Gelombang baru kecerdasan buatan (AI) sedang mengguncang industri keuangan global. Namun di tengah euforia itu, bank-bank tradisional justru terlihat kedodoran.
Menurut laporan terbaru McKinsey & Co, fintech kini menjadi pemain paling agresif dalam mengadopsi teknologi AI khususnya agentic AI. Sedangkan, banyak bank tradisional masih terseret proses internal yang panjang dan keterbatasan teknologi lama.
Laporan berbasis data dari 4.000 fintech global itu mencatat bahwa kini fintech memimpin hampir 70 persen dari seluruh inisiatif AI di dunia.
Angka itu mempertegas bagaimana inovasi di sektor keuangan digital bergerak lebih cepat di luar lingkup perbankan tradisional.
“Bank menghadapi kompleksitas regulasi, tumpukan teknologi yang terfragmentasi, serta inersia organisasi,” tulis McKinsey seperti dikutip Asian Banking & Finance.
Fintech Melaju Kencang, Bank Masih Terjebak Mode Percobaan
Fintech sudah memanfaatkan AI untuk memperkuat analitik, trading, hingga manajemen portofolio secara menyeluruh.
Sementara itu, banyak bank masih berada di fase pilot menguji konsep tetapi kesulitan membawa proyek AI tersebut ke tahap operasional yang sesungguhnya.
Padahal, pertumbuhan tercepat di sektor perbankan justru datang dari aplikasi agentic AI yang mampu langsung mendorong pendapatan. Contohnya adalah platform multi-aset berberbasis AI dan alat pengambilan keputusan prediktif tingkat lanjut.
Salah satu pengecualian adalah SMBC. Raksasa perbankan Jepang itu membangun startup di Singapura untuk menguji layanan dan aplikasi agentic AI tanpa harus melewati jalur birokrasi yang rumit dari kantor pusat. Langkah itu memungkinkan proses eksperimen berjalan lebih cepat dan fleksibel.
Bank Masih Fokus pada Fungsi Aman
Menurut McKinsey, banyak inisiatif AI di bank tradisional masih berkutat pada aplikasi yang relatif aman dan terbatas seperti otomatisasi treasury, chatbot perbankan dan personalisasi layanan nasabah.
Meski membantu efisiensi, pendekatan itu dinilai rawan menjadi komoditas dan tidak memberikan keunggulan kompetitif yang signifikan.
Beberapa bank Asia Tenggara mulai bergerak lebih agresif. Bank DBS merilis asisten generative AI untuk klien korporat yang menghadirkan dukungan 24/7 untuk berbagai kebutuhan perbankan. Bank OCBC pun meluncurkan layanan penasihat saham berbasis AI yang dilatih dengan data 4.000 saham.
Namun, menurut McKinsey, langkah-langkah tersebut masih jauh dari skala dan kecepatan inovasi di dunia fintech.
Fintech Paling Agresif Eksplorasi Agentic AI
Di sektor fintech, pemanfaatan agentic AI sudah menyentuh berbagai lini, mulai dari analitik hingga pengalaman konsumen.
McKinsey mencontohkan platform trading global berbasis AI yang memungkinkan pengambilan keputusan algoritmik real-time untuk memaksimalkan hasil perdagangan.
Contoh lainnya, Ant International mengintegrasikan travel companion agentic AI dalam Alipay+ Voyager. Solusi itu membantu wisatawan merencanakan rencana perjalanan, memesan layanan, hingga melakukan pembelian langsung di merchant.
Stripe sedang mengeksplorasi penggunaan agentic AI untuk mendesain ulang seluruh alur pembayaran mulai dari pengalaman belanja digital hingga proses checkout.
Langkah-langkah itu menunjukkan keberanian fintech dalam menempatkan AI sebagai inti layanan, bukan sekadar pelengkap.
Ke Mana Arah Industri?
Jika tren itu terus berlanjut, fintech berpotensi semakin mengikis dominasi bank dalam inovasi digital. Namun peluang kebangkitan tetap terbuka bagi bank tradisional.
Agentic AI bisa mengembalikan relevansi bank jika mereka berani keluar dari zona aman dan memperbarui fondasi teknologi yang tertinggal.
Pertanyaannya tinggal satu, beranikah bank bergerak secepat fintech?.


