinginan yang masif.
Krisis Talenta Digital
Meski modal energi dan alam melimpah, tantangan terbesar Indonesia justru berada pada kesiapan SDM, khususnya talenta digital tingkat tinggi yang dibutuhkan industri data center dan infrastruktur AI.
“Yang jadi challenge terbesar adalah pool of talent development-nya. Untuk bisa bring up AI Server di sebuah data center itu tidak mudah. Bagaimana integrasi antara server-nya ke sistem CUDA, ke network-nya,” jelas Hendra.
Hendra mengungkapkan ekosistem AI infrastuktur membutuhkan talenta dengan kompetensi:
- Network spine-and-leaf berkecepatan 100–400 Gbps
- Sistem CUDA dan GPU orchestration
- Infrastruktur daya dan pendinginan untuk AI server
- High-availability data infrastructure
- Cloud-native engineering
IDPRO mencatat defisit talenta digital Indonesia mencapai 600.000 per tahun, mengingat kebutuhan SDM untuk DC infra, IT infra, hingga AI infra melonjak drastis.
“Inilah target IDPRO, bagaimana menyediakan SDM tidak hanya untuk data center infra-nya, tapi IT infra sampai AI infra,” tegasnya.
Solusi Kolaborasi Industri
Untuk menutup jurang talenta tersebut, IDPRO mendorong kolaborasi yang lebih erat antara industri digital dan akademisi.
Hendra mencontohkan langkah nyata yang dilakukan perusahaannya Data Garda yang menggandeng Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan Politeknik Negeri Batam.
“Kami membuat kurikulum bersama dan menyediakan on the job training. Mahasiswa langsung diceburkan ke industri data center. Jadi mereka paham apa yang dibutuhkan secara engineering,” ungkapnya.
Pendekatan ini menurutnya lebih efektif karena:
- Kampus memahami kebutuhan riil industri
- Mahasiswa tidak hanya belajar teori, tetapi praktik langsung
- Industri dapat melakukan talent scouting lebih cepat
- Waktu adaptasi dan biaya training pascakelulusan menjadi lebih rendah
IDPRO juga mendorong sertifikasi nasional, skill mapping, hingga program percepatan talenta untuk area-area kritis seperti cooling engineering, high-density power distribution, cloud orchestration, dan AI workload optimization.
Regulasi yang Rumit
Selain talenta, Hendra menyoroti masalah klasik yang membuat investor ragu yaitu regulasi dan Ease of Doing Business. Ia menyebutkan beberapa isu:
1. Perizinan pendirian data center yang berbeda antar daerah
2. Proses perizinan listrik dan air yang tidak seragam
3. Ketidakpastian mengenai zonasi industri data center
4. Koordinasi antar kementerian yang tidak terintegrasi
Hendra mengatakan Indonesia membutuhkan regulatory framework yang lebih ramah serta model “one-stop service” untuk investasi infrastruktur digital, agar tidak kalah cepat dari Singapura, Malaysia, dan Vietnam.
“Banyak hambatan di lapangan yang harus kita selesaikan. Jika proses ini dipermudah, investor global akan lebih cepat masuk,” ujarnya.
Mimpi Besar 2030
Dengan modal alam yang besar, lokasi geografis strategis, dan pertumbuhan pengguna internet yang masif, Indonesia memiliki blueprint yang kuat untuk menjadi Digital Hub Asia. IDPRO sendiri telah mematok target yang ambisius:
- 2,7 GW kapasitas data center pada tahun 2030
- Indonesia menjadi Digital Hub Asia Tenggara dalam 5 tahun
- Menjadi Digital Hub Asia Pasifik dalam 10 tahun
- Kontribusi ekonomi digital menembus 8% PDB nasional
“Kita punya renewable energy source paling besar, kita punya submarine cable landing yang besar, dan jumlah penduduk yang besar. Semoga mimpi-mimpi besar itu bisa kita wujudkan bersama,” tutup Hendra.


