Saat ini muncul fenomena baru penggunaan Shadow AI oleh para karyawan perusahaan untuk meningkatkan kinerja dan produktivitas. Hal itu terungkap dalam studi terbaru MIT Project NANDA berjudul State of AI in Business 2025.
Laporan itu mengungkapkan, lebih dari 90% karyawan di berbagai perusahaan menggunakan akun chatbot pribadi seperti ChatGPT, Claude, hingga Copilot untuk menyelesaikan tugas sehari-hari. Uniknya, mayoritas aktivitas itu dilakukan tanpa sepengetahuan tim IT maupun pimpinan perusahaan. Padahal, hanya 40% perusahaan yang berlangganan resmi model bahasa besar (LLM).
MIT menyebut fenomena itu sebagai “GenAI Divide” atau jurang GenAI. Meski investasi global untuk AI generatif mencapai US$30–40 miliar, tetapi hanya sekitar 5% organisasi yang memperoleh hasil transformatif. Sisanya, 95% perusahaan mengaku tidak mendapat dampak nyata dari proyek AI mereka.
Sebaliknya, adopsi AI justru merajalela lewat jalur tidak resmi atau ‘Shadow AI’. Karyawan malas menunggu proyek AI resmi perusahaan karena lamban dan penuh birokrasi. “Shadow AI ini berkembang lebih cepat karena fleksibilitas dan manfaat instan yang ditawarkan,” tulis laporan MIT seperti dikutip Fortune.
Apa Itu Shadow AI?
Secara prinsip, Shadow AI adalah penggunaan tools AI atau GenAI publik (seperti ChatGPT, Claude, atau Copilot) tanpa sepengetahuan perusahaan. Fenomena “bayangan” ini memang bukan hal yang baru, karena sebelumnya sudah dikenal istilah shadow IT (penggunaan tools digital yang tidak diketahui perusahaan). Namun Shadow AI berpotensi menjadi masalah serius mengingat potensi privacy dan security yang muncul dari penggunaan tools AI tersebut.
Karena itulah, beberapa perusahaan memilih mengembangkan model GenAI sendiri. Akan tetapi, analisis MIT menemukan tiga alasan utama mengapa karyawan lebih memilih shadow AI ini, seperti:
- memberikan fleksibilitas, sangat mudah digunakan, adaptif, dan langsung memberi nilai tambah.
- lebih sesuai kebutuhan kerja dan tidak harus menunggu persetujuan atau integrasi sistem yang rumit.
- mudah diakses sehingga siapa pun bisa bereksperimen dengan cepat.
Sebaliknya, proyek AI resmi perusahaan sering tersendat karena integrasi kompleks, antarmuka yang kaku, serta keterbatasan memori sistem. Hal ini menciptakan jurang besar antara proyek uji coba dan implementasi nyata. Fenomena shadow AI juga menciptakan efek psikologis di tempat kerja. Semakin pekerja terbiasa dengan AI pribadi yang luwes, semakin mereka enggan kembali menggunakan alat resmi perusahaan yang statis.
Studi MIT ini juga menemukan beberapa fakta menarik seputar penggunaan tools GenAI oleh karyawan, yaitu:
- 90% pekerja masih lebih percaya pada manusia untuk pekerjaan bersifat kritis. Namun AI telah dianggap memadai untuk tugas sederhana
- 70% persen responden lebih memilih AI untuk menulis email.
- 65% persen memilih AI untuk analisis dasar.
Dengan kata lain, chatbot pribadi kini menjadi asisten sehari-hari yang praktis, sementara perkembangan proyek AI resmi perusahaan seperti jalan di tempat


