Kini Pimpinan Bisa Tahu Seberapa Rajin Karyawan Pakai AI Microsoft Copilot

kini Microsoft mengizinkan manajer untuk melihat seberapa aktif karyawan menggunakan Copilot, asisten AI utama di ekosistem Microsoft 365

Microsoft kembali memantik perdebatan klasik soal privasi di dunia kerja. Lewat fitur terbaru Copilot Benchmarks, kini Microsoft mengizinkan manajer untuk melihat seberapa aktif karyawan menggunakan Copilot, asisten AI utama di ekosistem Microsoft 365.

Fitur itu menjadi bagian dari platform Viva Insights, sistem analitik perilaku kerja yang digunakan perusahaan untuk memahami pola kolaborasi, beban kerja, dan kesejahteraan karyawan. Caranya dengan membaca pola rapat, email, serta aktivitas karyawan dalam mengerjakan dokumen bersama.

Dan kini, Viva Insights juga digunakan untuk mengukur seberapa jauh AI sudah benar-benar diadopsi oleh karyawan.

Cara Kerja Viva Insights

Copilot Benchmarks menawarkan dua jenis analisis utama yaitu internal dan eksternal. Analisis internal memungkinkan perusahaan membandingkan tingkat penggunaan Copilot antar divisi, wilayah, atau jabatan. Sedangkan analisis eksternal memungkinkan perusahaan melihat posisi mereka dibandingkan organisasi lain secara anonim, untuk mengetahui apakah tim mereka tertinggal atau maju dalam adopsi AI.

Di dalam dashboard Viva Insights, manajer bisa melihat beragam metrik, mulai dari persentase pengguna aktif Copilot hingga berapa banyak pengguna yang kembali memakai Copilot secara rutin. Microsoft mendefinisikan pengguna aktif sebagai siapa pun yang melakukan tindakan yang disengaja menggunakan fitur AI di aplikasi seperti Teams, Outlook, Word, Excel, PowerPoint, OneNote, atau Loop.

“Cara ini akan mengidentifikasi tren adopsi dan membuka peluang baru untuk meningkatkan keterlibatan Copilot,” jelas Microsoft dalam pernyataannya, dikutip dari WinBuzzer.

Bayang-Bayang Skandal Lama

Langkah ini langsung mengingatkan publik pada insiden “Productivity Score” pada 2020. Kala itu Microsoft dikritik karena menghadirkan fitur yang bisa melacak aktivitas karyawan secara personal.

Fitur Productivity Score mampu mengetahui seberapa sering karyawan hadir di rapat atau berkolaborasi dalam dokumen.

Kala itu, Microsoft menegaskan fitur itu tidak dimaksudkan untuk memantau individu tetapi membantu manajer memahami efisiensi kolaborasi tim. Namun tetap saja, kritik publik memaksa Microsoft memperbarui sistemnya agar data individu tidak bisa diidentifikasi.

Kini, lewat Copilot Benchmarks, Microsoft berupaya menghindari kesalahan yang sama. Data yang ditampilkan bersifat agregat, bukan personal. Analisis dilakukan dengan “model matematis acak”, dan hasil yang muncul adalah rata-rata berbobot berdasarkan komposisi jabatan di dalam organisasi.

Meski begitu, para analis tetap memperingatkan potensi bias. Dalam konteks budaya kerja modern, angka dan metrik sering kali disalahartikan.

Manajer yang kurang memahami konteks bisa saja menganggap frekuensi penggunaan Copilot sebagai ukuran produktivitas. Hal itu berisiko menimbulkan fenomena “gaming the system” yaitu karyawan berpura-pura aktif menggunakan AI agar tampak produktif di dashboard perusahaan. Padahal, tidak semua pekerjaan membutuhkan interaksi dengan Copilot setiap hari.

Ironisnya, dalam skenario seperti itu, AI justru menciptakan tekanan kerja baru. Karyawan bukan lagi hanya dituntut menyelesaikan pekerjaan, tapi juga tampak “AI-ready” di mata atasan. Alih-alih membuat hidup lebih mudah, AI berpotensi memperkuat budaya pengawasan digital yang justru membuat stres.

Microsoft bukan satu-satunya yang bereksperimen dengan metrik adopsi AI. Google, Salesforce, dan Slack kini juga meluncurkan dashboard AI usage metrics untuk membantu perusahaan mengukur dampak teknologi AI terhadap produktivitas.

Menarik untuk melihat dampak dari langkah ini. Apakah akan memacu produktivitas karyawan atau justru menjadi metriks yang tidak relevan dengan operasional bisnis.

Baca Juga

Fintech Kuasai Agentic AI, Bank Terancam Tertinggal

Menurut laporan terbaru McKinsey & Co, fintech kini menjadi pemain paling agresif dalam mengadopsi teknologi AI khususnya agentic AI. Sedangkan, banyak bank tradisional masih terseret proses internal yang panjang dan keterbatasan teknologi lama.