IBM kembali menggebrak. Raksasa teknologi yang akrab dengan julukan Big Blue itu berencana akuisisi Confluent senilai USD11 miliar atau Rp183 triliun.
Langkah itu menandakan strategi agresif IBM untuk memperkuat bisnis cloud dan AI di tengah ledakan permintaan teknologi kecerdasan buatan di berbagai sektor.
Di bawah kepemimpinan CEO Arvind Krishna, IBM memang sedang tancap gas masuk ke bisnis software dan cloud yang margin-nya lebih tinggi.
Banyak perusahaan kini berlomba memperbarui fondasi digital untuk menjalankan aplikasi AI yang makin kompleks dan Confluent ada tepat di jantung kebutuhan tersebut.
Confluent yang berbasis di Mountain View, California memang sangat terkenal dengan teknologi pengelolaan aliran data secara real-time.
Confluent memiliki kemampuan yang sangat krusial untuk menggerakkan model AI generatif hingga agentic AI di skala enterprise.
“IBM dan Confluent akan memungkinkan perusahaan menerapkan AI generatif dan agentic lebih baik dan lebih cepat,” ujar Krishna dalam pernyataan resmi.
“Dengan akuisisi ini, IBM akan menghadirkan smart data platform yang dirancang khusus untuk AI,” lanjutnya seperti dikutip Tech Crunch dan Reuters.
Dari Pembicaraan Musim Panas ke Kesepakatan Besar
Diskusi awal kedua perusahaan sudah dimulai sejak musim panas tahun ini. Setelah IBM menyatakan ketertarikan, Confluent membuka proses lelang formal tetapi akhirnya IBM keluar sebagai pemenang.
Sebagai bagian dari kesepakatan, CEO sekaligus co-founder Confluent Jay Kreps akan bergabung ke divisi IBM Software dan langsung melapor ke Rob Thomas, eksekutif senior IBM.
IBM menawarkan USD31 per saham atau sekitar 34 persen lebih tinggi dari harga penutupan terakhir Confluent. Saham Confluent pun meroket hampir 30 persen setelah pengumuman.
Sedangkan, saham IBM ikut naik tipis. Jika ditarik mundur sejak 7 Oktober, harga saham Confluent telah naik 44 persen setelah rumor penjualan mulai beredar.
Analis menilai akuisisi ini bukan sekadar beli perusahaan, tetapi membeli sumber data untuk AI. “IBM membeli data firehose untuk menyokong hype AI,” komentar Michael Ashley Schulman (CIO Running Point Capital).
“Dengan pembelian ini, IBM memperkuat recurring revenue dan cengkeramannya pada enterprise besar,” ujarnya.
Mengokohkan Peran IBM di Ekosistem AI
Dengan Confluent masuk ke keluarga IBM, IBM memperluas lini produk data dan otomatisasi, area yang semakin strategis ketika AI berkembang pesat.
IBM memperkirakan transaksi ini akan memberi kontribusi positif pada EBITDA dan free cash flow dalam dua tahun pasca akuisisi rampung.
Kesepakatan ini juga menjadi akuisisi terbesar IBM dalam beberapa tahun terakhir, menyusul pembelian HashiCorp pada 2024. Di tahun yang sama IBM makin rajin belanja teknologi AI.
IBM bekerja sama dengan Anthropic untuk membawa model Claude ke produk IBM. IBM menggandeng AMD membangun arsitektur komputasi baru berbasis AI dan sistem kuantum. Terakhir, IBM mengakuisisi startup analitik Seek AI.
Dengan Confluent duduk di atas tumpukan data streaming real-time, IBM kini memiliki amunisi kuat untuk menyasar klien enterprise yang ingin memacu perjalanan AI mereka.
Smart Data di Inti Transformasi Enterprise
AI butuh data yang banyak dan cepat. Itulah titik di mana IBM berharap Confluent akan menjadi kunci permainan.
Integrasi keduanya berpotensi menghadirkan platform data terpadu bagi perusahaan untuk membangun AI generatif dan agentic AI.
Solusi ini juga membuka jalan untuk otomatisasi layanan IT dan pengembangan aplikasi enterprise modern yang serba real-time.
Kini pasar menunggu langkah selanjutnya, bagaimana IBM mengeksekusi sinergi besar ini, dan apakah investasi USD183 triliun itu akan memperkuat posisi Big Blue sebagai salah satu pemain utama AI enterprise global.
Yang jelas, peta persaingan cloud dan AI semakin panas. IBM baru saja menambah bensin ke dalam apinya.


