Gelombang Baru PHK, 3 dari 10 Perusahaan Siap Ganti Pekerja dengan AI Tahun Depan

Ilustrasi AI menggantikan pekerjaan manusia

Tekanan otomatisasi makin nyata. Sebuah survei terbaru yang dirilis AIResumeBuilder.com mengungkapkan tiga dari sepuluh perusahaan berencana menggantikan sebagian tenaga kerjanya dengan kecerdasan buatan (AI) pada tahun depan. Sektor yang paling berpotensi terdampak meliputi IT, layanan keuangan, dan akuntansi.

Di antara para pemimpin bisnis yang mengantisipasi PHK tersebut, 59 persen menyebut AI akan menggantikan setidaknya 10 persen karyawan mereka, sementara 10 persen lainnya memperkirakan lebih dari separuh tenaga kerja perusahaan bakal terdampak otomatisasi.

AI itu Ancaman atau Peluang?

Rachel Serwetz (Career Advisor di AIResumeBuilder.com) mengatakan perusahaan seharusnya melihat implementasi AI sebagai peluang strategis, bukan ancaman semata.

“Pemimpin harus memikirkan bagaimana manusia tetap bisa berperan strategis tanpa harus digantikan AI. AI seharusnya mengotomatisasi pekerjaan monoton supaya tim bisa fokus pada tugas bernilai tinggi dan proyek baru,” ujarnya seperti dikutip CIO Dive.

Serwetz menilai bahwa otomatisasi yang dikelola dengan benar justru bisa membuka ruang ekspansi bisnis.

PHK Melonjak, AI Jadi Penyebab Kedua Terbesar

Tekanan pasar tenaga kerja juga terasa jelas di Amerika Serikat (AS). Firma outplacement Challenger, Gray & Christmas mencatat 153.074 PHK diumumkan pada Oktober 2025, melonjak 175 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Alasan terbesar PHK adalah penghematan biaya, yang menyumbang 50.437 pemutusan hubungan kerja. Namun yang mencuri perhatian, AI menjadi penyebab kedua terbesar dengan 31.039 PHK, menjadikan total 48.414 pekerjaan hilang sepanjang tahun akibat otomatisasi.

Belum Siap Mengadopsi AI Secara Penuh

Meski gelombang penggunaan AI semakin kuat, banyak pemimpin keuangan mengaku belum sepenuhnya siap. Studi yang dirilis Egon Zehnder pada September lalu menunjukkan para CFO masih berada di tahap awal pemanfaatan teknologi ini.

Arun Dhingra, Global Head CFO & Audit Chair Practice di Egon Zehnder, menegaskan bahwa adopsi AI membutuhkan proses bertahap.

“CFO paham betul potensi AI, tapi mereka juga tahu bahwa implementasinya membutuhkan waktu,” katanya seperti dikutip CIO Dive.

“Kami melihat pendekatan adopsi AI seharusnya bertahap, mulai dari meningkatkan literasi hingga kemampuan tim agar AI dapat memperkuat keahlian manusia, bukan menggantikannya,” ujarnya.

Meski demikian, sekitar 20 persen CFO yang disurvei mengakui bahwa mereka telah menghapus sejumlah peran akibat implementasi AI. Penghapusan paling banyak terjadi di akuntansi (88 persen), diikuti FP&A (38 persen) dan treasury (33 persen).

Sektor-Sektor yang Paling Terancam

Laporan AIResumeBuilder.com memetakan beberapa industri yang diprediksi paling berpotensi mengalami PHK berbasis AI pada 2026, yaitu:

  1. Informasi dan teknologi
  2. Perangkat lunak komputer
  3. Layanan keuangan
  4. Akuntansi
  5. Human resources
  6. Manufaktur
  7. Ritel

Jenis pekerjaan yang dinilai paling rentan otomatisasi mencakup:

  1. Customer service
  2. Pekerjaan administratif atau clerical
  3. IT & technical support

Menuju Masa Depan Kerja yang Terus Berubah

Meski angka PHK mencemaskan, tren itu juga menunjukkan bahwa industri tengah berada dalam fase transformasi besar.

Banyak pemimpin bisnis kini merumuskan ulang peran dan struktur kerja agar tim dapat fokus pada tugas yang lebih strategis, kreatif, dan analitis.

Satu hal pasti, gelombang otomatisasi berada tepat di depan mata. Baik perusahaan maupun pekerja harus beradaptasi lebih cepat dari sebelumnya untuk bertahan di era digital yang berubah sangat dinamis.

Baca Juga

Fintech Kuasai Agentic AI, Bank Terancam Tertinggal

Menurut laporan terbaru McKinsey & Co, fintech kini menjadi pemain paling agresif dalam mengadopsi teknologi AI khususnya agentic AI. Sedangkan, banyak bank tradisional masih terseret proses internal yang panjang dan keterbatasan teknologi lama.