Industri asuransi global kini berada di persimpangan jalan dalam mengadopsi kecerdasan buatan (AI). Meski gelontoran dana investasi terus mengalir deras, realitas di lapangan menunjukkan hasil yang kontradiktif.
Laporan terbaru dari platform agentic AI Simplifai mengungkapkan kenyataan pahit bahwa mayoritas perusahaan asuransi masih tertatih-tatih dalam merealisasikan keuntungan nyata (Return on Investment/ROI) dari investasi besar tersebut.
Laporan yang merangkum data dari firma konsultan raksasa seperti McKinsey, EY, hingga Deloitte itu menyoroti fenomena kegagalan massal. Ambisi besar memangkas biaya dan meningkatkan efisiensi proses sering kali kandas di tengah jalan, meninggalkan proyek-proyek besar tanpa hasil yang terukur.
Investasi Fantastis, Strategi Miris
Data menunjukkan bahwa sektor asuransi tidak main-main dalam urusan pendanaan. Lebih dari 80 persen perusahaan asuransi mengalokasikan setidaknya 5 juta dolar AS per tahun untuk pengembangan AI. Bahkan, 14 persen di antaranya berani menggelontorkan dana fantastis hingga lebih dari 50 juta dolar AS.
Namun, besarnya anggaran tidak serta-merta berbanding lurus dengan hasil. Tim keuangan di banyak perusahaan dilaporkan gagal menautkan pengeluaran tersebut dengan imbal hasil yang konkret. Akibatnya, banyak proyek AI “layu sebelum berkembang” dan terjebak selamanya dalam fase uji coba (pilot phase).
CEO Simplifai, Artem Gonchakov, menekankan bahwa masalah utama terletak pada perbedaan mendasar antara sekadar memiliki proyek (hanya mencoba-coba) dan memiliki strategi (rencana jangka panjang).
“Hampir semua perusahaan asuransi memiliki proyek AI. Namun, hanya sedikit yang memiliki strategi AI. Perbedaan itulah yang menentukan apakah AI hanya akan menghasilkan keuntungan produktivitas yang terpencar atau sebuah keunggulan kompetitif,” tulis Gonchakov.
Hambatan Operasional dan Inkonsistensi ROI
Mengukur imbal hasil AI memang menjadi tantangan global di berbagai sektor. Namun di industri asuransi, tantangannya jauh lebih spesifik.
Lingkungan hukum yang kaku dan ketergantungan pada sistem teknologi lama (legacy platforms) yang kompleks menjadi penghalang utama bagi AI untuk masuk ke tahap produksi yang transformatif.
Kebingungan itu diperparah oleh ketidaksamaan definisi ROI antara jajaran eksekutif (C-suite) dan tenaga teknis. Laporan Industrial Technology Index 2026 dari TE Connectivity mencatat hanya 19 persen eksekutif yang memiliki keyakinan penuh mengenai efektivitas ROI dari investasi AI mereka.
Hingga saat ini, implementasi AI di asuransi masih sangat terbatas dan cenderung bersifat permukaan. Kurang dari separuh perusahaan yang menerapkan AI dalam satu fungsi tunggal, itu pun sebatas pada penggunaan chatbot layanan pelanggan atau peringkasan dokumen otomatis.
Sebaliknya, otomatisasi alur kerja menyeluruh (end-to-end) pada proses krusial seperti penjaminan emisi (underwriting) atau klaim justru jarang disentuh.
“Polanya konsisten di seluruh perusahaan asuransi. Banyak proyek percontohan, produksi terbatas, dan dampak minimal terhadap laporan laba rugi (P&L),” tulis laporan tersebut.
Harapan Baru pada Agentic AI
Di tengah mandeknya fase pilot, muncul harapan baru melalui konsep Agentic AI, sistem kecerdasan buatan yang mampu bertindak secara mandiri sebagai agen untuk menyelesaikan tugas tertentu.
Berdasarkan survei PagerDuty, ada lebih dari 60 persen pengambil keputusan TI memprediksi bahwa AI agen akan memberikan ROI lebih dari 100 persen. Bahkan, 45 persen eksekutif percaya dampak Agentic AI akan jauh melampaui AI generatif biasa.
Bukti awal mulai terlihat nyata. Perusahaan asuransi yang sudah mengintegrasikan Agentic AI ke dalam alur kerjanya melaporkan peningkatan produktivitas antara 30 hingga 40 persen dalam operasional klaim dan underwriting. Kunci keberhasilannya ternyata bukan pada seberapa canggih teknologi yang dibeli, melainkan pada ketepatan implementasinya.
Sederhananya, masalah utama bukanlah pada teknologinya, melainkan cara pakainya. Perusahaan yang sukses adalah mereka yang merancang alur kerja secara matang sejak awal, bukan mereka yang sekadar mengadopsi teknologi canggih tetapi bingung cara mengintegrasikannya ke dalam sistem yang sudah ada.
Dengan tantangan yang semakin nyata, industri asuransi kini dituntut untuk segera beranjak dari sekadar “bereksperimen” menuju strategi integrasi yang mendalam.
Tanpa langkah strategis ini, investasi jutaan dolar yang telah dikucurkan terancam menguap tanpa memberikan dampak ekonomi yang berarti.


