Perkembangan kecerdasan buatan (AI) melaju lebih cepat dari teknologi apa pun sebelumnya. Namun di balik ledakan pemakaian itu, kesenjangan global antara mereka yang bisa mengakses AI dan yang masih kekurangan infrastruktur digital justru semakin lebar.
Temuan tersebut disampaikan dalam laporan terbaru Microsoft AI Economy Institute bertajuk “AI Diffusion Report: Where AI Is Most Used, Developed and Built.”
Adopsi AI Meledak, Tapi Tidak Merata
Dalam tiga tahun terakhir, Microsoft mencatat 1,2 miliar orang di seluruh dunia telah menggunakan alat AI seperti ChatGPT, Copilot, Claude, dan Gemini.
Sebaliknya, 4 miliar orang masih belum memiliki fondasi digital dasar untuk mengakses teknologi yang sama.
Kesenjangan paling mencolok terlihat antara negara-negara maju dan berkembang. Tingkat adopsi AI di negara maju mencapai 23 persen dan di negara berkembang hanya 13 persen. Jurang itu semakin tajam pada negara dengan pendapatan per kapita di bawah USD20.000.
Uni Emirat Arab memimpin dengan 59,4 persen penduduk usia kerja yang telah menggunakan AI, diikuti Singapura dengan 58,6 persen. Namun di banyak negara Afrika Sub-Sahara dan Asia Selatan, tingkat adopsi AI bahkan sulit menembus 10 persen.
“Kami berupaya memperkecil kesenjangan digital dan memperluas akses AI di seluruh dunia,” ujar CEO Microsoft Satya Nadella seperti dikutip AI Magazine.
Fondasi yang Masih Rapuh
Microsoft menegaskan ada lima fondasi utama yang menentukan kemampuan suatu negara mengadopsi AI yaitu listrik, data center, internet, keterampilan digital, dan dukungan bahasa.
Dari 8 miliar penduduk dunia, sekitar 4 miliar belum memiliki satu atau lebih dari fondasi tersebut. Bahkan 750 juta orang masih hidup tanpa akses listrik sama sekali.
Sementara itu, bahasa menjadi salah satu penghambat terbesar adopsi AI. Sebanyak, 50 persen konten internet berbahasa Inggris. Padahal, penutur bahasa Inggris hanya 5 persen populasi dunia.
Siapa Penguasa AI Dunia?
Di tengah gegap gempita perkembangan AI global, hanya tujuh negara yang saat ini menguasai model AI terbaik versi Microsoft: Amerika Serikat, China, Prancis, Korea Selatan, Inggris, Kanada, dan Israel.
AS masih berada di depan melalui GPT-5 dari OpenAI, diikuti China lewat DeepSeek V3.1. Model dari AI21 Labs (Israel) tertinggal 11,6 bulan dari frontier, yang menunjukkan jarak antarpemain utama kini jauh lebih tipis dibanding revolusi teknologi sebelumnya.
Selain itu, 86 persen kapasitas data center dunia terkonsentrasi hanya di AS dan China. Hal itu adalah faktor penting karena jarak fisik ke pusat data memengaruhi kecepatan dan kualitas layanan AI.
Laporan Microsoft tersebut memberikan gambaran tegas bahwa AI memang telah mendunia, tetapi aksesnya belum demokratis.
Tanpa intervensi nyata, teknologi yang seharusnya memperkecil ketimpangan justru berisiko memperlebar jurang ekonomi dan sosial antarnegara.
Pemerintah, lembaga internasional, dan sektor swasta dinilai perlu mempercepat investasi pada infrastruktur digital, pendidikan teknologi, serta pengembangan AI yang mendukung keragaman bahasa.
Tanpa langkah terkoordinasi, miliaran orang bisa tetap tertinggal saat ekonomi global bergerak menuju era yang semakin otomatis dan berbasis data.
Microsoft menekankan bahwa pemerataan akses bukan semata persoalan teknologi, melainkan juga investasi jangka panjang pada konektivitas, literasi digital, dan kebijakan publik.
Jika negara-negara berkembang gagal mengejar ketertinggalan tersebut, mereka bukan hanya kehilangan peluang ekonomi, tetapi juga kedaulatan teknologi di masa mendatang.
Dengan 1,2 miliar orang sudah menikmati manfaatnya dan 4 miliar lainnya masih terhambat infrastruktur, dunia berada di titik kritis. Apakah AI akan menjadi alat pemerataan, atau justru alat yang memperdalam ketidaksetaraan global. Jawabannya bergantung pada keputusan investasi dan kebijakan hari ini.


